“In every outthrust headland, in every curving beach, in every grain of sand there is the story of the earth.” -- Rachel Carson
Senja di Pantai Boom tak pernah benar-benar datang sendirian. Ia selalu membawa sesuatu, semburat jingga yang perlahan melapisi langit Banyuwangi, desir angin laut yang menyusup lembut ke sela percakapan, aroma panggangan yang menguar dari atas wajan, dan tawa yang berbaur dengan suara ombak. Semua hadir bersamaan, seolah menjadi orkestra kecil yang menyambut siapa pun yang memilih menghabiskan sore di bibir teluk itu.
Di atas hamparan rerumputan di pinggir teluk, sebuah tikar dibentangkan. Bukan sekadar alas duduk, melainkan ruang bersama yang tercipta secara spontan. Di sanalah sekumpulan orang berkumpul tanpa sekat, membuka bekal yang mereka bawa sendiri, berbagi cerita, sekaligus menunggu potongan daging ayam tipis yang dimodifikasi sebagai samgyeopsal mulai matang. Tidak ada dekorasi mewah ataupun meja panjang. Hanya langit, laut, dan kebersamaan yang tumbuh begitu saja.
![]() |
| Pantai Boom Banyuwangi di Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi |
Barangkali, justru momen seperti inilah yang paling lama tinggal dalam ingatan. Pantai Boom - yang kini lebih dikenal sebagai Boom Marina - memang telah berubah wajah. Berada di Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata paling strategis di pusat kota. Dengan tiket masuk sekitar Rp7.500 dan biaya parkir Rp5.000, pengunjung dapat menikmati kawasan tepi laut yang telah bertransformasi menjadi marina modern lengkap dengan Jembatan Lintas Asmara yang futuristik, jalur pedestrian yang nyaman, pusat kuliner, amphitheater, eco adventure park, marina lounge & resto, yacht club, hingga private resort.
Namun, jauh sebelum menjadi kawasan rekreasi, Pantai Boom pernah menjadi jantung perdagangan dan perikanan Banyuwangi. Pelabuhan ini dulunya merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal yang membawa berbagai komoditas.
Nama "Boom" sendiri berasal dari bahasa Belanda yang merujuk pada tiang-tiang tambat kayu yang dulunya berjejer di area pelabuhan. Kini, jejak sejarahnya tidak lagi sesibuk dulu, tetapi denyut nadinya masih terasa, berpadu dengan wajah baru yang lebih ramah terhadap wisatawan.
![]() |
| Pelabuhan Boom di kala senja menjelang |
Senja itu, pantai menjadi tempat singgah bagi rombongan kecil enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) bersama Project Manager dan Field Facilitator NIHR UB.
Mereka tidak datang untuk sekadar menikmati matahari terbenam. Mereka membawa sesuatu yang lebih sederhana, tetapi justru lebih bermakna: bahan makanan, kompor portabel, alat panggang, minuman, dan sebuah tikar besar yang cukup menampung kebersamaan.
Persiapan dimulai begitu motor-motor berhenti di area parkir. Tas besar berisi bahan makanan diturunkan satu per satu. Ada yang segera memasang kompor gas mini, ada yang membuka kotak berisi irisan daging ayam tipis, sementara yang lain menata daun selada, jamur enoki, sosis, bawang bombai, serta aneka pelengkap lainnya dalam wadah-wadah kecil. Tikar lebih dulu digelar agar semua memiliki tempat duduk yang nyaman.
![]() |
| Berkumpul menikmati Samgyeopsal ala Korean grill di tepi teluk berlatar belakang kapal pesiar |
Memilih lokasi ternyata juga menjadi bagian dari seni berpiknik. Mereka mencari sudut yang cukup teduh di bawah pohon flamboyan, tidak terlalu dekat dengan air, tetapi masih cukup dekat untuk mendengar riak ombak yang berkejaran di tepian teluk. Dari tempat itulah sore mulai berubah menjadi perayaan kecil.
Ketika wajan mulai panas, suara mendesis langsung memecah keheningan. Potongan ayam perlahan berubah warna, mengeluarkan aroma gurih yang segera bercampur dengan angin laut. Asap tipis melayang pelan sebelum terbawa semilir angin menuju cakrawala.
Tak ada yang benar-benar diam. Seseorang sibuk membolak-balik daging menggunakan penjepit. Yang lain menyiapkan daun selada sebagai pembungkus, sementara beberapa orang sudah tak sabar menunggu giliran mencicipi hasil panggangan pertama. Dalam tradisi makan seperti ini, semua orang memiliki peran. Tak ada penonton. Semua ikut terlibat.
![]() |
| Deretan cafe di sekitar teluk |
Mungkin itulah mengapa makanan terasa lebih nikmat. Bukan semata karena bumbunya, melainkan karena setiap suapan menyimpan cerita tentang kerja sama, candaan, dan tawa yang muncul tanpa dipaksa.
Di atas tikar, percakapan mengalir begitu ringan. Sesekali mereka membahas pekerjaan, agenda survei lapangan berikutnya, rapat daring yang belum usai, atau sekadar saling menggoda tentang siapa yang paling cepat menghabiskan daging. Latar belakang profesi seolah menghilang. Yang tersisa hanyalah sekumpulan orang yang sedang menikmati waktu bersama.
Bukankah kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal sederhana seperti itu? Usai makan, tidak ada yang terburu-buru beranjak pulang. Barang-barang memang mulai dirapikan, tetapi langkah kaki justru membawa mereka menyusuri jalur pedestrian yang membentang mengikuti garis pantai. Cahaya matahari mulai melunak, menyisakan warna keemasan yang memantul di permukaan laut.
![]() |
| Pedestrian di depan Senna resto & bar |
Di sepanjang perjalanan, detail-detail kecil bermunculan seperti adegan dalam sebuah film. Deretan perahu kecil terparkir di teluk. Pasangan muda bergantian mengambil foto berlatar langit senja. Café mobil di gelar di sudut parkiran. Beberapa kelompok anak muda tampak masih bercengkerama di kursi-kursi taman di jalur pedestrian menghadap teluk.
Tak ada yang berjalan tergesa. Pantai mengajarkan ritmenya sendiri. Ketika langit mulai berubah menjadi ungu kebiruan, lampu-lampu kawasan marina menyala satu demi satu. Jembatan Lintas Asmara tampak semakin memesona dengan cahaya yang memantul di permukaan air. Suasana perlahan bergeser dari hangat menjadi lebih hidup.
Namun malam di Pantai Boom ternyata belum selesai. Di salah satu sudut Eco Adventure Park, sebuah wahana sederhana menunggu giliran pengunjung. Kereta hantu.
![]() |
| Mojok sesaat di Jagat Osing Cafe yang berada di parkiran dekat loket masuk Pantai Boom |
Setelah menikmati ketenangan senja, rombongan memutuskan menutup hari dengan sedikit tantangan. Sebelum gerbong bergerak, semua tampak santai, bahkan saling melempar candaan bahwa mereka tidak akan terkejut. Tetapi begitu kereta memasuki kawasan hutan mini yang remang, suasana berubah seketika.
Asap tipis mengepul di antara pepohonan. Sosok pocong berbaju putih tiba-tiba muncul dari balik semak. Beberapa hantu lain menyergap dari sisi lintasan. Dalam hitungan detik, suara tawa berganti menjadi teriakan yang bersahutan.
Ada yang spontan menutup mata. Ada yang memegang bahu teman di sebelahnya. Ada pula yang justru tertawa paling keras setelah rasa kaget berlalu. Ketegangan itu hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup untuk menjadi penutup yang tak terlupakan.
![]() |
| Jembatan lintas asmara yang futuristik di Pantai Boom |
Dalam satu sore hingga malam, Pantai Boom menghadirkan dua wajah yang berbeda. Ia mampu menjadi ruang yang tenang untuk menikmati makan malam sederhana di atas tikar, sekaligus berubah menjadi tempat yang memacu adrenalin lewat wahana yang bersahaja. Mungkin itulah pesona sesungguhnya.
Pantai bukan hanya tentang laut atau matahari terbenam. Ia adalah ruang tempat manusia saling bertemu, berbagi cerita, menciptakan kenangan, lalu pulang dengan hati yang terasa lebih ringan.
Ketika malam benar-benar mengambil alih langit Banyuwangi, tikar akhirnya dilipat, kompor dimasukkan kembali ke dalam tas, dan bara panggangan padam perlahan. Namun kehangatan senja itu tidak ikut menghilang. Ia menetap sebagai ingatan, tentang asap panggang yang menari bersama angin laut, tentang tawa yang bersahut-sahutan di atas pasir, tentang langkah-langkah santai menyusuri teluk, hingga teriakan yang pecah di dalam gerbong kereta hantu.
![]() |
| Foto bersama sebelum uji nyali naik kereta hantu di Pantai Boom |
Seperti kata Rachel Louise Carson (1907-1964), seorang ahli biologi kelautan, penulis, dan ahli ekologi Amerika Serikat:
“Di setiap tanjung yang menjorok, di setiap pantai yang melengkung, di setiap butir pasir terdapat kisah bumi.”
Setiap pantai memang menyimpan kisahnya sendiri. Di Pantai Boom, kisah itu mungkin bukan hanya tentang sejarah sebuah pelabuhan tua yang bertransformasi menjadi marina modern. Lebih dari itu, ia adalah cerita tentang orang-orang yang memilih berhenti sejenak dari kesibukan, menggelar tikar di atas pasir, lalu menemukan bahwa kebersamaan sering kali menjadi perjalanan paling berharga. *** [170726]









Tidak ada komentar:
Posting Komentar