Kamis, Juli 16, 2026

Di Senja Biasa, Magnet Kecil Membawa Cerita Besar

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Juli 16, 2026
Il y a des souvenirs qui nous tiennent à cœur et qu'on a envie de partager, c'est comme ça. L'espace d'un instant, cela nous donne l'impression qu'ils redeviennent réalité.” -- Laetitia Arnould, 25 Faubourg Des Étoiles
Langit Purwodadi perlahan berubah warna ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sisa cahaya keemasan menyapu halaman sebuah rumah di Jalan Alor, Dusun Tempurejo RT 02 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Di rumah yang cukup luas tersebut menjadi basecamp para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Banyuwangi itu, sore menjelma menjadi ruang perjumpaan.
Di atas meja tersaji semangkuk jenang grendul yang masih mengepulkan uap. Aroma santan dan gula merah memenuhi ruangan, mengundang siapa pun untuk duduk lebih lama. Canda mengalir ringan enumerator baseline survey dari berbagai desa berdatangan ke basecamp Purwodadi.
Senja itu memang bukan senja yang luar biasa. Tidak ada seremoni. Tidak ada pidato panjang. Hanya kebersamaan yang tumbuh dari pekerjaan yang dijalani bersama selama di lapangan.
Di tengah suasana hangat itu, Project Manager NIHR Universitas Brawijaya (UB), Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH, terlihat di basecamp Purwodadi untuk bertugas di Banyuwangi setelah mengikuti Training Program of Applicable Smart Medical Technology di Beijing Genomics Institute (BGI) College, Shenzhen, Tiongkok, pada 21 Juni hingga 5 Juli 2026.
Ia membawa sesuatu di dalam tasnya. Bukan perangkat medis canggih. Bukan pula teknologi terbaru yang dipamerkan selama pelatihan. Melainkan beberapa buah tangan sebagai cendera mata atau souvenir yang dibagikan kepada yang hadir dalam perjumpaan tersebut.
Satu per satu gantungan kunci khas Tiongkok berpindah tangan ke enumerator baseline survey. Saya, yang saat itu hadir sebagai Field Facilitator NIHR UB, turut menerima oleh-oleh dari Shenzhen tersebut namun dalam bentuk souvenir magnet kulkas 3D bertema kota Shenzhen, China.
Dalam balutan plastik bening, tampak miniatur kota Shenzhen yang dibuat tiga dimensi. Gedung-gedung modern menjulang di antara jalan raya yang dipenuhi lampu kota. Siluet Ping An Finance Center berdiri anggun, sementara Window of the World menjadi penanda kota yang akrab dengan inovasi sekaligus pariwisata. Di bagian atasnya, tiga karakter Hanzi tertulis sederhana: 我想你 (wǒ xiǎng nǐ), atau “Aku merindukanmu.”

Souvenir magnet kulkas 3D bertema kota Shenzhen, China

Kalimat itu seolah mengubah sebuah benda kecil menjadi lebih dari sekadar cendera mata. Oleh-oleh memang selalu memiliki bahasa yang unik. Nilainya jarang diukur dari harga. Ia lebih sering berbicara tentang ingatan. Tentang seseorang yang, di tengah kesibukan perjalanan, masih menyisakan ruang untuk mengingat orang-orang yang menunggu di tempat asalnya.
Magnet itu menjadi bentuk perhatian yang sederhana, tetapi terasa hangat. Di balik permukaannya yang mengilap, tersimpan perjalanan sepanjang ribuan kilometer menuju salah satu kota paling inovatif di dunia.
Selama berada di Shenzhen, Fildzah tidak hanya mengikuti pelatihan di ruang kelas. Ia menyaksikan bagaimana teknologi menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Pameran alat kesehatan pintar, demonstrasi layanan telemedicine, hingga diskusi mengenai integrasi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) dalam sistem pelayanan kesehatan menjadi pengalaman yang membuka perspektif baru.
"Selama pelatihan kami melihat berbagai inovasi teknologi kesehatan yang sudah diterapkan, mulai dari perangkat medis pintar sampai pemanfaatan AI dan IoT dalam pelayanan kesehatan," tuturnya.
Cerita-cerita itu mengalir santai di sela menikmati jenang grendul. Tentang gedung-gedung yang seolah menyentuh langit, kawasan elektronik yang tak pernah benar-benar tidur, laboratorium inovasi, hingga ritme sebuah kota yang bergerak begitu cepat. Semuanya terasa seperti lapisan-lapisan gambar pada magnet kecil yang kini berada di genggaman.
Shenzhen sendiri telah lama menjadikan inovasi sebagai identitasnya. Salah satu slogan kota itu berbunyi, "来了就是深圳人" (Láile jiù shì Shēnzhèn rén), atau "Begitu Anda datang, Anda adalah warga Shenzhen." Kalimat sederhana yang mencerminkan keterbukaan kota terhadap siapa pun yang datang membawa mimpi, gagasan, dan keberanian untuk berinovasi.
Ada pula slogan lain yang tak kalah terkenal: "深爱人才,圳等你来" (Shēn ài réncái, zhèn děng nǐ lái)", yang berarti "Mencintai talenta, Shenzhen menanti Anda." Sebuah ajakan yang menggambarkan bagaimana kota itu membangun masa depannya melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi lintas bangsa. Barangkali semangat itulah yang tanpa disadari ikut terbawa pulang bersama sebuah magnet kulkas.
Penulis Prancis Laetitia Arnould dalam 25 Faubourg Des Étoiles (2022) pernah mengatakan:
"Ada kenangan yang sangat berharga bagi kita dan yang ingin kita bagikan, begitulah adanya. Untuk sesaat, hal itu memberi kita kesan bahwa kenangan itu menjadi nyata kembali."
Kalimat itu terasa hidup pada sore tersebut. Karena sesungguhnya yang dibagikan Fildzah bukan sekadar suvenir. Ia sedang membagikan pengalaman.
Membagikan rasa takjub ketika melihat bagaimana teknologi dapat memperpendek jarak antara dokter dan pasien. Membagikan optimisme bahwa inovasi yang lahir di kota teknologi dunia bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dipelajari, disesuaikan, dan suatu saat diterapkan dalam konteks pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Kini magnet itu masih tersimpan di kamar basecamp Tamanagung. Setelah penugasan di Banyuwangi usai, ia akan menempati sudut baru di Sekretariat NIHR SMARThealth Banurejo.
Namun sebelum benar-benar menempel di pintu kulkas, magnet itu telah lebih dahulu melekat dalam banyak percakapan.
Rekan-rekan yang melihatnya mulai bertanya tentang pelatihan di Shenzhen. Bagaimana sistem kesehatan di sana bekerja. Teknologi apa saja yang diperkenalkan. Peluang apa yang mungkin dapat diterapkan di Banyuwangi.
Diskusi-diskusi kecil pun lahir tanpa direncanakan. Dari sebuah benda seukuran telapak tangan, percakapan berkembang menjadi ruang belajar bersama. Mungkin memang begitulah cara pengetahuan bekerja.
Hal itu tidak selalu datang melalui seminar besar atau ruang konferensi. Terkadang hal itu datang dengan secangkir teh, semangkuk jenang grendul, tawa setelah bekerja, dan oleh-oleh sederhana yang membangkitkan rasa ingin tahu.
Senja di Purwodadi akhirnya berlalu seperti senja-senja lainnya. Namun sebuah magnet kecil telah meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada perjalanan yang membawanya pulang.
Ia menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan menyimpan cerita, setiap cerita memiliki daya untuk menghubungkan manusia, dan setiap pengetahuan akan menemukan maknanya ketika dibagikan.
Sebab inovasi besar sering kali tidak bermula dari laboratorium yang megah. Ia bisa lahir dari sebuah percakapan sederhana pada penghujung hari, ketika sepotong jenang grendul dinikmati bersama, dan sebuah magnet kecil diam-diam membuka jendela menuju dunia yang lebih luas. *** [160726]


logoblog

Thanks for reading Di Senja Biasa, Magnet Kecil Membawa Cerita Besar

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog