"On the beach, you can live in happiness." -- Dennis Wilson
Pagi mulai beranjak ketika CFD di Desa Karetan usai. Namun hari belum ingin ditutup. Tiga enumerator baseline survey NHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) - Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; Nisaul Rofifah, S.Gz.; dan Rahmanurraudhotul Amin, SKM - mengajak melanjutkan perjalanan ke Pantai Grajagan, pada Ahad (09/08).
Jaraknya sekitar 12 kilometer. Tidak jauh. Tetapi perjalanan itu seperti membuka halaman lain dari hari yang sama, dan membelah Alas Karetan sisi selatan.
![]() |
| Pantai Grajagan di Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi |
Jika CFD menghadirkan keramaian, Grajagan menawarkan ruang. Jika jalan sebelumnya dipenuhi aktivitas manusia, di sini suara paling dominan justru datang dari alam, yakni ombak.
Pantai Grajagan berada di Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Pantai ini merupakan bagian dari bentang pesisir selatan Banyuwangi, berdekatan dengan sejumlah destinasi pantai lain, seperti Plengkung atau G-Land dan Pulau Merah.
Pariwisata Banyuwangi menyebut Grajagan sebagai pantai yang dikenal wisatawan lokal maupun mancanegara, antara lain karena panorama alam dan ombaknya yang besar. Tetapi statistik wisata tak banyak berarti ketika kaki telah menjejak tepian pantai. Yang terasa adalah keluasan.
Pantai Grajagan menghadap langsung ke Samudra Indonesia. Di hadapannya, garis cakrawala tampak seperti batas yang sengaja dibuat samar. Di belakang, bukit dan vegetasi tropis memberi warna hijau. Batu-batu karang berdiri di beberapa bagian pantai, menjadi sasaran empuk gelombang yang datang silih berganti. Ombak menghantam karang. Pecah. Surut. Lalu datang lagi.
![]() |
| Beberapa vegetasi yang ada di kawasan Pantai Grajagan |
Grajagan memiliki wajah yang agak liar. Pantainya bukan sekadar bentangan pasir untuk berjemur. Bukit, hutan, karang dan laut bertemu dalam satu lanskap. Dari tempat yang lebih tinggi, bentangan samudra dapat dilihat lebih luas. Bagi fotografer, komposisinya nyaris selalu tersedia, seperti laut, langit, bukit, perahu, dan gerak ombak.
Bagi peselancar, cerita itu berbeda. Ombak besar adalah tantangan. Grajagan memang dikenal sebagai salah satu kawasan yang menarik bagi penggemar selancar. Reputasinya tumbuh seiring perkembangan wisata selancar di pesisir selatan Banyuwangi.
Bahkan penelitian sejarah pariwisata mencatat Pantai Grajagan mulai dibuka sebagai objek wisata pada 1987 dan berkembang pada dekade 1990-an, ketika wisata alam menjadi salah satu fokus pengembangan pariwisata Banyuwangi [
1Nurullita, H., & Munawaroh, A. (2025). Lagunya Menggaung Pantainya Sepi Pengunjung: Grajagan 1990-2015. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(2), 2326–2334. https://doi.org/10.31004/innovative.v5i2.12331
].Dekade 1990-an adalah masa ketika nama Grajagan terdengar kuat. Kepopulerannya bahkan diabadikan dalam lagu berjudul sama. Namun nama besar tidak selalu membuat sebuah tempat terus ramai.
![]() |
| Berdiri di atas batu karang pantai, di bawah langit membiru, dan diiringi deburan ombak Samudra Indonesia |
Seiring berkembangnya destinasi lain di Banyuwangi, Pantai Grajagan perlahan meredup. Infrastruktur dan fasilitas yang belum memadai membuat pantai legendaris ini seperti kehilangan panggung. Ia tidak benar-benar pergi. Hanya menepi dari ingatan wisatawan.
Kini terbersit kabar, Pantai Grajagan akan ditata ulang. Selain wisata alam, kawasan Grajagan akan dikembangkan menjadi wisata adventure. Atraksi wisata juga diperluas, antara lain susur sungai dan hutan mangrove, fishing trip, serta aktivitas selancar. Pengelola menyebut suasana rindang dan tidak terlalu padat tetap dipertahankan.
Ada ironi kecil di sana. Untuk menghidupkan kembali sebuah pantai tua, manusia harus menambahkan banyak hal. Fasilitas, penginapan, restoran, aktivitas wisata. Padahal, sebagian daya tarik Pantai Grajagan justru sudah tersedia sejak dahulu, yaitu suara laut.
Berjalan di pantai tanpa tujuan tertentu terasa seperti aktivitas sederhana yang nyaris tidak memiliki nilai produktivitas. Tidak ada target. Tidak ada tenggat. Tidak ada notifikasi yang perlu segera dibalas. Hanya langkah kaki dan ombak.
![]() |
| Perahu nelayan yang bersandar di darat karena air laut lagi surut |
Suara ombak dapat menjadi semacam white noise alami. Literatur yang dirujuk dalam tulisan Mubara Khalid mengenai efek suara ombak terhadap pikiran menjelaskan bahwa suara alam yang berulang dan stabil dapat membantu menghadirkan keadaan rileks. Suara laut juga kerap dikaitkan dengan aktivitas gelombang alfa otak, yang berhubungan dengan kondisi relaksasi [
2Khalid, M. (2024, December 01). The Science of Why Ocean Waves Calm the Mind. Medium. https://medium.com/@mubarakhalid61/the-science-of-why-ocean-waves-calm-the-mind-adc832011f17
].Di Pantai Grajagan, teori itu menemukan bentuk yang sederhana. Duduk beberapa menit di tepi laut, lalu biarkan ombak bekerja. Tidak perlu memaksakan diri untuk tenang. Laut seolah mengerjakannya sendiri.
Angin membawa aroma asin. Mata mengikuti garis cakrawala. Telinga menangkap suara gelombang. Kulit merasakan udara yang bergerak. Dalam beberapa saat, pengalaman di pantai berubah menjadi pengalaman seluruh indra.
Barangkali itu sebabnya perjalanan singkat setelah CFD terasa cukup berarti. Kami datang bukan untuk menaklukkan Pantai Grajagan. Tidak pula untuk mengejar petualangan besar. Kami hanya berjalan, melihat laut, berbincang, sesekali mengambil gambar, lalu menikmati waktu yang bergerak lebih lambat.
![]() |
| Terlihat tiga enumerator baseline survey sedang bercengkerama dalam kerukunan di tepi Pantai Grajagan |
Pantai Grajagan sendiri menyimpan sejarah yang lebih panjang daripada kunjungan kami. Di kawasan pantai terdapat gua-gua yang pernah digunakan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Pantai ini juga menjadi tempat nelayan berangkat dan kembali dari laut, membuat lanskap wisata bertaut dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Di situlah Pantai Grajagan menjadi menarik. Ia bukan sekadar pemandangan. Ia adalah ruang tempat alam, sejarah, pekerjaan, olahraga, dan rekreasi bertemu.
Dan mungkin, sebelum segala sesuatu ditata menjadi destinasi wisata lengkap, Pantai Grajagan hanya perlu satu hal untuk kembali dikenali di mana seseorang yang datang, berjalan pelan, lalu menyadari bahwa pantai ini masih memiliki sesuatu untuk dikatakan.
Dennis Wilson (1944-1983), seorang musisi, penyanyi, dan penulis lagu Amerika yang ikut mendirikan Beach Boys, pernah mengatakan:
“Di pantai, Anda bisa hidup dalam kebahagiaan.”
![]() |
| Hotel dan restoran di Pantai Grajagan yang cocok untuk pelatihan |
Hari itu, perjalanan kami memang hanya sekitar 12 kilometer. Namun di ujung perjalanan, rasanya seperti menemukan jarak yang lebih jauh, yaitu jarak antara sibuk dan tenang, antara bergegas dan berjalan pelan, antara hari yang penuh pekerjaan dan beberapa saat ketika kita cukup menjadi manusia yang menikmati laut.
Pantai Grajagan sedang bangun kembali. Tetapi bagi siapa pun yang datang untuk sekadar berjalan, mungkin pantai itu tak pernah benar-benar tidur. *** [130826]







Tidak ada komentar:
Posting Komentar