Senin, Juni 01, 2026

Tamu Mungil di Dinding Kamar Mandi: Mengenal Scalida latiusvittata

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Juni 01, 2026
Malam itu, Jumat (29/05) sekitar pukul 19.19 WIB, suasana di kamar mandi Sekretariat NIHR SMARThealth di Jalan Banurejo, Kelurahan Kepanjen, Kabupaten Malang, tampak seperti biasa. Namun, di salah satu sisi dinding, seekor serangga kecil berwarna kecokelatan menarik perhatian. Ukurannya mungil dan sekilas tampak seperti kecoa kecil yang sering luput dari perhatian. Setelah ditelusuri melalui berbagai sumber entomologi, serangga tersebut diketahui merupakan Scalida latiusvittata, spesies kecoa yang memiliki kisah ilmiah dan ekologis yang menarik.
Nama Scalida berasal dari kata Latin scala yang berarti “tangga” atau “anak tangga” [
1Merriam-Webster. (n.d.). Scalade. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 30, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/scalade
]. Dalam dunia entomologi, nama ini merujuk pada pola tertentu pada urat sayap yang menyerupai susunan tangga. Sementara itu, nama spesies latiusvittata tersusun dari dua kata Latin, yaitu latius yang berarti “lebih lebar” dan vittata yang berarti “berpita” atau “bergaris” [
2Wiktionary. (n.d.). Latium - Wiktionary, the free dictionary. Wiktionary. Retrieved May 31, 2026, from https://en.wiktionary.org/wiki/Latium
]. Nama tersebut menggambarkan ciri khas serangga ini berupa garis-garis pucat yang relatif lebar di sepanjang sisi tubuhnya.
Jejak ilmiah spesies ini telah tercatat lebih dari satu abad lalu. Pada tahun 1898, entomolog Swiss Carl Brunner von Wattenwyl (1823–1914) pertama kali mendeskripsikannya dengan nama Phyllodromia latius-vittata. Deskripsi tersebut dimuat dalam karya Orthopteren des Malayischen Archipels, yang membahas serangga-serangga dari Kepulauan Melayu hasil pengumpulan Prof. Dr. W. Kükenthal pada tahun 1893–1894 [
3Brunner von Wattenwyl, C. (1898) Orthopteren des Malayischen Archipels, gesammelt von Prof. Dr. W. Kükenthal in den Jahren 1893 und 1894. Abhandlungen der Senckenbergischen Naturforschenden Gesellschaft, 24, 193–288.
]. 
Beberapa dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1969, ahli kecoa asal Latvia Kārlis Princis menempatkan spesies ini ke dalam genus Scalida melalui publikasinya mengenai kelompok Blattariae [
4Princis, K. (1969) Blattariae: Subordo Epilamproidea. Fam.: Blattellidae. In M. Beier (Ed.). Orthopterorum Catalogus. Pars 13. W. Junk, s'Gravenhage [The Hague]. 712–1038 pp.
].
Secara taksonomi, Scalida latiusvittata termasuk dalam kelompok kecoa berukuran kecil. Tubuhnya berbentuk oval dan pipih dari arah punggung ke perut, suatu adaptasi yang memudahkannya bergerak di sela-sela serasah daun, celah-celah tanah, maupun ruang sempit lainnya. Sayapnya berkembang dengan baik dan menutupi sebagian besar bagian perut. Corak garis memanjang pada tubuh atau sayap menjadi salah satu penanda yang membedakannya dari spesies kecoa kecil lainnya.

Kecoa (cockroach) Scalida latiusvittata
 
Meski dikenal sebagai hewan darat, persebaran Scalida latiusvittata menunjukkan kedekatannya dengan lingkungan yang dipengaruhi aktivitas manusia. Catatan awal keberadaannya berasal dari Fort de Kock di Bukittinggi di Sumatra Barat. Selain itu, spesies ini juga ditemukan di pesisir timur Sumatra, Singapura, Pulau Jawa, Makassar, serta Kepulauan Mentawai [
5Hanitsch, R. (1929). Fauna Sumatrensis (Beitrag No. 63). Blattidae. Tijdschrift voor entomologie, 72, 263--302. https://www.biodiversitylibrary.org/part/64784
]. Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa kecoa ini mampu beradaptasi di berbagai habitat tropis di kawasan Asia Tenggara.
Dalam ekosistem pertanian, peran Scalida latiusvittata tidak selalu merugikan. Serangga ini lebih sering berfungsi sebagai pemakan bahan organik yang membusuk atau detritus. Dengan aktivitas tersebut, ia membantu proses penguraian sisa-sisa tumbuhan di lingkungan. Selain itu, keberadaannya juga menjadi bagian dari rantai makanan alami karena dimangsa oleh berbagai predator serangga. Walaupun demikian, pada kondisi tertentu kecoa kecil ini dapat memakan tunas tanaman muda sehingga kadang-kadang dianggap sebagai hama minor.
Penelitian yang dilakukan oleh Boyer dan Rivault pada tahun 2004 [
6Boyer, S., & Rivault, C. (2004). Life History Traits of Cockroaches in Sugar-Cane Fields in La Réunion (Blattodea: Blattellidae and Blaberidae). Oriental Insects, 38(1), 373–388. https://doi.org/10.1080/00305316.2004.10417404
] memberikan gambaran lebih rinci mengenai biologi spesies ini. Scalida latiusvittata digambarkan sebagai kecoa kecil berwarna cokelat tua mengilap yang hidup di wilayah India, Asia Selatan, hingga pulau-pulau di Samudra Hindia, termasuk Indonesia. Siklus hidupnya sangat bergantung pada kelembapan lingkungan. Dari telur hingga dewasa, serangga ini melewati enam tahap nimfa yang berlangsung sekitar 100 hari. Telurnya tersimpan dalam ootek atau kapsul telur beralur pipih yang dapat menyerap air dan mengembang ketika kondisi lingkungan cukup lembap. Setiap ootek rata-rata menghasilkan sekitar 23 individu muda dengan tingkat keberhasilan menetas mencapai hampir 80 persen.
Habitat favoritnya adalah tanah yang lembap, termasuk area perkebunan tebu. Menariknya, meskipun memiliki sayap, individu dewasa jarang terlihat terbang. Ketika terganggu, mereka lebih memilih berlari cepat atau bersembunyi di bawah serasah dan celah-celah tanah.
Penemuan seekor Scalida latiusvittata di dinding kamar mandi di Kepanjen mungkin tampak sebagai peristiwa biasa. Namun, di balik tubuh mungilnya tersimpan kisah panjang tentang sejarah penamaan ilmiah, persebaran di kawasan tropis Asia, hingga perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa bahkan serangga kecil yang sering dianggap sepele pun menyimpan cerita alam yang menarik untuk dikenali lebih dekat. *** [010626]


logoblog

Thanks for reading Tamu Mungil di Dinding Kamar Mandi: Mengenal Scalida latiusvittata

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog