Di sekitar rumah Kamituwo Sempu, Dusun Sempu RT 03 RW 02, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, perhatian bisa saja tersedot pada kegiatan pemeriksaan spirometri ketiga. Namun, jika sejenak menoleh ke halaman rumah warga, ada pemandangan lain yang tak kalah menarik, yaitu perdu-perdu berbunga kuning yang tumbuh menghiasi pekarangan.
Daunnya tampak mengilap, sementara bunganya berbentuk tabung dengan rupa sederhana tetapi menawan. Uniknya, warna bunga tidak berhenti pada satu corak. Ketika baru mekar, mahkotanya berwarna putih, kemudian perlahan berubah menjadi kuning krem dalam hitungan beberapa hari.
Tanaman itu dikenal masyarakat Indonesia sebagai melati kosta atau melati costa. Karena bunganya mengalami perubahan warna, nama melati kosta kuning juga kerap digunakan dalam perdagangan tanaman hias. Namun, di dunia internasional, tanaman ini mempunyai julukan yang jauh lebih puitis: Lady of the Night - sang perempuan malam.
![]() |
| Bunga melati kosta (Brunfelsia americana) |
Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Menjelang malam, bunganya mengeluarkan aroma yang kuat dan harum, seolah menghadirkan parfum alami di antara sunyinya pekarangan. Wangi inilah yang menjadi salah satu daya tarik utama Brunfelsia americana, selain bentuk bunganya dan perubahan warnanya yang khas.
Secara ilmiah, tanaman tersebut bernama Brunfelsia americana L. Ia termasuk keluarga Solanaceae, atau suku terong-terongan, satu keluarga dengan berbagai tanaman yang sehari-hari akrab dengan manusia, seperti cabai, tomat, terung, dan kentang.
Nama genus Brunfelsia merupakan penghormatan kepada Otto Brunfels (1489–1543), dokter, ahli botani, sekaligus teolog asal Jerman [
1Plowman, T. (1977). BRUNFELSIA IN ETHNOMEDICINE. Botanical Musfum Leaflets, 25(10), 289–320. https://ia902800.us.archive.org/22/items/biostor-160946/biostor-160946.pdf
]. Sementara itu, epitet americana merujuk pada asal persebarannya di Benua Amerika [2Flora & Fauna Web. (n.d.). Brunfelsia americana. NParks. Retrieved August 16, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/1/7/1732
].![]() |
| Daun melati kosta (Brunfelsia americana) |
Nama ilmiah Brunfelsia americana pertama kali dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707–1778) pada 1753 dan dimuat dalam Species Plantarum [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus I). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358012
], karya penting dalam sejarah tata nama tumbuhan.Perjalanan nama tanaman ini ternyata cukup panjang. Di berbagai belahan dunia, Brunfelsia americana dikenal dengan sebutan yang berbeda. Di negara-negara berbahasa Inggris, misalnya, ia disebut Lady of the Night, franciscan raintree, atau American brunfelsia. Di Swedia dikenal sebagai nattbrunfelsia, sedangkan di Jerman disebut Weisse brunfelsia. Di Thailand terdapat nama phud takhæng, di Jepang Amerikabanmatsuri, sementara di sejumlah wilayah Karibia dan Amerika Latin muncul nama seperti manchu, dama de noche, empoisonneur, dan tulipan sencillo.
Nama-nama itu menjadi penanda bahwa tanaman ini telah menempuh perjalanan jauh dari wilayah asalnya. Brunfelsia americana berasal dari kawasan Karibia hingga Venezuela. Dari wilayah tersebut, tanaman kemudian dibawa ke Afrika bagian tengah dan tenggara sebelum akhirnya menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara sebagai tanaman hias.
![]() |
| Batang bawah melati kosta (Brunfelsia americana) |
Di balik kecantikan dan semerbak aromanya, tanaman ini menyimpan sisi lain yang perlu diperhatikan. Secara etnobotani, Brunfelsia americana tidak hanya dihargai sebagai tanaman penghias halaman. Aroma bunganya, terutama pada malam hari, membuatnya menarik sebagai tanaman ornamental. Namun, sejumlah bagian tanaman juga diketahui mengandung senyawa bioaktif dan bersifat beracun apabila tertelan.
Timothy Plowman dalam kajiannya, Brunfelsia in Ethnomedicine (1977), mencatat sejumlah pemanfaatan tradisional tanaman dari genus ini. Di Kepulauan Antilles, misalnya, buah Brunfelsia americana dilaporkan memiliki sifat astringen dan secara tradisional digunakan sebagai tonik untuk membantu mengatasi diare kronis serta gangguan lambung. Di Pulau Dominika, tanaman yang dikenal dengan nama empoisonneur bahkan pernah dimanfaatkan sebagai racun oleh masyarakat Island Carib.
Kandungan kimia tanaman ini pun menjadi perhatian. Senyawa sianida dilaporkan terdeteksi pada daun dan bunga, juga pada kulit batang serta akar. Selain itu, keberadaan asam klorogenat pernah dilaporkan pada bagian daunnya [
1Plowman, T. (1977). BRUNFELSIA IN ETHNOMEDICINE. Botanical Musfum Leaflets, 25(10), 289–320. https://ia902800.us.archive.org/22/items/biostor-160946/biostor-160946.pdf
]. Karena itu, pesona tanaman ini sebaiknya dinikmati sebagai keindahan pekarangan, bukan sebagai bahan untuk dikonsumsi tanpa pengetahuan dan pengawasan yang tepat.![]() |
| Tanaman melati kosta (Brunfelsia americana) di Dusun Sempu RT 03 RW 02 Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Kini, di halaman-halaman rumah warga Dusun Sempu, tanaman tersebut hadir dalam bentuk yang sederhana, yakni perdu berbunga, daun hijau mengilap, dan aroma yang menguat ketika malam datang.
Di sela aktivitas warga dan kegiatan pemeriksaan kesehatan, Brunfelsia americana seolah menawarkan cerita kecil tentang bagaimana sebuah tanaman dari kawasan Amerika dapat berakar di pekarangan Banyuwangi.
Siang hari ia menarik perhatian dengan bunga yang perlahan berubah warna. Ketika malam tiba, justru aromanya yang mengambil peran. Putih berganti kuning, rupa berganti wangi, dan dari sebuah halaman rumah, Lady of the Night mengingatkan bahwa tumbuhan sering kali menyimpan kisah panjang, yaitu tentang perjalanan lintas benua, pengetahuan tradisional, ilmu botani, sekaligus keindahan yang diam-diam bekerja setelah matahari tenggelam. *** [1600826]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar