Senin, Juli 20, 2026

Atap Langit, Tempat Jeda Setelah Riuh Banyuwangi Ethno Carnival

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Juli 20, 2026
I'm happy to just sit in a cafe and watch people. It's my favorite thing to do, for sure.” -- Zoe Kravitz
Riuh Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 perlahan menjauh. Gemuruh musik pengiring parade, sorak-sorai penonton, dan warna-warni kostum spektakuler yang sejak siang memenuhi Taman Blambangan, satu demi satu berganti dengan lalu lintas kendaraan yang kembali normal. Banyuwangi seolah sedang menarik napas panjang setelah merayakan pesta budaya yang memukau ribuan pasang mata.
Bagi saya, hari itu belum benar-benar usai. Setelah berjam-jam berjalan menyusuri arena karnaval, memburu sudut terbaik untuk mengabadikan setiap prosesi, rasa lelah mulai terasa di kaki dan pundak. 
Di saat itulah dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM, mengajak saya singgah sejenak. "Nongki dulu, yuk."

Atap Langit Coffee House & Burger di Jalan MH Thamrin, Kelurahan Pengantigan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Ajakan sederhana itu menjadi penutup yang sempurna setelah sehari penuh larut dalam hiruk-pikuk BEC.
Pilihan kami jatuh pada Atap Langit Coffee House & Burger, sebuah kafe di Jalan MH Thamrin, Kelurahan Pengantigan, Kecamatan Banyuwangi, tepat di sebelah timur Hisana Fried Chicken.
Nama Atap Langit mengundang rasa penasaran sejak pertama kali terdengar. Setelah tiba di lokasi, saya mulai memahami maknanya. Bangunannya memang tidak besar. Berdiri di atas lahan sekitar 185 meter persegi dengan luas bangunan kurang lebih 75 meter persegi, tetapi penataan ruangnya membuat tempat ini terasa lapang. 
Sebagian area dibiarkan terbuka sehingga langit menjadi bagian dari arsitekturnya. Kini area terbuka itu telah dinaungi atap kaca berbingkai kokoh. Meski demikian, langit tetap menjadi pemandangan yang menyatu dengan pengalaman menikmati kafe ini. Di sinilah nama Atap Langit menemukan maknanya.
Bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, melainkan ruang untuk berhenti sejenak dari ritme kehidupan yang serba cepat. Sebuah tempat untuk berbincang tanpa terganggu dering notifikasi, menikmati waktu tanpa harus terburu-buru.

Nongki bersama dua enumerator baseline survey di Atap Langit Coffee House & Burger

Konsep industrial yang diusung semakin memperkuat karakter tempat ini. Beton ekspos, material logam, instalasi pipa yang sengaja dibiarkan terlihat, hingga pencahayaan hangat berpadu menciptakan ruang yang modern sekaligus akrab. Gaya yang terinspirasi dari bangunan-bangunan bekas pabrik era Revolusi Industri itu justru menghadirkan kesan elegan.
Di balik tampilannya yang sederhana, desain industrial menyimpan filosofi kejujuran material. Tidak ada yang disembunyikan. Bata, beton, logam, dan pipa tampil apa adanya, lalu dipadukan dengan furnitur bernuansa rustic dan warna-warna netral yang membuat ruang terasa hangat. Sentuhan kontemporer pada tata cahaya menjadikan setiap sudut Atap Langit layak dipandang lebih lama.
Saya datang belakangan. Setelah memilih tempat duduk, pesanan saya pun sederhana: nasi telur cakalang dari deretan main course dan segelas lecy tea dari kategori tea series non coffee. Sementara itu, Atap Langit juga menawarkan berbagai pilihan menu lain, mulai dari burger, aneka snack, dim sum, pastry, Mexico series, bagels, hingga beragam racikan kopi dan minuman nonkopi.
Menunggu makanan datang ternyata bukan waktu yang terasa membosankan. Percakapan dengan Rahman dan Sinta mengalir tanpa agenda. Kami berbincang mengenai pengalaman turun ke lapangan, dinamika pelaksanaan survei, hingga cerita-cerita ringan sepanjang kegiatan di Banyuwangi.

Nasi Telur Cakalang ala Atap Langit Coffee House & Burger

Sesekali perhatian saya teralihkan pada lalu-lalang pengunjung yang didominasi anak-anak muda. Ada yang sibuk mengerjakan tugas dengan laptop terbuka, ada yang berdiskusi serius, ada pula yang sekadar tertawa bersama teman-temannya.
Di momen seperti itulah saya teringat pada ungkapan Zoë Kravitz, seorang aktris Hollywood  dan pembuat film Amerika, yang pernah berkata: 
"Saya senang hanya duduk di kafe dan mengamati orang-orang. Itu adalah hal favorit saya, pastinya."
Kalimat itu terasa begitu relevan. Sebuah kafe memang menyimpan kehidupan dalam bentuk yang paling sederhana. Orang-orang datang membawa cerita masing-masing. Ada yang merayakan kebahagiaan, mengerjakan pekerjaan, menyusun rencana, atau sekadar mencari tempat untuk berdiam sejenak. Semua bertemu dalam ruang yang sama tanpa harus saling mengenal.
Mungkin karena itulah kafe selalu memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan. Ia menjadi ruang publik yang mampu menghadirkan rasa privat bagi setiap pengunjungnya.
Tanpa terasa, hampir satu jam berlalu. Rasa letih setelah meliput Banyuwangi Ethno Carnival perlahan menguap, digantikan percakapan hangat dan suasana yang menenangkan. Atap Langit berhasil menjalankan fungsi yang lebih besar daripada sekadar tempat makan dan minum. Ia menjadi ruang jeda, tempat mengisi ulang energi sebelum perjalanan kembali dilanjutkan.

Lecy tea ala Atap Langit Coffee House & Burger

Senja semakin menjelang ketika kami meninggalkan kafe. Rahman dan Sinta mengantar saya menuju Stasiun Banyuwangi Kota karena saya harus kembali ke Malang untuk melanjutkan tugas semenata yang ada di Malang.
Namun rupanya perjalanan jelang senja itu masih menyimpan satu pemberhentian terakhir. Kita mampir dulu di Bakso Kondusif Pak Yanto. Menurut Sinta, bakso itu sudah lama dikenal karena kelezatannya. Dua motor langsung berbelok ke sana. 
Barangkali memang demikian cara sebuah perjalanan bekerja. Bukan hanya menghadirkan tujuan, melainkan juga menyisakan ruang-ruang singgah yang kelak justru menjadi kenangan paling membekas.
Dan di antara riuhnya Banyuwangi Ethno Carnival, saya menemukan satu ruang bernama Atap Langit, tempat langit tetap menjadi atap, percakapan menjadi penghangat, dan jeda berubah menjadi bagian paling berharga dari sebuah perjalanan. *** [200726]


logoblog

Thanks for reading Atap Langit, Tempat Jeda Setelah Riuh Banyuwangi Ethno Carnival

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog