Minggu, Juli 19, 2026

Banyuwangi Ethno Carnival 2026: Ketika Sejarah Blambangan Berjalan di Atas Catwalk Dunia

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Juli 19, 2026
Everyone loved the carnival. Everyone loved its sights and sounds.” -- Petunia-Liebling MacPumpkin
Langit Banyuwangi siang itu cerah. Terik matahari tak menyurutkan antusiasme ribuan orang yang telah memadati kawasan utara Taman Blambangan sejak sebelum tengah hari. Kamera-kamera mulai bersiap, venue perlahan penuh, sementara suara percakapan dalam berbagai bahasa bercampur menjadi satu. Ada warga lokal, wisatawan domestik, hingga tamu dari berbagai belahan dunia. Semuanya menunggu satu pertunjukan yang telah menjadi kebanggaan Banyuwangi selama lebih dari satu dekade: Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026.
Saya menjadi salah satu orang yang beruntung menyaksikan peristiwa itu secara langsung. Berkat kebaikan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM, Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Disease and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Purwodadi, saya memperoleh tiket gratis menuju salah satu festival budaya terbesar di Indonesia.

Kostum mahkota alat musik tradisional

Semula saya mendapatkan kursi di venue reguler yang letaknya tidak jauh dari area VIP. Namun, naluri seorang blogger membawa saya memilih berdiri bersama rekan-rekan media di panggung atau tribune peliputan sisi barat, tepat di depan Bank Jatim atau seberang Gedung Juang 45. Dari posisi itu, setiap detail kostum, ekspresi para peserta, hingga sorak penonton dapat disaksikan tanpa terhalang. Pilihan itu ternyata menjadi keputusan terbaik.
Pukul 13.20 WIB, suasana yang semula riuh mendadak berubah khusyuk. Lantunan sholawat mengalun lembut, berpadu dengan tabuhan hadrah yang menggema di seluruh arena. Tak lama berselang, seluruh hadirin berdiri menyanyikan Indonesia Raya, lalu disusul pertunjukan tari pembuka dan doa bersama.
Rangkaian seremoni berlangsung sederhana, tetapi sarat makna. Di layar raksasa yang membentang di belakang panggung VIP, berbagai potensi dan prestasi Kabupaten Banyuwangi ditampilkan silih berganti. Seolah mengingatkan bahwa daerah di ujung timur Pulau Jawa ini bukan hanya kaya akan panorama alam, tetapi juga memiliki identitas budaya yang terus dirawat.

Penari gandrung Banyuwangi

Tepat pukul 14.00 WIB, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa keberhasilan Banyuwangi Ethno Carnival merupakan hasil kolaborasi banyak pihak. Festival sebesar ini, menurutnya, tidak mungkin lahir hanya dari kerja satu institusi.
Tepat pukul 14.00 WIB, Bupati Ipuk menegaskan bahwa keberhasilan Banyuwangi Ethno Carnival merupakan hasil kolaborasi banyak pihak. Festival sebesar ini, menurutnya, tidak mungkin lahir hanya dari kerja satu institusi.
Pesan itu kemudian diperkuat oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, yang menyampaikan sebuah kalimat sederhana namun mengena.
"Budaya yang masih hidup adalah kemenangan sejati."
Kalimat tersebut seolah menjadi napas bagi seluruh penyelenggaraan BEC. Sebab budaya hanya akan bertahan apabila terus dirayakan, diwariskan, dan diberi ruang untuk berkembang.

Barong Banyuwangi

Beberapa menit kemudian, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi membuka Banyuwangi Ethno Carnival 2026. Dalam sambutannya, Khofifah memberikan apresiasi atas konsistensi Banyuwangi yang tidak pernah berhenti mempromosikan budaya lokal ke tingkat internasional.
"Banyuwangi Ethno Carnival menginspirasi kemajuan budaya dan peradaban. Bukan hanya untuk Banyuwangi, tetapi juga untuk Jawa Timur, Indonesia, dan dunia."
Tema "From Local To Global" bukan lagi sekadar slogan promosi. Ia telah menjelma menjadi kenyataan.
Denting gamelan Banyuwangi mulai terdengar. Perlahan, peserta pertama melangkah keluar menuju venue VIP. Tepuk tangan penonton langsung pecah. Satu demi satu karya terbaik anak bangsa mulai memenuhi lintasan sepanjang sekitar 2,5 kilometer menuju Jalan Ahmad Yani.

Kostum hasil bumi dan lingkungan (green economy)

Tahun ini, BEC memasuki penyelenggaraan ke-14 dengan mengangkat tema "Perang Bayu", kisah heroik rakyat Blambangan melawan ekspansi VOC pada abad ke-18. Bukan tanpa alasan tema tersebut dipilih.
Perang Bayu merupakan simbol keberanian masyarakat Blambangan mempertahankan tanah kelahirannya. Di bawah kepemimpinan Pangeran Rempeg Jagapati, rakyat membangun Benteng Bayu dan melakukan perlawanan melalui strategi gerilya di kawasan hutan rawa. Walaupun benteng akhirnya jatuh pada 18 Desember 1771, semangat perjuangan itu tidak pernah padam. Hingga kini, peristiwa tersebut dikenang sebagai bagian penting sejarah Banyuwangi.
Narasi sejarah itulah yang diterjemahkan menjadi karya busana. Lebih dari seratus peserta tampil mengenakan kostum spektakuler yang memadukan motif tradisional, ornamen khas Blambangan, sentuhan futuristik, hingga teknik tata rias modern. Setiap kostum tampak seperti lukisan yang bergerak.

Kostum blue economy Banyuwangi

Ada mahkota menyerupai kobaran api perjuangan. Ada sayap-sayap raksasa yang melambangkan keberanian. Ada warna emas yang memancarkan kejayaan. Ada pula nuansa hitam dan merah yang menggambarkan kerasnya peperangan. Ada nuansa hijau menyimbolkan lingkungan hidup yang terjaga, dan ada pula nuansa biru melambangkan pengembangan blue economy di Banyuwangi. Semuanya dirangkai dalam harmoni antara sejarah, seni pertunjukan, dan industri kreatif.
Sesekali para peserta berhenti, berputar, lalu berpose di depan kamera. Kilatan lampu fotografi bersahut-sahutan. Riuh tepuk tangan tak pernah berhenti sepanjang parade berlangsung. BEC bukan hanya menyajikan kostum indah. Ia sedang bercerita.
Yang membuat saya semakin kagum adalah keberadaan para wisatawan internasional. Mereka datang dari Inggris, Belgia, Amerika Serikat, Swedia, sejumlah negara Afrika, hingga berbagai negara Asia. Mereka bukan hanya duduk sebagai penonton, melainkan ikut berjalan dalam parade, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan mengenakan atribut budaya Banyuwangi.

Kostum panjajah yang penuh senjata

Beberapa di antara mereka mengaku terpesona. Bukan hanya karena kostumnya megah, tetapi karena setiap karya memiliki cerita, filosofi, dan nilai sejarah yang begitu kuat. Mereka juga merasakan keramahan masyarakat Banyuwangi yang membuat pengalaman budaya ini terasa sangat hangat.
Pada titik itu saya menyadari bahwa BEC telah melampaui fungsi sebagai festival daerah. Ia telah menjadi ruang dialog lintas budaya. Budaya Banyuwangi tidak kehilangan identitas ketika tampil di hadapan dunia. Sebaliknya, justru semakin dihargai karena keberaniannya mempertahankan akar tradisi sambil berinovasi.
Menjelang pukul 15.48 WIB, rombongan peserta internasional menjadi penampil terakhir yang melintasi depan tribun VIP. Mereka membawa spanduk besar bertuliskan "See You in 2027". Spanduk itu melambai perlahan, diiringi senyum para peserta dan tepuk tangan panjang ribuan penonton. Sore itu memang berakhir. Namun, kesan yang ditinggalkannya terasa jauh lebih panjang.

Kostum laskar gerilya Perang Bayu, sederhana tapi mematikan bagi Belanda

BEC 2026 menunjukkan bahwa sebuah festival budaya dapat dikelola secara profesional tanpa kehilangan ruh tradisinya. Tata panggung, manajemen acara, kualitas penampilan, hingga keterlibatan masyarakat menjadi bukti bahwa Banyuwangi telah berhasil menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan sekaligus diplomasi internasional.
Ungkapan Petunia-Liebling MacPumpkin, seorang storyteller audiovisual20th Century Ghost dan konsep dari masa lalu dalam kontrak Faustian dengan Electric Phantom Productions, terasa begitu tepat menggambarkan suasana tersebut.
“Semua orang menyukai karnaval itu. Semua orang menyukai pemandangan dan suaranya.”
Bule-bule berkostum pakaian tradisional khas Bumi Blambangan

Kalimat itu seakan menjadi simpulan dari apa yang terjadi sepanjang sore di Banyuwangi. Ribuan orang larut dalam keindahan warna, denting musik tradisional, kisah kepahlawanan, dan semangat kolaborasi yang menyatukan masyarakat lokal dengan warga dunia.
Di penghujung acara, saya pulang bukan hanya membawa ratusan foto dan catatan liputan. Saya membawa keyakinan bahwa budaya tidak akan pernah usang selama terus diberi ruang untuk hidup. Dan Banyuwangi telah membuktikannya.
Melalui Banyuwangi Ethno Carnival 2026, sejarah tidak lagi hanya tersimpan di dalam buku. Ia berjalan di jalanan kota, menari di atas panggung, menyapa dunia, lalu mengukuhkan satu pesan yang terus bergema: “Dari lokal untuk dunia. From Local to Global.” *** [190726]


logoblog

Thanks for reading Banyuwangi Ethno Carnival 2026: Ketika Sejarah Blambangan Berjalan di Atas Catwalk Dunia

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog