Pagi mentari bersinar cerah ketika saya tiba di Poskesdes Kalirejo, Dusun Kalirejo RT 02 RW 07, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Kamis (16/7). Hari itu saya bersama dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) menghadiri kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Lestari 3. Di sela-sela giat tersebut, saya mencoba berkeliling di sekitar Poskesdes Kalirejo yang masih berupa kebun-kebun yang luas milik warga.
Di tempat itu, kehidupan seolah berlangsung tanpa suara. Rumput tumbuh lebat, semak-semak membingkai halaman, sementara tanaman liar berbunga bermekaran di berbagai sudut. Warna ungu, putih, dan kuning bersahutan mengundang lebah, kumbang, capung, hingga kupu-kupu yang hilir mudik mengisap nektar. Lanskap sederhana itu menghadirkan potret kecil tentang ekosistem yang masih bekerja sebagaimana mestinya.
Di atas bunga kacang sentro (Centrosema molle), seekor kupu-kupu mungil menarik perhatian. Sayapnya berwarna hitam pekat dengan bercak-bercak putih yang tegas. Ukurannya tidak lebih dari empat sentimeter [
1Dewi, B., Hamidah, A., & Sukmono, T. (2023). Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu di Kabupaten Kerinci dan Sekitarnya (p. ii + 65 Halaman). Jambi: Salim Media Indonesia. https://repository.unja.ac.id/48651/1/Buku%20Keanekaragaman%20Kupu%20Kupu%20di%20Kabupaten%20Kerinci_compressed%20%281%29-compressed.pdf
], tetapi gerakannya begitu cepat. Sesaat hinggap, beberapa detik kemudian melesat, lalu kembali mendarat di bunga lain dengan lintasan yang sulit ditebak.Dialah Udaspes folus, kupu-kupu yang di Indonesia dikenal dengan nama demit alang [
2Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. (2025). DATABASE KEANEKARAGAMAN HAYATI PROVINSI DKI JAKARTA. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta dan Fakultas Kehudtanan dan Lingkungan IPB.
]. Nama itu terdengar ganjil. Kata "demit" dalam khazanah budaya Jawa identik dengan makhluk halus atau roh penunggu tempat-tempat tertentu. Dipadukan dengan kata "alang" atau rumput liar, julukan itu seolah menggambarkan sosok yang menyeramkan. Dalam bahasa Inggris, kupu-kupu ini bahkan dijuluki grass demon - setan rumput.![]() |
| Kupu-kupu demit alang (Udaspes folus) bertengger di atas bunga kacang sentro |
Namun, setelah mengamatinya beberapa saat, kesan menyeramkan itu segera menguap. Tidak ada yang angker dari kupu-kupu kecil ini. Ia justru tampak lincah, tenang, bahkan menggemaskan ketika sibuk berpindah dari satu kuntum bunga ke kuntum lainnya.
Julukan "setan rumput" sesungguhnya lahir bukan karena sifatnya yang berbahaya, melainkan karena cara terbangnya. Berbeda dengan kebanyakan kupu-kupu yang melayang anggun, anggota famili Hesperiidae atau kelompok skipper terbang sangat cepat, berbelok tiba-tiba, lalu menghilang sebelum mata sempat mengikutinya. Warna sayapnya yang gelap membuatnya semakin mudah diasosiasikan dengan sosok misterius oleh masyarakat pada masa lalu.
Di balik namanya yang unik, tersimpan pula kisah panjang mengenai sejarah ilmu pengetahuan. Nama ilmiahnya, Udaspes folus (Cramer, 1775), menyimpan jejak perkembangan taksonomi selama lebih dari dua abad. Genus Udaspes diperkenalkan oleh entomolog Inggris Frederic Moore pada tahun 1881. Asal-usul katanya tidak pernah dijelaskan secara pasti, tetapi banyak ahli menduga nama itu mengikuti tradisi para naturalis abad ke-19 yang gemar menggunakan istilah bernuansa mitologi atau puitis ketika menamai kelompok serangga dari kawasan Asia.
Sebaliknya, nama spesies folus memiliki akar bahasa yang lebih jelas. Kata itu diperkirakan merupakan bentuk arkais dari kata Latin olus atau holus, yang berarti tumbuhan hijau atau sayuran. Perubahan bunyi tersebut pernah dicatat oleh ahli tata bahasa Romawi kuno sebagai salah satu variasi pengucapan dalam bahasa Latin awal [
3AUFBECYT, T. (1856), ON THE LATIN TERMINATIONS TIA, TIO. Transactions of the Philological Society, 3: 144-146. https://doi.org/10.1111/j.1467-968X.1856.tb00973.x
].![]() |
| Sayap kupu-kupu demit alang (Udaspes folus) dari samping |
Kupu-kupu ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1775 oleh saudagar sekaligus entomolog Belanda, Pieter Cramer (1721-1776). Saat itu ia menempatkannya dalam genus Papilio, kelompok besar kupu-kupu yang kala itu menjadi "rumah" bagi banyak spesies sebelum klasifikasinya diperbaiki. Deskripsinya diterbitkan dalam karya monumental De uitlandsche kapellen [
4Cramer, Pieter. (1775). De uitlandsche kapellen: voorkomende in de drie waereld-deelen Asia, Africa en America (Vol. 1). Utrecht: Chez Barthelmy Wild. https://www.biodiversitylibrary.org/page/30081300
], salah satu referensi klasik mengenai kupu-kupu dari Asia, Afrika, dan Amerika.Perjalanan klasifikasinya berlanjut hingga akhirnya dipindahkan ke genus Udaspes. Nama Udaspes folus yang digunakan sekarang telah diterima secara luas sejak awal abad ke-20 dan terus dipakai dalam berbagai publikasi ilmiah hingga kini. Nama ini sudah digunakan pada tahun 1916, dalam karya Edward John Godfrey ( -1933) [
5Godfrey, E. J. (1916). The Butterflies of Siam. https://thesiamsociety.org/wp-content/uploads/2020/03/NHBSS_009_2j_EdwardJohnGoldfrey.pdf
], seorang entomolog dan naturalis Inggris yang terkenal lewat penelitian penting mengenai serangga dan Lepidoptera.Meski dikenal luas oleh para ahli serangga, hubungan kupu-kupu ini dengan manusia lebih sering dimulai dari fase ulatnya.
Larva Udaspes folus merupakan penggulung daun tanaman anggota famili Zingiberaceae, seperti jahe, kunyit, kapulaga, dan berbagai tanaman empon-empon lainnya. Ulat memotong bagian daun, kemudian menggulungnya membentuk tabung sebagai tempat berlindung sekaligus lokasi makan. Bagi petani, gejala ini cukup mudah dikenali.
Di berbagai wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, pengendalian hama ini sejak lama dilakukan secara sederhana. Daun yang menggulung dibuka, larvanya diambil, lalu dimusnahkan. Cara manual tersebut dianggap cukup efektif untuk kebun-kebun rempah berskala rumah tangga tanpa harus bergantung pada pestisida.
![]() |
| Kupu-kupu demit alang (Udaspes folus) sedang menghisap nektar bunga kacang sentro |
Namun alam selalu menyajikan dua sisi yang saling melengkapi. Larvanya memang dapat merusak beberapa tanaman budidaya, tetapi kupu-kupu dewasanya justru menjadi bagian penting dari ekosistem. Kehadirannya sering menandakan lingkungan yang masih memiliki kelembapan baik, vegetasi bawah yang rapat, serta ketersediaan tumbuhan inang yang cukup. Dengan kata lain, demit alang dapat menjadi penunjuk bahwa bentang alam di sekitarnya masih relatif sehat.
Barangkali itulah mengapa perjumpaan singkat di halaman Poskesdes Kalirejo terasa lebih bermakna daripada sekadar melihat seekor kupu-kupu. Di tengah ruang hijau yang masih bertahan di pedesaan Banyuwangi, saya menyaksikan bagaimana kehidupan liar tetap menemukan tempatnya. Semak yang sering dianggap gulma ternyata menyediakan nektar bagi penyerbuk. Tanaman liar menjadi bagian dari rantai kehidupan. Dan seekor kupu-kupu kecil yang namanya terdengar menyeramkan justru memperlihatkan wajah alam yang lembut.
Pada akhirnya, demit alang mengajarkan bahwa nama tidak selalu mencerminkan kenyataan. Di balik sebutannya yang seolah berasal dari dunia gaib, Udaspes folus hanyalah seekor kupu-kupu mungil yang sibuk menjalani siklus hidupnya. Ia tidak menebar rasa takut, melainkan mengingatkan bahwa setiap makhluk, sekecil apa pun, memiliki cerita panjang tentang evolusi, budaya, dan keseimbangan alam.
Mungkin karena itu, ketika sayap hitamnya kembali mengepak meninggalkan bunga kacang kupu-kupu, yang tertinggal bukanlah kesan angker sebagaimana namanya, melainkan kekaguman. Demit alang ternyata lebih pantas dikenang sebagai kupu-kupu kecil yang cantik, lincah, dan menjadi penanda bahwa alam di sekitar kita masih menyimpan denyut kehidupan yang patut dijaga. *** [240726]




www.qijiege.com
BalasHapus