“We're not words, Henry, we're people.Words are how others define us, but we can define ourselves any way we choose.” -- Shaun David Hutchinson, We Are the Ants
Di siang yang begitu terik, sepulang dari forum akademik yang membedah data dan angka tentang perilaku lingkungan di Fakultas Kedokteran Univeristas Brawijaya, saya menyempatkan diri singgah di Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang.
Begitu naik ke lantai 2, perhatian saya langsung tertuju pada novel terbaru yang ditata rapi dekat tangga, yaitu sebuah judul novel yang terasa ganjil sekaligus mengusik, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna (Grasindo, 2025).
Buku itu berderet di meja “rilis terbaru” di Gramedia Basuki Rahmat, namun daya tariknya seolah melampaui rak toko. Ia mengajukan satu pertanyaan sunyi - seberapa sederhana alasan seseorang untuk tetap hidup?
Novel ini mengisahkan Ale, pria 37 tahun dengan tubuh bongsor dan hidup yang terasa semakin menyempit oleh kesepian. Sejak kecil, ia akrab dengan penolakan, seperti ejekan tentang bau badan, jarak dari keluarga, hingga pengucilan di tempat kerja.
Dalam bahasa kesehatan mental, Ale adalah potret dari luka sosial yang tidak pernah benar-benar sembuh. Ia bukan hanya korban perundungan, tetapi juga korban dari akumulasi makna negatif yang terus-menerus ditempelkan pada dirinya.
Dalam kerangka Ken Rigby melalui kajiannya tentang bullying [
1Rigby, K. (2022). Theoretical Perspectives and Two Explanatory Models of School Bullying. International Journal of Bullying Prevention, 6(2), 101–109. https://doi.org/10.1007/s42380-022-00141-x
], pengalaman Ale menunjukkan bagaimana perundungan bekerja sebagai proses sosial yang berulang dan timpang. Ia tidak sekadar disakiti, tetapi perlahan diyakinkan bahwa dirinya memang “layak” disakiti. Dari sinilah tumbuh apa yang disebut sebagai learned helplessness, suatu ketidakberdayaan yang dipelajari. Ale kehilangan rasa memiliki atas hidupnya sendiri. Bahkan ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hidup, keputusan itu terasa dingin, mekanis, seperti prosedur yang harus diselesaikan.
![]() |
| Novel terbaru karya Brian Khrisna dipajang di Tb Gramedia Basuki Rahmat, Malang |
Namun, di titik paling gelap itu, sesuatu yang remeh justru menjadi celah cahaya.
Sebuah label kecil pada botol obat: “konsumsi sesudah makan.”
Kalimat instruksional yang biasanya diabaikan itu tiba-tiba menjadi interupsi terhadap niat kematian. Ale, yang merasa tidak pernah benar-benar memilih apa pun dalam hidupnya, memutuskan satu hal kecil yang sepenuhnya miliknya, yaitu ingin makan seporsi mie ayam sebelum mati.
Di sinilah novel ini berbicara dengan sangat kuat dalam perspektif kesehatan mental. Harapan tidak selalu datang dalam bentuk besar dan heroik. Kadang, ia hadir sebagai keputusan sederhana yang tampak sepele, yakni makan sebelum mati.
Ironisnya, bahkan rencana kecil itu pun gagal. Warung mie ayam tutup.
Namun justru dari kegagalan inilah cerita bergerak. Penundaan yang tampak remeh membuka ruang bagi pertemuan-pertemuan tak terduga, dengan Pram, anak penjual mie ayam, dengan situasi berbahaya yang menyeretnya ke dalam pusaran kriminalitas, bahkan hingga pengalaman di penjara. Tempat-tempat yang secara sosial dilabeli “tidak manusiawi” justru menjadi ruang di mana Ale mulai kembali merasakan kemanusiaan.
Dalam kacamata Rigby, ini adalah titik penting. Lingkungan sosial memang bisa menjadi sumber luka, tetapi juga bisa menjadi faktor protektif. Relasi baru - betapapun tidak ideal - dapat merekonstruksi makna hidup seseorang. Ale, yang sepanjang hidupnya dipaksa menerima definisi orang lain tentang dirinya, perlahan menemukan kemungkinan untuk mendefinisikan dirinya sendiri.
Novel ini menghadirkan paradoks yang menarik. Pemulihan tidak selalu lahir dari lingkungan yang sempurna. Kadang, ia justru muncul dari retakan, dari situasi yang tidak kita pilih, dari orang-orang yang tidak kita rencanakan untuk temui. Di sanalah empati tumbuh tanpa pretensi, dan makna hadir tanpa dipaksakan.
Lebih jauh, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berbicara tentang validasi emosi. Kesedihan Ale tidak pernah dikecilkan, tidak dihapus, dan tidak diberi solusi instan. Ia dibiarkan ada, dan justru dari pengakuan itulah muncul ruang untuk perubahan.
Ini sejalan dengan pendekatan modern dalam kesehatan mental, bahwa harapan tidak harus megah. Ia bisa berupa percakapan singkat, tatapan yang tulus, atau bahkan semangkuk mie ayam yang tertunda.
Pada akhirnya, perjalanan Ale bukan sekadar tentang bertahan hidup, tetapi tentang menemukan kembali agensi - kemampuan untuk memilih, sekecil apa pun itu. Dari keputusan sederhana itulah hidup perlahan terasa “miliknya” kembali.
Sebagaimana ditulis oleh Shaun David Hutchinson, seorang penulis Amerika, dalam We Are the Ants (2016):
“Kita bukanlah sekadar kata-kata, Henry, kita adalah manusia. Kata-kata adalah cara orang lain mendefinisikan kita, tetapi kita dapat mendefinisikan diri kita sendiri dengan cara apa pun yang kita pilih.”
Dan mungkin, di situlah inti dari kisah Ale, bahwa di tengah dunia yang terus memberi label, manusia tetap memiliki ruang - meski kecil - untuk memilih maknanya sendiri. Bahkan jika itu dimulai dari satu hal paling sederhana, yaitu keinginan untuk makan sebelum menyerah. *** [060526]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar