Sore itu, di tepi sungai kecil yang ada di sebelah utara bekas lahan pabrik sitrun di Kepanjen, tumbuh banyak tanaman liar. Saat saya menemani Mas Iwan, seorang tetangga di Sekretariat NIHR SMARThealth yang baru, membersihkan semak-semak dan menyiangi rumput, saya melihat tanaman jarak di antara rumpun bambu ampel (Bambusa vulgaris var. vulgaris) dan pohon elo (Ficus racemosa). Tanaman ini tampak berbeda dari jenis jarak lainnya. Batangnya tegak, daunnya lebar menjari seperti telapak tangan yang terbuka. Buah-buah mudanya berbentuk bulat berduri dan menggantung di ujung tangkai.
Itulah jarak kepyar, tumbuhan yang bagi sebagian orang hanya dianggap semak liar, tetapi sebenarnya menyimpan sejarah panjang yang melintasi benua dan ribuan tahun dalam sejarah manusia.
Di berbagai pelosok Nusantara, tanaman ini dikenal dengan banyak nama. Masyarakat Gayo menyebutnya gloah, orang Karo mengenalnya sebagai lulang, masyarakat Lampung menyebutnya jarag. Di tanah Sunda, ia dikenal sebagai jarak jitun atau jarak kaliki. Di Jawa, lebih akrab disebut jarak kepyar. Di Madura, ia bernama kaleke, di Sulawesi Selatan dikenal sebagai tangang-tangang jara atau pelung kaliki. Orang Maluku bilang balacai. Sementara itu, masyarakat Timor menyebutnya paku perunai. Banyaknya nama lokal menunjukkan bahwa tumbuhan ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
![]() |
| Pohon jarak kepyar (Ricinus communis) yang tumbuh di tepi sungai keceil, sebelah utara bekas pabrik sitrun di Jalan Banurejo RT 05 RW 01 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang |
Dalam dunia botani, jarak kepyar memiliki nama ilmiah Ricinus communis L. Nama genus Ricinus berasal dari bahasa Latin yang berarti “kutu”, merujuk pada bentuk bijinya yang bercorak dan memiliki tonjolan kecil, sehingga menyerupai tubuh kutu [
1Flora & Fauna Web. (n.d.). Ricinus communis L. NParks. Retrieved May 30, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/3/2389
]. Kata communis berarti “umum” atau “banyak dijumpai” [2Muséum national d’Histoire naturelle. (2026, May 30). Castor bean: Ricinus communis L. Muséum National d’Histoire Naturelle Official Website. https://www.mnhn.fr/en/castor-bean
]. Nama ilmiah ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli botani Swedia, Carolus Linnaeus (1707-1778), dalam karya monumentalnya, Species Plantarum, yang terbit pada tahun 1753 [3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358581
].Di luar Indonesia, tumbuhan ini juga memiliki banyak nama. Dunia berbahasa Inggris mengenalnya sebagai castor-oil plant atau castor bean. Di Jerman, ia disebut Wunderbaum, yang berarti “pohon ajaib.” Di Belanda, dikenal sebagai wonderboom. Julukan-julukan ini seolah mencerminkan kekaguman manusia terhadap manfaat yang dapat dihasilkan tanaman ini.
Meski kini tumbuh hampir di seluruh wilayah tropis dan subtropis, kampung halaman asli jarak kepyar berada di Afrika bagian timur laut, terutama wilayah Eritrea, Ethiopia, dan Somalia. Dari sana, ia memulai perjalanan panjang mengikuti jalur perdagangan dan migrasi manusia. Bangsa Portugis dan Spanyol menjadi pelopor penyebaran budidayanya ke berbagai belahan dunia. Ketika armada Portugis datang ke Nusantara pada abad ke-16, jarak kepyar ikut menumpang dalam perjalanan tersebut dan akhirnya berakar di tanah Indonesia [
4Socfindo Conservation. (n.d.). Jarak Kepyar. Socfindo Conservation. Retrieved May 30, 2026, from https://www.socfindoconservation.co.id/plant/204
].![]() |
| Buah jarak kepyar (Ricinus communis) yang masih muda berwarna hijau |
Namun, kisah jarak kepyar ternyata jauh lebih tua daripada era pelayaran samudra. Temuan arkeologi menunjukkan bahwa tanaman ini telah dikenal manusia sejak masa prasejarah. Penelitian Letizia Polito dan rekan-rekannya pada tahun 2019 [
5Polito, L., Bortolotti, M., Battelli, M. G., Calafato, G., & Bolognesi, A. (2019). Ricin: An Ancient Story for a Timeless Plant Toxin. Toxins, 11(6), 324. https://doi.org/10.3390/toxins11060324
] mencatat keberadaan jarak dalam konteks hunian manusia purba di Gua Border, Afrika Selatan, sekitar 24.000 tahun silam.Jejak pemanfaatannya juga terekam dalam berbagai peradaban kuno. Orang Mesir Kuno menuliskan manfaat dan risiko tanaman ini dalam Papirus Ebers dan Papirus Hearst. Mereka menggunakan minyak jarak sebagai pencahar, diuretik, kompres, dan untuk pengobatan gangguan saluran kemih. Menariknya, mereka juga telah mengetahui bahwa bijinya mengandung racun yang berbahaya.
Pengetahuan serupa juga berkembang di Yunani dan Romawi. Tokoh-tokoh seperti Hippocrates, Dioscorides, dan Pliny mencatat penggunaan minyak serta biji jarak untuk membantu pencernaan, mengatasi peradangan, mempercepat penyembuhan luka, dan meredakan gangguan pernapasan. Sementara itu, tradisi pengobatan Tiongkok dan Ayurveda India memanfaatkan berbagai bagian tanaman ini untuk mengobati cacingan, rematik, penyakit kulit, serta berbagai keluhan kesehatan lainnya.
![]() |
| Bunga jarak kepyar (Ricinus communis) |
Di balik sejarah panjang ini, ilmu pengetahuan modern terus mengungkap rahasia yang tersembunyi dalam tubuh jarak kepyar. Penelitian Hassan Raza dan rekan-rekannya pada tahun 2025 [
6Raza, H., Sultan, M. T., Abbas, A., Mazhar, A., Noman, A. M., Imran, M., Hussain, M., Mostafa, E. M., El‐Ghorab, A. H., Ghoneim, M. M., Selim, S., Abdelgawad, M. A., Memon, A. G., & Jbawi, E. A. (2025). Ricinus Communis: Nutritional Importance, Health Benefits, and Industrial Applications. eFood, 7(1). https://doi.org/10.1002/efd2.70117
] menunjukkan bahwa Ricinus communis mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti saponin, flavonoid, alkaloid, steroid, terpenoid, emodin, dan antrakuinon. Kombinasi senyawa ini membuat tanaman ini memiliki aktivitas biologis yang luas, mulai dari antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, hingga potensi antikanker.Berbagai bagian tanaman, seperti daun, akar, dan kulit batang, dalam rebusannya telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi sakit kepala, nyeri sendi, peradangan, flu, kutil, hingga berbagai keluhan lain. Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi aktivitas antiulkus, analgesik, antihistaminik, antiasma, dan kemampuan mempercepat penyembuhan luka.
Manfaat ekonomi terbesar tanaman ini berasal dari minyak bijinya. Minyak jarak kaya akan asam risinoleat, senyawa yang sangat berharga dalam industri modern. Dari farmasi hingga kosmetik, dari pelumas mesin hingga bahan baku biodiesel, minyak jarak telah menjadi komoditas penting yang menghubungkan dunia tradisional dan teknologi saat ini.
![]() |
| Daun jarak kepyar (Ricinus communis) |
Meski demikian, jarak kepyar menyimpan sisi lain yang tidak boleh diabaikan. Bijinya mengandung risin, salah satu toksin alami yang sangat berbahaya bagi manusia dan hewan. Oleh karena itu, pemanfaatan tanaman ini memerlukan pengetahuan, pengolahan, dan prosedur keamanan yang tepat agar manfaatnya dapat diperoleh tanpa menimbulkan risiko.
Ketika saya kembali memandang tanaman yang tumbuh subur di tepi sungai bekas kawasan industri itu, sulit membayangkan bahwa semak yang tampak biasa ini sebenarnya adalah saksi perjalanan panjang umat manusia. Dari gua prasejarah di Afrika, lembaran papirus Mesir, kitab pengobatan kuno Asia, sampai laboratorium modern dan industri energi terbarukan, jarak kepyar terus hadir mengikuti jejak peradaban.
Ia tumbuh sederhana di antara bambu dan rumput liar, tetapi menyimpan cerita besar tentang hubungan manusia dengan alam. Cerita ini menggambarkan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, tentang manfaat dan bahaya yang berjalan beriringan, serta bagaimana tumbuhan kecil ini mampu meninggalkan jejak panjang dalam sejarah dunia. *** [310526]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar