Pagi itu matahari mulai meninggi ketika saya menyusuri saluran irigasi Sumberwaru Kampung Ciut, Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Air mengalir tenang di antara rumpun rerumputan yang tumbuh liar. Tak banyak yang berubah dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Namun, seperti sering terjadi di alam, terkadang apa yang tidak dicari atau terpikirkan malah muncul.
Seekor kupu-kupu kecil melesat rendah di antara rerumputan. Terbangnya cepat, lincah, dan sulit diikuti mata. Sesaat kemudian ia hinggap di sebuah polong, seolah memberi kesempatan untuk diamati sebelum kembali melesat.
Perjumpaan itu bukan hanya sekali. Pada kesempatan berbeda di lokasi yang sama, kupu-kupu mungil itu kembali saya jumpai di sehelai daun rerumputan. Seolah-olah tepian saluran irigasi itu memang menjadi salah satu rumahnya.
Kupu-kupu tersebut adalah bedor biasa [
1Wahyudi, J. (2024). Update Kekayaan Jenis Kupu-kupu (Lepidoptera) di Kebun Raya Indrokilo Boyolali. Kebun Raya Indrokilo Boyolali (KRIB). https://kebunrayaindrokilo.boyolali.go.id/file/Potensi_Jenis_Kupu-kupu_di_KR_INdrokilo_Boyolali_jarot_wahyudi_Feb_24.pdf
], atau Oriens gola (Moore, 1877), salah satu anggota famili Hesperiidae, kelompok kupu-kupu yang dikenal sebagai dartlet. Julukan itu bukan tanpa alasan. Berbeda dengan kupu-kupu pada umumnya yang terbang anggun melayang-layang, para dartlet bergerak cepat dengan lintasan pendek yang tampak meloncat-loncat, membuatnya lebih menyerupai capung kecil daripada kupu-kupu.![]() |
| Kupu-kupu bedor biasa (Oriens gola) yang sedang hinggap di polong Tephrosia noctiflora |
Tubuh Oriens gola memang mungil. Rentang sayapnya hanya sekitar 22–27 milimeter. Warna dasarnya cokelat tua dengan guratan-guratan kuning kecokelatan yang membentuk pola sederhana pada sayap depan dan belakang. Coraknya tidak mencolok, tetapi justru menjadi kamuflase yang sempurna ketika ia hinggap di antara batang rumput yang mulai mengering diterpa matahari.
Nama ilmiahnya menyimpan kisah yang menarik. Kata Oriens berasal dari bahasa Latin yang berarti "Timur", "fajar", atau "matahari terbit", berakar dari kata orior yang berarti muncul atau bangkit [
2Cooljugator. (n.d.). Oriens etymology in Latin. Cooljugator. Retrieved July 02, 2026, from https://cooljugator.com/etymology/lat/oriens
]. Nama itu mengingatkan pada kebiasaan kupu-kupu ini yang mulai aktif ketika sinar matahari menghangatkan vegetasi. Pada saat itulah ia kerap terlihat bertengger di atas dedaunan, memanfaatkan panas matahari untuk meningkatkan suhu tubuh sebelum kembali berkelana [3Mustari, A. H., Gunadharma, N., & Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. (2016). Kampus Biodiversitas: Kupu-kupu di Wilayah Kampus IPB Dramaga (Cetakan 1, p. 223). PT Penerbit IPB Press. https://www.researchgate.net/profile/Abdul-Mustari/publication/354775979_Kupu-Kupu_di_Wilayah_Kampus_IPB_Dramaga_Diversity_of_Butterfly_in_Campus_of_IPB_University/links/614bf8c5a3df59440ba4c14d/Kupu-Kupu-di-Wilayah-Kampus-IPB-Dramaga-Diversity-of-Butterfly-in-Campus-of-IPB-University.pdf?__cf_chl_f_tk=Rfr7k45bwVLv5UsyYim_WKUF0i.LJHmaezMwoFsmxFs-1782970245-1.0.1.1-8civiSxB8US7wvy5VxktLXt0hvmPRfsF3wt521ON0QE
].Sementara itu, nama spesifik gola berasal dari bahasa Latin yang berarti tenggorokan atau kerongkongan [
4“Gula.” Merriam-Webster.com Dictionary, Merriam-Webster, https://www.merriam-webster.com/dictionary/gula. Accessed 2 Jul. 2026
], merujuk pada salah satu ciri morfologinya. Nama tersebut pertama kali diberikan oleh entomolog Inggris Frederic Moore pada tahun 1877 ketika mendeskripsikan spesies ini dengan nama Pamphila gola dalam Proceedings of the Scientific Meetings of the Zoological Society of London [5Zoological Society of London. (1877). Proceedings of the Scientific Meetings of the Zoological Society of London (Part III). London: Messrs. Longmans, Green, Reader, and Dyer. https://www.biodiversitylibrary.org/page/28518258
].Perjalanan ilmiah spesies ini berlanjut lebih dari setengah abad kemudian. Pada 1932, Brigadier William Harry Evans (1876-1956) - perwira Angkatan Darat Inggris sekaligus pakar kupu-kupu Inggris yang bertugas di India - mendirikan genus Oriens dalam bukunya Identification of Indian Butterflies [
6Evans, W.H. (1932) Identification of Indian Butterflies, 2nd Edition Revised, Madras: Bombay Natural History Society. https://dn760104.eu.archive.org/0/items/in.ernet.dli.2015.261850/2015.261850.The-Identification.pdf
].![]() |
| Kupu-kupu bedor biasa (Oriens gola) yang dipotret dari depan saat bertngger di atas polong Tephrosia noctiflora |
Sejak saat itu, Pamphila gola dipindahkan ke genus baru dan resmi dikenal sebagai Oriens gola. Dalam kaidah tata nama zoologi, nama penulis pertama beserta tahunnya tetap dipertahankan di dalam tanda kurung. Karena itulah nama lengkap spesies ini ditulis sebagai Oriens gola (Moore, 1877), sebuah cara sederhana untuk menghormati sejarah penemuannya.
Meski bertubuh kecil, wilayah jelajah kupu-kupu bedor biasa sangat luas. Persebarannya membentang dari India, Indochina, Semenanjung Malaysia, hingga Kepulauan Indonesia, meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.
Di berbagai belahan Asia, kupu-kupu ini juga memiliki nama yang berbeda-beda. Penutur bahasa Inggris mengenalnya sebagai common dartlet, masyarakat Benggala menyebutnya tirich, sementara di Thailand dan Tiongkok ia memiliki nama lokal masing-masing yang mencerminkan kedekatan masyarakat setempat dengan satwa ini.
Habitat favorit Oriens gola adalah kawasan terbuka yang kaya rerumputan. Padang rumput, perkebunan, hutan sekunder, tepi jalan, bantaran sungai, hingga saluran irigasi menjadi tempat yang disukainya selama tersedia sinar matahari. Spesies ini umumnya ditemukan di dataran rendah hingga sekitar 400 meter di atas permukaan laut.
![]() |
| Kupu-kupu bedor biasa (Oriens gola) sedang mengepakkan sayapnya di atas rerumputan |
Apa yang saya jumpai di Sumberwaru mencerminkan preferensi habitat tersebut. Kupu-kupu kecil itu beberapa kali terlihat hinggap di tanaman Tephrosia noctiflora sebelum berpindah ke hamparan rumput liar di sekitarnya. Ia hampir tidak pernah diam lebih dari beberapa detik. Begitu merasa terganggu, ia segera terbang rendah mengikuti jalur rerumputan, lalu menghilang di balik vegetasi.
Rumput-rumputan bukan sekadar tempat berlindung. Di sanalah generasi berikutnya bergantung. Larva Oriens gola memakan ilalang (Imperata spp.), rumput-rumputan dari genus Paspalum, dan Ottochloa nodosa atau suket pring-pringan.
Tubuh ulatnya berwarna putih kehijauan dengan bagian bawah hijau pucat, sedangkan kepalanya hijau kekuningan. Tumbuhan yang bagi sebagian orang dianggap gulma ternyata menjadi fondasi penting bagi kelangsungan hidup kupu-kupu mungil ini.
Perjumpaan sederhana di tepian saluran irigasi itu menyadarkan bahwa keanekaragaman hayati sering kali bersembunyi di tempat-tempat yang paling akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Kita cenderung terpikat pada satwa berukuran besar atau berwarna mencolok, padahal di sela-sela rumput liar hidup spesies-spesies kecil yang menyimpan sejarah evolusi, perjalanan ilmiah, dan peran ekologis yang tidak kalah penting.
Mungkin itulah daya tarik Oriens gola. Ia bukan kupu-kupu yang akan langsung menarik perhatian. Namun, ketika kita bersedia memperlambat langkah dan mengamati lebih saksama, kupu-kupu bedor biasa memperlihatkan bahwa bahkan makhluk sekecil ini pun membawa cerita panjang tentang alam yang terus bertahan di tengah bentang pedesaan Banyuwangi. *** [020726]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar