Kamis, Agustus 06, 2026

Matcha, Rasa Hijau yang Menemani Waktu Santai di Makmur idn

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Agustus 06, 2026
Aroma kopi lebih dulu menyambut ketika saya melangkah masuk ke Makmur idn, Rabu (6/8) siang. Di ruang utama yang sejuk berpendingin udara, suara mesin espresso bersahut dengan percakapan para pengunjung. 
Saya duduk di salah satu sudut ruangan bersama seorang NIHR UB Research Fellow dan tiga enumerator baseline survey. Di tengah semerbak kopi yang memenuhi udara, saya ingin mencoba segelas matcha.
Tak lama berselang, seorang pramusaji meletakkan gelas plastik bening di atas meja. Warna hijau lembut memenuhi hampir seluruh permukaannya. Lapisan es batu mengapung di antara cairan berwarna zamrud muda yang tampak menyegarkan.

Fasad bangunan Makmur idn di Jalan Juanda, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Sebelum mencicipinya, mata lebih dulu menikmati tampilannya. Sederhana, tetapi memikat. Minuman itu seolah menjadi bagian dari suasana kafe yang memang dirancang untuk dinikmati sekaligus diabadikan.
Makmur idn merupakan kafe baru berkonsep industrial yang berlokasi di Jalan Juanda No. 133, Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Bangunannya memadukan unsur beton, besi, dan pencahayaan hangat yang menghadirkan kesan modern sekaligus nyaman. Hampir setiap sudutnya terasa fotogenik. Tak heran jika banyak pengunjung mengabadikan momen sebelum kembali menikmati hidangan yang tersaji.
Kafe ini memiliki halaman parkir yang luas, area indoor dan outdoor yang sama-sama lapang, serta ruang utama ber-AC yang nyaman untuk bekerja, berdiskusi, maupun sekadar melepas penat. Pilihan menunya pun cukup lengkap, mulai dari kopi, minuman nonkopi, hingga aneka makanan dengan harga yang terjangkau. Kehadirannya menambah pilihan destinasi kuliner di kawasan Banyuwangi selatan.
Di antara beragam menu tersebut, saya memilih matcha. Makmur idn menyajikannya dalam dua pilihan, yakni matcha dan creamy matcha. Saya memilih versi original karena ingin merasakan karakter teh hijaunya tanpa banyak tambahan rasa.

Enumerator baseline survey Purwodadi sedang pesan menu

Tegukan pertama menghadirkan sensasi yang khas. Ada sedikit rasa pahit yang segera disusul kelembutan susu. Rasanya tidak berlebihan, justru seimbang dan ringan. Di tengah cuaca Banyuwangi yang hangat, segelas matcha dingin menjadi teman yang pas untuk memperlambat ritme siang itu.
Matcha sendiri merupakan teh hijau yang diolah menjadi bubuk halus. Berbeda dengan teh hijau seduh biasa yang hanya memanfaatkan air hasil seduhan, matcha dikonsumsi bersama seluruh bubuk daunnya setelah dilarutkan. Karena itu, cita rasanya lebih pekat, aromanya lebih kuat, dan meninggalkan karakter yang mudah dikenali.
Perjalanan matcha menuju cangkir-cangkir modern ternyata telah berlangsung selama berabad-abad. Victoria Abbott Riccardi dalam Untangling My Chopsticks: A Culinary Sojourn in Kyoto (2003) menulis bahwa teh pertama kali masuk ke Jepang pada abad keenam melalui para biksu Buddha, cendekiawan, prajurit, dan pedagang Jepang yang kembali dari Tiongkok dengan membawa teh dalam bentuk balok.
Perubahan besar terjadi pada masa Dinasti Song ketika seorang biksu Buddha Jepang bernama Eisai - atau Yosai - membawa pulang benih teh berkualitas tinggi beserta metode pengolahan teh hijau bubuk dari Tiongkok. Benih-benih itu kemudian ditanam di lingkungan kuil-kuil sekitar Kyoto, termasuk di wilayah Uji yang hingga kini dikenal sebagai salah satu penghasil matcha terbaik di Jepang.

Segelas matcha khas Makmur idn

Di kalangan biksu Zen, daun teh muda dikukus, dikeringkan, lalu digiling menjadi bubuk halus. Bubuk tersebut dikocok menggunakan pengocok bambu atau chasen hingga menghasilkan minuman kental yang dipercaya membantu menjaga konsentrasi selama meditasi berlangsung.
Tradisi itu tetap bertahan, meski penyajiannya kini berkembang mengikuti zaman. Di berbagai kafe modern, termasuk Makmur idn, bubuk matcha masih dikocok sebelum dipadukan dengan susu, es batu, atau bahan lain sesuai karakter minuman yang diinginkan.
"Matcha punya rasa yang unik. Awalnya memang agak pahit, tetapi setelah dicampur susu dan sedikit pemanis, rasanya menjadi lebih lembut," ujar bartender di meja pemesanan tadi.
Bukan hanya rasanya yang membuat matcha semakin digemari. Warna hijaunya yang khas menjadikannya mudah dikenali sekaligus menarik untuk difoto. Di era media sosial, segelas matcha sering kali menjadi bagian dari cerita yang ingin dibagikan pengunjung bersama suasana kafe yang mereka datangi.
Hal itu terasa di Makmur idn. Suasana mulai bergeser ketika beberapa pengunjung datang silih berganti. Ada yang membuka laptop, ada yang berbincang santai, sementara yang lain sibuk memilih sudut terbaik untuk mengabadikan momen. Musik mengalun pelan, bias sinar mentari yang hangat merebak dalam ruangan, dan percakapan berlangsung tanpa tergesa.

Melihat ruang outdoor dari ruang utama

Di ruang seperti itu, segelas matcha tidak lagi sekadar pelepas dahaga. Ia menjadi bagian dari pengalaman menikmati waktu. Rasa, aroma, suasana, hingga percakapan di sekitar meja berpadu menjadi satu kesan yang sulit dipisahkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa matcha telah melampaui akar tradisinya. Minuman yang dahulu lekat dengan ritual dan meditasi kini hadir sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Ia menemukan tempat baru di kafe-kafe yang menawarkan ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan.
Di Makmur idn, segelas matcha menjadi pengingat bahwa menikmati waktu tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit. Terkadang, jeda paling sederhana justru hadir dalam warna hijau yang tenang, diiringi alunan musik, obrolan ringan, dan suasana kafe yang membuat siapa pun ingin berlama-lama. *** [060826]


logoblog

Thanks for reading Matcha, Rasa Hijau yang Menemani Waktu Santai di Makmur idn

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog