Rabu, Agustus 05, 2026

Geopelia striata, Perkutut Jawa yang Disukai Raja

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Agustus 05, 2026
“Jikalau aku mendengarkan burung perkutut
menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung perkutut.
Aku mendengarkan Indonesia." -- Soekarno
Tatkala meneguk segelas es degan di bawah rindangnya pohon beringin sambil memandangi aliran kanal yang mengalir tenang, siang di Warung Beringin Asri Talang terasa rileks dan sejuk. Angin berembus lembut, dedaunan bergoyang pelan, sementara suara air mengalir menjadi latar yang menenangkan.
Di tengah suasana itu, seekor burung perkutut tiba-tiba hinggap tepat di depan saya. Burung kecil itu melangkah perlahan di atas tanah, mematuki sisa-sisa buliran padi yang tercecer. Sesekali ia menengadahkan kepala, mengawasi keadaan sekitar.
Tak lama kemudian datang seekor perkutut lain. Awalnya keduanya tampak acuh, tetapi beberapa detik kemudian mereka saling berhadapan. Kepala dirundukkan, dada sedikit membusung, sementara ekor dijulang tinggi. Mereka saling mengintimidasi dalam pertengkaran singkat memperebutkan buliran jagung yang tercecer.
Pemandangan itu berlangsung tidak lebih dari semenit. Salah satunya akhirnya mengalah dan terbang menjauh, sementara pemenangnya kembali memungut makanan dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Peristiwa sederhana itu menjadi pengingat bahwa burung perkutut bukan sekadar penghuni pekarangan. Di balik tubuh mungilnya tersimpan sejarah panjang yang menghubungkan alam, ilmu pengetahuan, kebudayaan Jawa, bahkan politik Indonesia modern.

Burung perkutut Jawa (Geopelia striata) yang sedang mencari buliran ceceran jagung di sekitar Warung Beringin Asri Talang di Dusun Krajan RT 05 RW 01 Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Merpati Tanah yang Bergaris
Perkutut Jawa mempunyai nama ilmiah Geopelia striata (Linnaeus, 1766) dan termasuk famili Columbidae, keluarga besar burung merpati dan dara.
Tubuhnya ramping dengan panjang sekitar 20–23 sentimeter. Warna bulunya didominasi abu-abu kecokelatan. Hampir seluruh bagian punggung, sayap, leher, hingga dada dihiasi garis-garis hitam halus menyerupai motif zebra. Pola inilah yang membuat masyarakat internasional mengenalnya sebagai zebra dove atau barred ground dove.
Bagian tenggorokan hingga dada bawah dihiasi semburat merah muda, sedangkan wajahnya berwarna abu-abu kebiruan dengan iris mata biru cerah. Di sekeliling mata terdapat cincin kulit berwarna biru pucat. Paruh berwarna kebiruan, kaki merah muda, dan saat terbang tepian putih pada bulu ekornya tampak mencolok.
Keindahan burung ini justru terletak pada kesederhanaannya. Tidak memiliki warna mencolok seperti burung tropis lain, tetapi pola garis-garis halus pada bulunya menghadirkan kesan elegan.

Dari Linnaeus hingga Swainson
Nama genus Geopelia berasal dari bahasa Yunani, yaitu geō yang berarti tanah dan peleia yang berarti merpati [
1World Bird Names. (n.d.). Diamond Dove / Geopelia cuneata. World Bird Names. Retrieved August 04, 2026, from https://www.worldbirdnames.com/bird/diamond-dove/2097.html
]. Nama itu menggambarkan kebiasaannya mencari makan di permukaan tanah.
Sementara itu, julukan khusus striata berasal dari bahasa Latin striatus, berarti bergaris atau bercorak [
2The Australian Museum. (n.d.). White-fronted Tern. The Australian Museum. Retrieved August 04, 2026, from https://australian.museum/learn/animals/birds/white-fronted-tern/
], mengacu pada bulu-bulu yang dimiliki burung tersebut.
Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh naturalis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pada tahun 1766 sebagai Columba striata dalam karya monumentalnya Systema Naturae [
3Linné, Carl von. (1766). Caroli a Linné ... Systema naturae: per regna tria natura, secundum classes, ordines, genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymis, locis. (Tomus 1). Holmiae: Impensis direct. Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/42946197
].
Pada tahun 1837, ahli zoologi Inggris William Swainson (1789-1885) memperkenalkan genus Geopelia, sehingga spesies tersebut direklasifikasi menjadi Geopelia striata (Linnaeus, 1766). Penulisan nama Linnaeus di dalam tanda kurung menunjukkan bahwa spesies itu mula-mula dideskripsikan dalam genus yang berbeda.
Kini perkutut Jawa tersebar luas mulai dari Thailand selatan, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei Darussalam, Filipina, hingga Australia bagian utara. Di Indonesia burung ini mudah dijumpai di pekarangan, persawahan, kebun, taman kota, hingga kawasan permukiman.

Burung dengan Seribu Nama
Luasnya persebaran membuat burung ini memiliki banyak nama. Di Inggris disebut zebra dove atau barred ground dove, di Jerman Sperbertäubchen, di Belanda zebraduif, di Prancis géopélie zébrée, di Spanyol tortolita estriada, di Portugal rola-zebra-comum, di Turki zebra kumrusu, di Malaysia dikenal sebagai merbuk, sedangkan di Indonesia lebih akrab disebut perkutut Jawa atau perkutut ketitir.
Di mana pun namanya, masyarakat mengenali burung ini melalui satu ciri yang sama, yaitu garis-garis halus yang menghiasi tubuhnya.

Dua burung perkutut Jawa (Geopelia striata) yang sedang memperebutkan wilayah di tepi kanal peninggalan Belanda depan Warung Beringin Asri Talang

Burung Kesayangan Raja
Bagi masyarakat Jawa, perkutut jauh melampaui fungsi ekologisnya. Ia merupakan simbol kebijaksanaan, kewibawaan, dan ketenteraman.
Tradisi memelihara perkutut telah berlangsung sejak masa kerajaan-kerajaan Jawa. Salah satu naskah penting yang membahasnya adalah Serat Ngalamating Kutut [
4Anggraini, M. (2017). Burung yang Baik Dipelihara dan Tidak dalam Serat Ngalamating Kutut. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra, 12(3), 20. https://doi.org/10.14710/nusa.12.3.20-29
], koleksi Kraton Yogyakarta. Serat yang terdiri atas 19 bait tersebut menguraikan berbagai mitos mengenai jenis-jenis perkutut yang dipercaya membawa keberuntungan maupun kesialan.
Kepercayaan itu berkaitan dengan legenda Joko Mangu, seekor burung perkutut yang diyakini sebagai jelmaan seorang pangeran Pajajaran sekaligus burung kesayangan Prabu Brawijaya V.
Menurut kisah tersebut, setelah burung itu terbang lepas dan akhirnya ditemukan kembali di wilayah Yogyakarta, tradisi memelihara perkutut diwariskan kepada raja-raja Mataram. Dari lingkungan kraton, kebiasaan itu kemudian menyebar ke masyarakat luas dan menjadi bagian dari budaya Jawa.
Tak mengherankan apabila hingga kini banyak keluarga Jawa masih mempercayai bahwa jenis perkutut tertentu dapat membawa kewibawaan, rezeki, perlindungan, maupun keberuntungan bagi pemiliknya.

Anggungan yang Diperlombakan
Selain mitos, daya tarik utama perkutut terletak pada anggungannya. Para penggemar mengenal pola suara ideal dengan ungkapan "hur ketuk kuk kuk".
Keindahan irama inilah yang melahirkan tradisi lomba suara perkutut yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Dalam buku Ethno-ornithology: Birds, Indigenous Peoples, Culture and Society (2010), Hans Tidemann dan Mike Gosler menjelaskan bahwa hingga pertengahan 1970-an Geopelia striata merupakan spesies utama yang diperlombakan di Asia Tenggara.
Popularitasnya semakin meningkat karena memperoleh dukungan Presiden Soeharto. Menurut penulis tersebut, Soeharto memandang suara perkutut sebagai lambang ketenteraman dan stabilitas masyarakat pedesaan.
Sebagai burung non-passerine, lagu perkutut sebagian besar merupakan sifat bawaan yang diwariskan secara genetik. Karena itu, burung dengan kualitas suara terbaik mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Burung juara beserta keturunannya menjadi komoditas bernilai besar sekaligus simbol prestise di kalangan penghobi [
5Tidemann, S., & Gosler, A. (2010). Ethno-ornithology: Birds, Indigenous Peoples, Culture and Society (pp. i-xxii–354). London: Earthscan. https://png-data.sprep.org/system/files/Ethno-ornithology_and_Biological_Conserv.pdf
].

Mendengarkan Indonesia
Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno (1901-1970) dalam puisi Aku Melihat Indonesia pernah mengucapkan kalimat yang hingga kini terus dikenang:
"Jikalau aku mendengarkan burung perkutut menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi, bukan lagi aku mendengarkan burung perkutut. Aku mendengarkan Indonesia."
Kutipan itu menggambarkan bahwa suara perkutut bukan sekadar bunyi alam. Di dalamnya ada sawah yang menguning, embun pagi, pohon-pohon besar di desa, halaman rumah Jawa, serta perjalanan panjang kebudayaan Nusantara.
Siang itu, ketika dua ekor perkutut bertengkar di bawah pohon beringin Warung Beringin Asri Talang, saya sesungguhnya sedang menyaksikan lebih dari sekadar perilaku satwa liar. Saya sedang melihat warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Barangkali karena itulah, anggungan seekor perkutut selalu terasa akrab di telinga orang Indonesia. Ia bukan hanya suara seekor burung, melainkan gema alam, sejarah, dan kebudayaan yang terus menghubungkan masa lalu dengan masa kini. *** [050826]


logoblog

Thanks for reading Geopelia striata, Perkutut Jawa yang Disukai Raja

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog