Sore itu cahaya matahari mulai menguning ketika saya meninggalkan tepian Dam Sumberwaru di Kampung Ciut yang berada di Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Beberapa saat sebelumnya, seekor kupu-kupu alang biru kecil (Zizina otis) berhasil saya abadikan di antara rerumputan, dekat kemudi yang mengatur buka-tutup pintu air irigasi. Perburuan kecil itu sebenarnya sudah cukup memuaskan. Namun, seperti sering terjadi dalam penjelajahan alam, kejutan justru datang ketika perjalanan hampir usai.
Di sebelah utaranya lagi, tak jauh dari jembatan yang ada di atas saluran irigasi tersebut, tumbuh sebatang semak liar yang tersembunyi di sela gulma lainnya. Bunganya berwarna putih dengan semburat ungu, mengingatkan saya pada rumput Israel (Asystasia gangetica subsp. micrantha) yang kerap menghiasi tepi jalan. Sekilas keduanya memang mirip. Bedanya, rumput Israel tumbuh menjalar, sedangkan tumbuhan ini berdiri tegak dengan percabangan yang rapi.
Saya mencoba bertanya kepada seorang pekerja yang sedang menyemprot tanaman melon di lahan sekitar. Ia menggeleng. Tidak ada yang mengenal nama tumbuhan tersebut. Perjumpaan itu rupanya baru menjadi awal sebuah pencarian.
![]() |
| Tanaman Tephrosia noctiflora yang tumbuh di antara tanaman gulma lainnya di tepi saluran irigasi di Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Sesampainya di basecamp Tim Enumerator Baseline Survey Desa Tamanagung, foto-foto yang saya ambil menjadi petunjuk untuk menelusuri berbagai literatur botani. Satu demi satu cirinya mulai cocok dengan sebuah nama yang terdengar asing, yaitu Tephrosia noctiflora Bojer ex Baker. Di beberapa daerah di Indonesia, tumbuhan ini dikenal sebagai nila hutan, tom sapi, atau tom gatal di Sumatra [
1Plantamor. (n.d.). Tephrosia noctiflora. Plantamor. Retrieved June 30, 2026, from https://plantamor.com/species/profile/tephrosia/noctiflora
], sedangkan masyarakat Kalimantan Selatan menyebutnya petai balong [2Lefi, Elsa & Soendjoto, Mochamad & Kissinger, Kissinger. (2024). Tumbuhan bawah di area revegetasi pasca-tambang batubara dan potensinya sebagai tumbuhan berkhasiat obat. Jurnal Sylva Scienteae. 7. 429-439. 10.20527/jss.v7i3.9087. https://www.researchgate.net/publication/382294944_Tumbuhan_bawah_di_area_revegetasi_pasca-tambang_batubara_dan_potensinya_sebagai_tumbuhan_berkhasiat_obat
].Nama ilmiahnya sendiri menyimpan cerita. Kata Tephrosia berasal dari bahasa Yunani tephros, yang berarti abu-abu, merujuk pada warna dedaunannya yang tampak kusam keabu-abuan [
3Merriam-Webster. (n.d.). Tephrosia. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved June 30, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Tephrosia
]. Sementara itu, noctiflora merupakan gabungan dua kata Latin, noctis (malam) dan floris (bunga), yang secara harfiah berarti "berbunga pada malam hari" [4Wild Flowers. (n.d.). Wild Flower Finder: Latin / Greek Species Names. Wildflowerfinder. Retrieved June 30, 2026, from https://wildflowerfinder.org.uk/Pages/LatinSpeciesNames.htm
]. Sebuah nama yang mengisyaratkan perilaku unik tumbuhan ini, jauh sebelum orang melihatnya mekar.Jejak ilmiah Tephrosia noctiflora ternyata membentang hingga Afrika. Spesies ini pertama kali dikumpulkan pada 1837 di Zanzibar oleh naturalis dan penjelajah asal Ceko, Wenceslaus Bojer (1797-1856). Namun, tumbuhan tersebut baru memperoleh deskripsi ilmiah yang sah lebih dari tiga dekade kemudian, ketika ahli botani Inggris John Gilbert Baker (1834-1920) memasukkannya ke dalam Flora of Tropical Africa pada tahun 1871 [
5Swamy, Jetti & Rasingam, Ladan. (2020). Notes on the distribution of Tephrosia noctiflora Bojer ex Baker (Leguminosae) in Andhra Pradesh. Zoos' Print Journal. 35. 113-116. https://www.researchgate.net/publication/341702085_Notes_on_the_distribution_of_Tephrosia_noctiflora_Bojer_ex_Baker_Leguminosae_in_Andhra_Pradesh
]. Sejak itu, spesies ini diketahui tersebar luas di kawasan tropis, mulai dari India, Afrika bagian tengah dan timur, Madagaskar, hingga Brasil barat laut.Sebagai anggota suku polong-polongan (Fabaceae), Tephrosia noctiflora memiliki bentuk yang tidak terlalu mencolok. Tingginya hanya berupa semak, dengan daun majemuk menyirip ganjil dan anak daun yang tersusun berhadapan.
![]() |
| Bunga Tephrosia noctiflora berwarna putih dengan semburat ungu |
Bunganya bertipe zigomorfik, khas keluarga kacang-kacangan, didominasi warna putih dengan bagian bendera berwarna ungu yang menjadi pusat perhatian. Setelah masa berbunga berlalu, muncullah polong-polong ramping sepanjang dua hingga lima sentimeter yang berisi biji cokelat berbentuk lonjong hingga menyerupai ginjal [
6Barbosa, F. P. S., Tenório, M. S. M., Riet-Correa, F., Fonseca, S. M. C., Silva Filho, G. B., Bom, H. A. S. C., Santos, J. R. P., Wicpolt, N. S., & Mendonça, F. S. (2022). Dermatopathy caused by Tephrosia noctiflora intoxication in cattle. Toxicon, 206, 21–27. https://doi.org/10.1016/j.toxicon.2021.12.007
].Meski tampil sederhana, tumbuhan ini ternyata memiliki riwayat pemanfaatan yang panjang. Di berbagai negara tropis, Tephrosia noctiflora pernah menjadi salah satu tanaman pupuk hijau (green manure) yang cukup penting [
7Bosnian, M. T. M., & de Haas, A. J. P. (1983). A revision of the genus Tephrosia (Leguminosae-Papilionoideae) in Malesia. Blumea, 28(2), 421–487. https://scispace.com/pdf/a-revision-of-the-genus-tephrosia-leguminosae-papilionoideae-3jb9rd9ius.pdf
]. Biomassa daunnya mudah terurai sehingga mampu memperkaya kandungan bahan organik tanah. Karena itu, tanaman ini banyak ditanam di perkebunan teh, sawah, kebun karet, hingga perkebunan kelapa muda. Kemampuannya tumbuh kembali setelah dipangkas membuatnya dapat dipanen berulang kali sebagai sumber pupuk hijau. Di beberapa tempat, semak ini juga dimanfaatkan sebagai pagar kontur untuk membantu menahan erosi [
8Tropical Plants Database, Ken Fern. tropical.theferns.info. 2026-06-30.
].Tidak hanya berguna bagi tanah, tumbuhan ini juga telah lama masuk dalam khazanah pengobatan tradisional. Akarnya digunakan untuk meredakan demam [
9Mutie, F. M., Mbuni, Y. M., Rono, P. C., Mkala, E. M., Nzei, J. M., Phumthum, M., Hu, G.-W., & Wang, Q.-F. (2023). Important Medicinal and Food Taxa (Orders and Families) in Kenya, Based on Three Quantitative Approaches. Plants, 12(5), 1145. https://doi.org/10.3390/plants12051145
], sedangkan akar dan daunnya dimanfaatkan sebagai ramuan untuk mengatasi batuk, obat muntah, serta diketahui memiliki aktivitas antijamur dan antimalaria [10Kemboi, D., Ngyema, V., & Tembu, J. V. (2025). Comprehensive Review of the Ethnomedicinal Uses and Pharmacological Effects of Flavonoids of Tephrosia species. Current Traditional Medicine, 11(5). https://doi.org/10.2174/0122150838279617231213042843
]. Dalam praktik pengobatan tradisional tertentu, rebusan daunnya bahkan diminum untuk membantu mengatasi infertilitas pada perempuan [11Thibault, T.-H., Yannick, E., Abassi, D., Cédric, B., Mohamed, H., & François, C. (2025). Unveiling the potential and specificity of the Mahoran ethnopharmacopoeia: A field survey. Journal of Ethnopharmacology, 340, 119255. https://doi.org/10.1016/j.jep.2024.119255
].![]() |
| Polong Tephrosia noctiflora yang sudah mulai tua atau matang bijinya |
Namun, alam hampir selalu menyimpan dua sisi dalam setiap spesiesnya. Apa yang bermanfaat bagi manusia belum tentu aman bagi hewan. Di wilayah timur laut Brasil, Tephrosia noctiflora dilaporkan menyebabkan dermatopati pada sapi yang memakannya. Dalam kasus yang berat, keracunan dapat berujung pada penurunan berat badan hingga kematian ternak [
6Barbosa, F. P. S., Tenório, M. S. M., Riet-Correa, F., Fonseca, S. M. C., Silva Filho, G. B., Bom, H. A. S. C., Santos, J. R. P., Wicpolt, N. S., & Mendonça, F. S. (2022). Dermatopathy caused by Tephrosia noctiflora intoxication in cattle. Toxicon, 206, 21–27. https://doi.org/10.1016/j.toxicon.2021.12.007
]. Fakta ini menjadi pengingat bahwa manfaat tumbuhan sangat bergantung pada cara dan konteks pemanfaatannya.Perjumpaan singkat di tepi saluran irigasi itu akhirnya membuka jendela menuju kisah yang jauh lebih luas. Dari semak liar yang nyaris tak dilirik orang, terbentang cerita tentang penjelajahan botani lintas benua, asal-usul nama ilmiah yang puitis, pemanfaatannya dalam pertanian berkelanjutan, hingga potensinya sebagai tanaman obat sekaligus risikonya bagi ternak.
Barangkali itulah yang membuat kegiatan mengamati tumbuhan liar selalu menarik. Di balik satu bunga kecil yang tumbuh di pinggir jalan, sering tersembunyi perjalanan ilmu pengetahuan yang melintasi ruang dan waktu.
Dan sore itu, di tepian irigasi Dam Sumberwaru, saya kembali diingatkan bahwa alam selalu menyimpan cerita bagi siapa saja yang bersedia berhenti sejenak untuk memperhatikannya. *** [010726]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar