Di sebuah tikungan kecil di depan Posyandu Anggrek II, Dusun Sumberjeruk RT 01 RW 03, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, saya melihat sebatang kaktus yang tumbuh begitu saja di tepi jalan. Ia berdiri tenang di bawah terik matahari, seolah telah lama menjadi bagian dari lanskap desa.
Sekilas bentuknya sederhana. Batangnya pipih, hijau, menyerupai dayung atau centong. Barangkali karena itulah masyarakat Indonesia lebih mengenalnya sebagai kaktus centong. Namun siapa sangka, tumbuhan yang tampak biasa ini menyimpan perjalanan sejarah panjang yang menghubungkan Banyuwangi dengan Meksiko, Cirebon, hingga dunia pewarna alami.
Dalam literatur botani lama dari masa Hindia Belanda pada abad ke-19, spesies ini justru dikenal dengan nama yang jauh lebih unik, yakni tjeulie-badak-tjeribon atau ceuli badak Ceribon dalam bahasa Sunda, yang berarti "telinga badak Cirebon".
Di kalangan masyarakat Jawa ia disebut telinga badak, sedangkan orang Belanda mengenalnya sebagai nopal [
1Maarten H.J. van der Meer (2022 Jul 19). Opuntia cochenillifera. Dictionary of Cactus Names. Retrieved from https://www.cactusnames.org/opuntia-cochenillifera
]. Kini tumbuhan tersebut memiliki nama ilmiah Opuntia cochenillifera (L.) Mill., salah satu anggota famili Cactaceae yang berasal dari Meksiko.![]() |
| Kaktus telinga badak Cirebon (Opuntia cochenillifera) di Jalan Sultan Agung, Dusun Sumberjeruk RT 01 RW 03 Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Nama genus Opuntia berakar dari bahasa Latin yang merujuk pada tumbuhan berduri [
2Utah Valley University. (n.d.). Opuntia. Uvu. Retrieved July 06, 2026, from https://www.uvu.edu/crfs/native-plants/opuntia.html
], sedangkan epitet cochenillifera berasal dari kata cochenille - serangga cochineal - ditambah akhiran Latin -fer yang berarti "membawa" [1Maarten H.J. van der Meer (2022 Jul 19). Opuntia cochenillifera. Dictionary of Cactus Names. Retrieved from https://www.cactusnames.org/opuntia-cochenillifera
]. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Selama berabad-abad, kaktus ini menjadi tanaman inang bagi serangga Dactylopius coccus, penghasil zat warna merah karmin yang pernah menjadi komoditas bernilai tinggi di berbagai belahan dunia.
Jejak ilmiahnya pun panjang. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pada tahun 1753 dengan nama Cactus cochenillifer dalam karya monumental Species Plantarum [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Vol. 1). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358012
]. Lima belas tahun kemudian, botanis Skotlandia Philip Miller (1691-1771) memindahkannya ke dalam genus Opuntia melalui The Gardeners Dictionary [4Miller, Philip, Miller, J., Miller, Philip, & John and Francis Rivington. (1768). The gardeners dictionary : containing the best and newest methods of cultivating and improving the kitchen, fruit, flower garden, and nursery, as also for performing the practical parts of agriculture, including the management of vineyards, with the methods of making and preserving wine, according to the present practice of the most skilful vignerons in the several wine countries in Europe, together with directions for propagating and improving, from real practice and experience, all sorts of timber trees. Printed for the author and sold by John and Francis Rivington ... [and 23 others]. https://www.biodiversitylibrary.org/page/394481
]. Dalam perkembangan taksonomi, tumbuhan ini juga pernah dikenal dengan nama Nopalea cochenillifera, meski nama Opuntia cochenillifera kini menjadi nama yang diterima secara luas.Di berbagai negara, kaktus ini memiliki banyak sebutan. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai cochineal cactus, smooth pear, atau roast pork. Di Belanda disebut nopal, dalam bahasa Prancis rachette, di Spanyol tunita, nopal chamacuero, dan cacto de la cochinilla, sementara masyarakat Tiongkok mengenalnya sebagai yān zhī zhǎng. Banyaknya nama menunjukkan luasnya persebaran sekaligus kedekatan tanaman ini dengan berbagai kebudayaan.
![]() |
| Bunga kaktus telinga badak Cirebon (Opuntia cochenillifera) |
Meski berasal dari kawasan kering Meksiko, Opuntia cochenillifera ternyata mampu beradaptasi dengan baik di Indonesia. Di Desa Tamanagung, tanaman ini tumbuh subur tanpa perawatan khusus. Sosoknya dapat mencapai tinggi empat hingga lima meter. Batangnya berupa ruas-ruas pipih yang sesungguhnya merupakan batang termodifikasi atau cladode, bagian yang kerap disalahartikan sebagai daun.
Daunnya sendiri sangat kecil dan segera berubah menjadi duri, sementara bunganya muncul tunggal dengan warna merah menyala yang kontras terhadap batang hijau. Setelah berbunga, tanaman menghasilkan buah berbentuk lonjong yang dapat dimakan.
Selama ratusan tahun, masyarakat di berbagai negara memanfaatkan spesies ini untuk beragam keperluan. Batang mudanya dimakan sebagai sayuran, sedangkan buahnya diolah menjadi jus, selai, minuman fermentasi, hingga pemanis alami.
Di daerah kering, tanaman ini juga menjadi sumber pakan ternak yang penting karena kandungan airnya tinggi. Selain itu, Opuntia cochenillifera banyak ditanam sebagai tanaman hias maupun pagar hidup yang tahan terhadap musim kemarau.
Nilai ekonominya tidak berhenti pada pangan. Produk olahan tanaman ini juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik, agrokimia, industri kimia, hingga pengolahan air limbah [
5Aruwa, C. E., Amoo, S. O., & Kudanga, T. (2018). Opuntia (Cactaceae) plant compounds, biological activities and prospects – A comprehensive review. Food Research International, 112, 328–344. https://doi.org/10.1016/j.foodres.2018.06.047
]. Namun, sejarah paling menarik tetap berkaitan dengan budidaya serangga cochineal.![]() |
| Cladode kaktus telinga badak Cirebon (Opuntia cochenillifera) |
Serangga kecil tersebut hidup menempel pada permukaan batang kaktus dan menghasilkan pigmen merah pekat yang sejak dahulu dipanen untuk menjadi pewarna alami karmin, bahan pewarna yang pernah menjadi komoditas perdagangan internasional sebelum berkembangnya pewarna sintetis.
Di bidang kesehatan, perhatian terhadap Opuntia cochenillifera terus berkembang. Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini telah lama dimanfaatkan untuk membantu mengatasi peradangan, menurunkan kadar kolesterol, mengontrol tekanan darah, mengurangi gangguan ginjal dan saluran kemih, serta membantu pengelolaan diabetes [
6Tavares, E. A., Guerra, G. C. B., da Costa Melo, N. M., Dantas-Medeiros, R., da Silva, E. C. S., Andrade, A. W. L., de Souza Araújo, D. F., da Silva, V. C., Zanatta, A. C., de Carvalho, T. G., de Araújo, A. A., de Araújo-Júnior, R. F., & Zucolotto, S. M. (2023). Toxicity and Anti-Inflammatory Activity of Phenolic-Rich Extract from Nopalea cochenillifera (Cactaceae): A Preclinical Study on the Prevention of Inflammatory Bowel Diseases. Plants (Basel, Switzerland), 12(3), 594. https://doi.org/10.3390/plants12030594
]. Di Indonesia, ekstraknya bahkan mulai diteliti sebagai bahan formulasi krim topikal alami untuk membantu penyembuhan luka pada penderita diabetes [7Saraswati, I., Armalina, D., Setiawan, R. H., Sinna, N. M., & Arummaisya, S. N. (2025). Opuntia cochenillifera Cream Accelerates Incision and Burn Wound Healing in Streptozotocin-Induced Diabetic Mice by Enhancing Fibroblast. The Indonesian Biomedical Journal, 17(6), 575–84. https://doi.org/10.18585/inabj.v17i6.3824
].Penelitian modern semakin memperkuat potensinya. Yokoyama dan kolega pada tahun 2025 melaporkan bahwa konsumsi Opuntia cochenillifera berpotensi memperbaiki metabolisme lemak, meningkatkan fungsi penghalang usus dan sistem kekebalan tubuh, serta memodulasi komposisi mikrobiota usus. Temuan tersebut membuka peluang pemanfaatan tanaman ini sebagai salah satu sumber pangan fungsional dalam upaya pencegahan obesitas dan berbagai penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup [
8Yokoyama, S., Kikuchi, A., Takahashi, H., Ushimaru, H., Yamaguchi, H., Yamada, C., Fujiki, K., Kozai, H., Ota, S., Fujii, T., Hirooka, Y., Tochio, T., & Tanaka, M. (2025). Modulation of the Gut Microbiota by Nopalea cochenillifera (Prickly Pear Cactus) Contributes to Improved Lipid Metabolism and Immune Function. Nutrients, 17(17), 2844. https://doi.org/10.3390/nu17172844
].Di balik penampilannya yang sederhana di sebuah tikungan jalan Desa Tamanagung, kaktus telinga badak Cirebon ternyata menyimpan kisah yang melintasi benua, sejarah kolonial, perdagangan dunia, hingga riset biomedis masa kini. Ia bukan sekadar tanaman liar yang tumbuh di pinggir jalan, melainkan saksi perjalanan panjang hubungan manusia dengan alam - dari gurun-gurun Meksiko hingga desa-desa di Banyuwangi. *** [070726]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar