Senin, Agustus 10, 2026

Menemukan Kunci Kuppi di Lereng Ijen

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Agustus 10, 2026
I'll eat the hell out of a bagel. That's what I do.” -- Jade Puget
Jalan menuju Kunci Kuppi tidak mengundang orang untuk mampir secara kebetulan. Dari arah Banyuwangi kota, perjalanan menuju kawasan lereng Gunung Ijen harus melewati jalan yang berkelok, lalu berbelok ke jalan kecil sebelum Pasar Licin. Setelah melewati sebuah pertigaan, jalan kembali menyempit dan menanjak. Di ujungnya, sebuah kafe muncul di antara hamparan sawah.
Sore itu, sepulang dari koordinasi dengan manajemen Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi, saya diajak Research Fellow NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan sejumlah enumerator baseline survey NIHR Global health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) untuk berhenti sejenak di sana. Kami hendak nongki sebelum kembali ke basecamp.

Fasad bangunan Kunci Kuppi Cafe & Bakehouse Banyuwangi

Kunci Kuppi Cafe & Bakehouse berada di Dusun Putuk RT 01 RW 02, Desa Banjar, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Letaknya cukup tersembunyi. Namun justru karena lokasinya yang “ndelik” itu, Kunci Kuppi belakangan dikenal sebagai salah satu hidden gem di Banyuwangi.
Tempat ini merupakan hasil relokasi dan transformasi dari Kunci Rumah Kopi, kedai yang sebelumnya berada di sebelah barat Pasar Licin. Setelah berpindah ke Desa Banjar, konsepnya berkembang. Bukan hanya kedai kopi, Kunci Kuppi juga membawa identitas sebagai micro bakery.
Memasuki ruang kafe, suasananya segera berubah. Dekorasi retro memenuhi ruang. Warna-warna cerah, pola geometris, dan bentuk perabot yang mengingatkan pada desain interior masa lalu membawa pengunjung pada nuansa 1950-an hingga 1980-an. Namun, nostalgia itu tidak hadir secara berlebihan. Elemen-elemen modern tetap membuat ruang terasa fungsional dan nyaman untuk duduk berlama-lama.

Interior ruang utama yang berdekorasi retro

Dari dalam ruangan, pemandangan sawah menjadi latar yang sulit diabaikan. Hamparan hijau membentang di sekitar kafe. Angin dari kawasan dataran tinggi bergerak pelan. Udara yang sejuk membuat aktivitas sederhana seperti duduk, berbincang, dan menyeruput minuman terasa lebih menyenangkan.
Kunci Kuppi tampaknya memang dibangun dengan gagasan tentang rumah. Dari dapur sederhana di sebuah desa kecil Banyuwangi, pengelolanya mengembangkan gagasan bahwa makanan yang baik tidak harus rumit. Ia harus terasa jujur, hangat, dan dibuat dengan sepenuh hati.
Dari gagasan itu lahir aneka artisanal bake. Ada bagel, sourdough, focaccia, tart, hingga kue klasik seperti Earl Grey Tigre. Pilihan saya sore itu jatuh pada Tuna Sambal Mata Aji Verde Bagel dan Kombucha Fermented Tea.

Nongki di Kunci Kuppi Cafe & Bakehouse Banyuwangi

Bagel
tersebut tidak datang dengan tampilan yang berlebihan. Namun ketika dipotong dan disantap, lapisan rasanya mulai muncul satu per satu. Tekstur bagel yang kenyal menjadi dasar yang pas untuk isian tuna dengan sambal matah. Gurihnya tuna bertemu aroma bawang dan sensasi pedas segar sambal matah.
Saus aji verde kemudian memberikan karakter lain. Rasa segarnya membuat isian tuna terasa lebih ringan, sementara krim keju menyumbangkan tekstur lembut dan rasa gurih yang menenangkan. Perpaduan itu membuat satu gigitan terasa lengkap, ada gurih, pedas, asam-segar, sekaligus creamy.
Bagel rupanya memang punya kemampuan membuat orang sulit berhenti pada satu gigitan. Kalimat Jade Errol Puget, seorang musisi dan produser Amerika, terasa relevan untuk menggambarkannya: 
“Saya bisa melahap bagel dengan sangat lahap. Memang begitulah saya.”
Tuna Sambal Mata Aji Verde Bagel

Kombucha Fermented Tea
menjadi pasangan yang berbeda karakter. Minuman hasil fermentasi teh manis dengan bantuan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) itu menawarkan rasa asam yang ringan, segar, dan sedikit berkarbonasi. Sensasinya seperti membersihkan kembali langit-langit mulut setelah menikmati bagel yang gurih dan creamy.
Perpaduan keduanya membuat sore di Kunci Kuppi terasa lengkap. Bagel mengisi perut, kombucha menyegarkan tenggorokan, sementara pemandangan sawah membuat mata punya alasan untuk sesekali meninggalkan layar handphone.
Nongki di tempat seperti ini bukan semata perkara menu. Ada pengalaman yang ikut disantap: perjalanan menuju lokasi, udara pegunungan, interior retro, percakapan yang mengalir, dan pemandangan pedesaan yang terbuka di depan mata.

Kombucha Fermented Tea

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Saya mengajak Research Fellow NIHR UB dan para enumerator turun dari lereng Ijen. Kami harus kembali ke basecamp.
Saya sendiri masih memiliki agenda lain, yaitu menghadiri undangan tasyakuran Rio Dita Wibawa di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring.
Kunci Kuppi pun ditinggalkan bersama udara sejuk lereng Ijen dan hamparan sawah yang mulai diselimuti cahaya sore. Tempat itu mungkin memang tersembunyi. Tetapi bagi mereka yang bersedia mengikuti jalan kecil yang menanjak, Kunci Kuppi menawarkan sesuatu yang semakin jarang ditemukan di tengah kesibukan, yakni sebuah alasan sederhana untuk berhenti sebentar.
Di sana, nongki tidak terasa sebagai kegiatan untuk menghabiskan waktu. Ia justru menjadi cara untuk menikmatinya. *** [100826]


logoblog

Thanks for reading Menemukan Kunci Kuppi di Lereng Ijen

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog