Rabu, Juli 15, 2026

Kanelof Coffee & Kitchen: Eat Well, Sip Slow

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Juli 15, 2026
Ada kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang datang dalam suasana masih grand opening. Saat sebuah kafe baru membuka pintunya, pengunjung bukan sekadar menikmati makanan atau secangkir kopi, tetapi ikut menjadi saksi dari awal sebuah perjalanan. Suasananya masih terasa segar. Senyum para staf belum dipoles rutinitas. Setiap tamu disambut dengan antusiasme yang tulus, seolah kehadiran mereka menjadi bagian penting dari hari-hari pertama itu.
Belakangan, geliat industri kuliner Indonesia terus bergerak. Kafe dan restoran bermunculan hampir di setiap kota, menawarkan konsep yang saling berlomba menjadi berbeda. Di Banyuwangi, denyut itu terasa semakin kuat. Setelah Compound Social Club (CSC) di Dusun Maron menjadi ruang berkumpul pada perayaan Anniversary Enumerator NIHR UB Banyuwangi beberapa waktu lalu, giliran Kanelof Coffee & Kitchen membuka lembaran barunya melalui grand opening pada 12 Juli 2026.

Kanelof Coffee & Kitchen di Jalan Krakatau, Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi

Beralamat di Jalan Krakatau, Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kanelof hadir dengan karakter yang tidak banyak dijumpai di wilayah Genteng. Di saat sebagian besar kafe mengusung gaya industrial atau minimalis modern, Kanelof justru memilih menghidupkan kembali bangunan bergaya kolonial Belanda menjadi ruang yang sarat nuansa klasik.
Dari luar, bangunan itu masih mempertahankan wajah lamanya. Namun ketika melangkah melewati pintu utama, suasana berubah seketika. Cahaya hangat memenuhi ruangan. Dinding-dinding bernuansa vintage berpadu dengan furnitur kayu yang memberi kesan akrab sekaligus elegan. Tidak ada sudut yang terasa tergesa-gesa untuk dipamerkan; semuanya ditata agar pengunjung merasa nyaman berlama-lama.
Selasa (14/07), saya berkesempatan mengunjungi Kanelof bersama rekan-rekan Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) yang tengah bertugas di Banyuwangi. Sebagai tempat yang baru beroperasi dua hari, atmosfernya masih sangat terasa mengalir. Belum terlalu ramai sekali, namun justru di situlah daya tariknya.

Bagian pemesanan dan kasir di dekat pintu masuk utama Kanelof

Saya menyusuri setiap ruang yang tersedia. Tepat di depan meja pemesanan, sejumlah benda antik seolah menjadi mesin waktu yang membawa pengunjung kembali ke masa silam. Sebuah piano tua berdiri anggun di salah satu sudut. Di dekatnya terdapat radio klasik, mesin ketik mekanik, televisi mungil era lampau, telepon kabel, hingga koleksi buku-buku lama yang masih tersusun rapi.
Setiap benda seakan memiliki kisahnya sendiri. Bukan sekadar ornamen, melainkan pengingat bahwa ruang juga dapat menyimpan memori. Di tengah budaya swafoto yang begitu lekat dengan kehidupan kafe masa kini, Kanelof menawarkan sesuatu yang berbeda, yaitu ruang untuk menikmati suasana tanpa harus terburu-buru mengabadikannya.
Pilihan menu yang ditawarkan pun mencerminkan semangat menjelajah. Dari berbagai daerah di Nusantara hingga hidangan khas Eropa, semuanya berkumpul dalam satu meja. Ada Ayam Tangkap Aceh, Sate Maranggi Purwakarta, Nasi Ulam Bandung, hingga Iga Bakar Jakarta. Sementara pencinta kuliner Barat dapat menemukan berbagai pilihan pasta dan hidangan klasik Eropa yang jarang ditemui di kafe-kafe daerah.

Salah satu pengunjung yang sedang asyik menikmati interior vintage Kanelof

Di antara beragam pilihan tersebut, saya memesan Coq au Vin, ditemani segelas Summer BerryCoq au Vin bukan sekadar menu ayam biasa. Hidangan ini merupakan salah satu ikon kuliner Prancis yang telah dikenal selama berabad-abad. Namanya berarti "ayam yang dimasak dengan anggur". 
Konon, teknik memasak ini berkembang di wilayah Burgundy, kawasan penghasil anggur terkenal di Prancis. Dahulu, masyarakat memanfaatkan anggur merah untuk memasak ayam jantan yang bertekstur keras agar menjadi empuk setelah direbus perlahan bersama bawang bombai, wortel, jamur, bawang putih, serta aneka rempah.
Di Kanelof, resep klasik tersebut dihadirkan dalam versi yang lebih akrab dengan lidah Indonesia. Potongan ayam dimasak perlahan hingga serat dagingnya begitu lembut. Saus cokelat pekat yang menyelimuti ayam menghadirkan rasa gurih dengan lapisan aroma rempah yang halus.
 
Koleksi piano jadul Kanelof dengan latar belakang ruang utamanya

Ada sentuhan sedikit asam yang membuat rasanya tidak membosankan, sementara kentang dan sayuran yang menemani memberikan keseimbangan tekstur dalam setiap suapan. Hidangan ini tidak mengejutkan dengan ledakan rasa, melainkan memanjakan perlahan, persis seperti filosofi memasaknya yang membutuhkan kesabaran.
Sementara itu, Summer Berry datang sebagai penyeimbang. Warnanya merah keunguan, jernih, dengan potongan es yang berkilau diterpa cahaya. Aroma buah beri langsung tercium sejak gelas didekatkan. Rasa pertama yang muncul adalah manis yang ringan, lalu perlahan berganti menjadi asam segar yang membangkitkan selera. 
Di Eropa dan Amerika Utara, minuman berbasis buah beri memang telah lama menjadi pilihan saat musim panas karena mampu memberikan sensasi menyegarkan sekaligus meninggalkan jejak rasa yang ringan di lidah. Di Kanelof, Summer Berry menjalankan peran yang sama, yakni menyegarkan tanpa mendominasi.

Menu Coq au Vin  dan Summer Berry ala Kanelof

Siang hingga sore itu, percakapan mengalir pelan di antara meja-meja yang belum sepenuhnya terisi. Sesekali terdengar suara cangkir yang beradu dengan piring, diselingi tawa kecil para pengunjung. Tidak ada hiruk-pikuk yang mengganggu. Semuanya bergerak dalam tempo yang lambat, menghadirkan ketenangan yang belakangan terasa semakin langka.
Barangkali, itulah makna yang ingin disampaikan Kanelof melalui slogan mereka: Eat Well, Sip Slow.
Bukan hanya ajakan menikmati makanan yang lezat atau menyeruput kopi dengan perlahan, tetapi juga undangan untuk memperlambat langkah di tengah dunia yang terus berlari. Sebab, tidak semua perjalanan harus diselesaikan dengan terburu-buru. Ada kalanya, kenangan terbaik justru lahir dari sepiring hidangan hangat, segelas minuman dingin, dan waktu yang sengaja dibiarkan berjalan lebih pelan. *** [150726]


logoblog

Thanks for reading Kanelof Coffee & Kitchen: Eat Well, Sip Slow

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog