Sabtu, Juli 25, 2026

Centrosema molle, Kacang Sentro Berbunga Ungu Pucat

  Budiarto Eko Kusumo       Sabtu, Juli 25, 2026
Seekor kupu-kupu berwarna cokelat kehitaman dengan bercak putih, tampak berputar beberapa kali sebelum akhirnya hinggap di setangkai bunga ungu pucat. Belalainya perlahan menjulur, mengisap nektar yang tersimpan di dasar mahkota bunga. Pemandangan sederhana itu saya jumpai di pekarangan warga yang mengelilingi Poskesdes Kalirejo, di Dusun Kalirejo RT 02 RW 07, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, saat kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Lestari 3 berlangsung pada Kamis (16/07).
Di tengah kesibukan para kader melayani balita, ibu hamil, dan lansia, tanaman yang menjadi tempat singgah kupu-kupu itu justru mengundang rasa ingin tahu. Sulurnya menjalar, memanjat pohon kelapa dan semak-semak di sekitarnya. Bunganya sekilas menyerupai bunga telang (Clitoria ternatea), tetapi warna ungunya lebih lembut dan bentuknya sedikit berbeda.
"Itu tanaman kacangan," ujar salah seorang kader Posyandu Lestari 3. “Biasanya untuk jamu gebyokan atau untuk ibu menyusui biar ASI lancar.”

Bunga kacang sentro (Centrosema molle) berwarna ungu pucat

Sebutan itu ternyata mengarah pada tumbuhan yang dikenal luas di Indonesia sebagai kacang sentro. Di beberapa daerah, tanaman ini juga disebut kacangan, kakacangan, atau kibesin. Meski sering tumbuh liar dan kerap dianggap gulma, siapa sangka tumbuhan ini menyimpan kisah panjang, mulai dari sejarah penamaannya hingga beragam manfaat bagi lingkungan, peternakan, bahkan pengobatan tradisional.
Kacang sentro memiliki nama ilmiah Centrosema molle Mart. ex Benth., anggota famili Fabaceae, suku besar tumbuhan polong-polongan. Batangnya tumbuh merayap atau memanjat dengan rambut-rambut halus pada permukaannya. Pada setiap buku batang dapat muncul akar baru yang membantu tanaman melekat dan menjalar lebih jauh. Ketika berumur tua, batangnya berubah menjadi berkayu.
Daunnya tersusun atas tiga anak daun berbentuk lonjong meruncing. Namun pesona utamanya terletak pada bunganya yang berwarna ungu pucat dengan bentuk khas menyerupai kupu-kupu yang sedang membuka sayap. Seusai berbunga, tanaman ini menghasilkan polong panjang dan ramping yang berisi banyak biji.

Daun kacang sentro (Centrosema molle) berbentuk lonjong meruncing

Nama Centrosema berasal dari bahasa Yunani, gabungan kentron yang berarti taji atau ujung runcing dan sēma yang berarti tanda [
1Merriam-Webster. (n.d.). Centrosema. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved July 24, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Centrosema
]. Nama itu merujuk pada bentuk mahkota bunganya yang memiliki tonjolan menyerupai taji [
2eFloraofIndia. (n.d.). Centrosema molle. eFloraofIndia. Retrieved July 24, 2026, from https://efloraofindia.com/efi/centrosema-molle/
]. Adapun kata molle berasal dari bahasa Latin yang berarti lembut, menggambarkan bulu-bulu halus yang menyelimuti daunnya [
3Botanical Society of Britain and Ireland. (n.d.). Geranium molle L., Dove’s-foot Crane’s-bill. BSBI. Retrieved July 24, 2026, from https://bsbi.org/in-your-area/local-botany/co-fermanagh/fermanagh-species-accounts/geranium-molle-l
].
Penamaan ilmiah tersebut berawal dari pengamatan ahli botani Jerman Carl Friedrich Philipp von Martius (1794-1868) pada abad ke-19. Deskripsi resminya kemudian diterbitkan oleh botanis Inggris George Bentham (1800-1884) pada tahun 1838 berdasarkan manuskrip Martius dalam Annalen des Wiener Museums der Naturgeschichte (p.119) [
4Wiener Museum der Naturgeschichte. (1840). Annalen des Wiener Museums der Naturgeschichte (Vol. 2). Wien: Rohrmann und Schweigerd. https://www.biodiversitylibrary.org/page/41200192
]. Hingga kini, spesimen acuan tanaman tersebut masih tersimpan di Herbarium Munich, Jerman.
Habitat asli kacang sentro membentang dari Hindia Barat dan Meksiko hingga Brasil serta Argentina. Seiring waktu, tanaman ini diperkenalkan ke berbagai kawasan tropis di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia, hingga akhirnya tumbuh alami di banyak tempat.

Polong kacang sentro (Centrosema molle) yang masih muda berwarna hijau

Keunggulan kacang sentro bukan hanya pada kemampuannya bertahan hidup. Tanaman ini relatif tahan terhadap kekeringan, mampu tumbuh pada tanah yang miskin hara maupun lahan dengan drainase kurang baik, serta cukup tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Karena mudah berbunga dan menghasilkan biji, penyebarannya pun berlangsung cepat.
Bagi peternak, kacang sentro merupakan sumber hijauan bernilai tinggi [
5Karyati, & Adhi, M. A. (2018). Jenis-jenis Tumbuhan Bawah di Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Dewi Embong Bulan, Ed.; Februari 2018, p. i-xi + 111). Samarinda: Mulawarman University Press. https://fahutan.unmul.ac.id/dosen/karyati/assets/buku/Buku_Jenis-jenis_Tumbuhan_Bawah.pdf
]. Sebagai tanaman leguminosa, kandungan proteinnya cukup tinggi sehingga sering dicampurkan dengan rumput sebagai pakan ternak [
6Kusuma, N. A., & Suryani, T. (2017). Eksplorasi Tumbuhan Obat di Kawasan Hutan Alam Girimanik Setren Kecamatan Slogohimo Wonogiri. In Proceeding Biology Education Conference (Vol. 14, Issue 1, pp. 88–92). Universitas Sebelas Maret Surakarta. https://jurnal.uns.ac.id/prosbi/article/viewFile/18708/14816
]. Tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai hijauan potong dan angkut maupun sebagai sumber protein tambahan di padang penggembalaan.
Perannya di bidang pertanian tidak kalah penting. Selama ratusan tahun, kacang sentro digunakan sebagai tanaman penutup tanah di berbagai perkebunan di Jawa dan Malaysia [
7Makiling Center for Mountain Ecosystems. (2026, April 01). Pukingan is MBG’s Plant of the Month for March 2026 – An ASEAN Heritage Park. Mount Makiling Forest Reserve. https://makiling.center/pukingan-is-mbgs-plant-of-the-month-for-march-2026/?fbclid=IwY2xjawTQc0ZleHRuA2FlbQIxMABicmlkETFvVGhUeFQ0M0NGcGZuaWw4c3J0YwZhcHBfaWQQMjIyMDM5MTc4ODIwMDg5MgABHizUiVoQmtUw-shmKi5nkJeSYb4kdU91VjgCktmthxyOs-VHb2S33wNXeNgk_aem_4ftTqJSfSMSHxhswJBaB0w
]. Melalui hubungan simbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen pada akarnya, tanaman ini membantu memperkaya unsur hara tanah secara alami. Kehadirannya menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, sekaligus meningkatkan kesuburan lahan sehingga sering dimanfaatkan pula sebagai pupuk hijau.

Tanaman kacang sentro (Centrosema molle) merambat di batang pohon kelapa yang berada di depan Poskesdes Kalirejo di Dusun Kalirejo RT 02 RW 07 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Saat saya mengamati bunga-bunganya, seekor kupu-kupu demit alang (Udaspes folus) tampak berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya. Kehadiran serangga itu menjadi bukti bahwa kacang sentro juga menyediakan nektar yang penting bagi berbagai jenis penyerbuk. Di balik penampilannya yang sederhana, tanaman ini ikut menopang keseimbangan ekosistem.
Menariknya lagi, sejumlah masyarakat di berbagai negara telah lama memanfaatkan kacang sentro sebagai obat tradisional. Masyarakat adat di Provinsi Maguindanao, Filipina, menggunakan tanaman ini untuk membantu mengobati luka. Di Laos, tanaman ini dimanfaatkan sebagai ramuan untuk gigitan kalajengking dan ular. Sementara di Nigeria, daunnya digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit kulit. Penelitian modern pun mulai menunjukkan adanya potensi senyawa bioaktif yang dapat membantu proses penyembuhan luka [
8Interino, J. O., Alombro, N. C., & De Vera, P. J. D. (2023). Cytotoxic activity of Centrosema molle leaf aqueous extracts. Bangladesh Journal of Pharmacology, 18(1), 33–35. https://doi.org/10.3329/bjp.v18i1.62627
], meskipun manfaat tersebut masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut mengenai keamanan dan efektivitasnya.
Pengalaman menjumpai kacang sentro di sekitar Poskesdes Kalirejo menjadi pengingat bahwa tidak semua tumbuhan liar layak dipandang sebelah mata. Sebagian di antaranya justru memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan kesehatan yang besar. Tanaman yang sering dianggap gulma itu ternyata mampu menyediakan pakan ternak, memperbaiki kesuburan tanah, memberi makan kupu-kupu, hingga menyimpan potensi sebagai sumber obat.
Barangkali, pelajaran terbesar dari kacang sentro adalah bahwa manfaat tidak selalu tumbuh dari tanaman yang sengaja ditanam. Kadang-kadang, ia justru menjalar diam-diam di sudut pekarangan, berbunga ungu pucat, lalu menunggu seseorang berhenti sejenak untuk mengenalnya. *** [250726]


logoblog

Thanks for reading Centrosema molle, Kacang Sentro Berbunga Ungu Pucat

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog