"Photographs open doors into the past, but they also alloq a look into the future." -- Sally Mann
Menjelang perhelatan Reuni FISIP UNS dan kesempatan untuk kembali bersua dengan para Alumni Sosiologi Angkatan 1987 (ASA'87), sebuah foto lama tiba-tiba muncul dari tumpukan arsip yang nyaris terlupakan. Foto itu bukan sekadar gambar yang membekukan waktu, melainkan jendela yang mengantar ingatan melompat puluhan tahun ke belakang.
Dalam foto yang masih tampak bersih dan jelas meski telah berusia 36 tahun itu, sejumlah dosen dan mahasiswa Sosiologi Angkatan 1987 berpose bersama di depan rumah Mbah Dongkol, sebutan untuk Kepala Desa lama. Momen tersebut diabadikan saat mereka hendak berpamitan setelah menjalani Kuliah Kerja Sosiologi Pedesaan (KKSP) di Desa Klopoduwur, Blora, pada 23–26 Februari 1990.
Selembar foto itu seakan menghidupkan kembali suasana pedesaan yang begitu berbeda dengan hari ini. Kala itu belum ada laptop, belum ada telepon genggam, bahkan kamera masih menjadi barang mewah yang umumnya hanya dimiliki para dosen. Dokumentasi lapangan bukan sesuatu yang bisa dilakukan setiap saat. Karena itulah, setiap foto memiliki nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar kenangan.
![]() |
| Kuliah Kerja Sosiologi Pedesaan (KKSP) di Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora (23-26 Februari 1990) |
Belajar Sosiologi Langsung dari Kehidupan
KKSP merupakan salah satu mata kuliah lapangan yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dengan realitas sosial yang sesungguhnya. Jika di ruang kuliah teori-teori tentang struktur sosial, ekonomi, budaya, dan perubahan masyarakat dipelajari melalui buku dan diskusi, maka di lapangan teori-teori itu diuji langsung melalui interaksi dengan masyarakat.
Bagi mahasiswa Sosiologi, pengalaman semacam ini menjadi laboratorium sosial yang hidup. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga belajar memahami bagaimana masyarakat membangun relasi, mempertahankan tradisi, dan merespons perubahan zaman.
Lokasi KKSP saat itu berada di Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, sekitar delapan kilometer di sebelah selatan pusat pemerintahan kabupaten. Desa tersebut dikenal luas sebagai salah satu kantong komunitas Samin atau Sedulur Sikep, kelompok masyarakat yang hingga kini dikenal menjaga nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kearifan budaya warisan leluhur.
Di tengah hamparan hutan jati yang masih alami, para mahasiswa menjalankan berbagai penelitian sesuai tema yang telah ditentukan dosen pembimbing. Ada yang meneliti usaha ekonomi masyarakat, sistem pemerintahan desa, hingga berbagai aspek kehidupan sosial lainnya.
Misi Sulit Menembus Komunitas Samin
Di antara berbagai topik penelitian yang tersedia, satu tugas yang cukup menantang jatuh pada kajian mengenai persepsi masyarakat Samin terhadap perilaku religiusitas mereka.
Tugas itu tidak mudah. Waktu penelitian hanya dua hari, sementara data yang dibutuhkan bersifat kualitatif dan menuntut kedekatan dengan narasumber. Tantangan semakin besar karena pada masa itu masyarakat Samin dikenal cukup berhati-hati terhadap pendatang, terutama mereka yang berasal dari luar daerah.
Tidak sedikit warga yang memilih menjaga jarak ketika didatangi orang asing. Namun, penelitian lapangan memang mengajarkan bahwa data tidak akan datang sendiri. Ia harus dicari dengan kesabaran, ketekunan, dan kemampuan membangun kepercayaan.
Berbekal kesederhanaan dan pendekatan yang lebih membumi, saya kemudian melepas celaja jeans dan mengenakan sarung kusam, terus menyambangi rumah seorang warga yang berada di pinggiran hutan jati. Pilihan sederhana tersebut ternyata menjadi pintu masuk yang efektif.
Percakapan yang awalnya biasa berkembang menjadi dialog yang hangat. Dari keluarga itulah berbagai informasi penting mulai terungkap, mulai dari karakteristik sosial masyarakat Samin hingga pandangan mereka mengenai ajaran yang dianut. Mereka menyebut keyakinan tersebut sebagai “Agomo Adam.”
Dari pertemuan sederhana di sebuah rumah pedesaan itu, data demi data terkumpul. Catatan lapangan yang semula terasa mustahil diselesaikan dalam waktu singkat akhirnya berhasil dirangkai menjadi sebuah penelitian yang utuh.
Dari Hutan Jati ke Ruang Presentasi
Sekembalinya ke kampus, hasil penelitian tersebut dipresentasikan di kelas. Temuan-temuan yang diperoleh langsung dari lapangan memberikan warna yang berbeda dibandingkan sekadar telaah pustaka.
Kerja keras selama dua hari di Desa Klopoduwur pun berbuah manis. Penelitian mengenai religiusitas masyarakat Samin tersebut memperoleh nilai A dalam mata kuliah Sosiologi Agama.
Namun, pencapaian akademik itu bukanlah warisan terpenting dari pengalaman KKSP. Yang jauh lebih berharga adalah pelajaran tentang bagaimana memahami manusia melalui pendekatan yang empatik, menghargai perbedaan, serta belajar mendengarkan sebelum mengambil kesimpulan.
Awal Perjalanan Panjang
Kini, puluhan tahun setelah kegiatan itu berlalu, foto di depan rumah Mbah Dongkol tidak lagi sekadar menjadi dokumentasi mahasiswa yang sedang menjalani tugas kuliah. Foto tersebut menjadi penanda awal sebuah perjalanan intelektual yang panjang.
Dari pengalaman KKSP itulah tumbuh ketertarikan yang semakin kuat terhadap dunia penelitian. Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat, menggali cerita dari berbagai latar budaya, dan memahami keragaman cara hidup manusia menjadi bekal yang terus terbawa hingga sekarang.
Jejak langkah yang bermula dari Desa Klopoduwur kemudian mengantar pada berbagai perjumpaan dengan komunitas-komunitas dari beragam suku di Indonesia. Semua berawal dari keberanian memasuki sebuah desa di tengah hutan jati, membawa buku catatan, rasa ingin tahu, dan semangat belajar.
Karena pada akhirnya, seperti yang dikatakan fotografer Amerika Sally Mann, foto memang membuka pintu menuju masa lalu. Namun lebih dari itu, foto juga memperlihatkan bagaimana pengalaman-pengalaman kecil di masa muda dapat membentuk arah perjalanan hidup seseorang di masa depan.
Dan di antara lembar-lembar kenangan yang tersimpan selama lebih dari tiga dekade, foto KKSP di Klopoduwur menjadi pengingat bahwa pendidikan terbaik sering kali lahir bukan dari ruang kelas, melainkan dari perjumpaan langsung dengan kehidupan itu sendiri. *** [050626]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar