Minggu, Agustus 09, 2026

Menanti Siang di Pinarak Coffee & Dining

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Agustus 09, 2026
Keluar dari Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi menjelang pukul 10.00 WIB, perjalanan saya bersama Research Fellow NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan sejumlah enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) belum serta-merta berlanjut menuju RS Yasmin Banyuwangi. Masih ada jeda waktu sekitar tiga jam sebelum agenda berikutnya dimulai.
Pertemuan dengan pihak manajemen RS Yasmin baru dijadwalkan pukul 13.00 WIB, atau setelah salat Jumat. Daripada membiarkan waktu berlalu begitu saja di dalam kendaraan, kami memutuskan mencari tempat untuk beristirahat sejenak. Pilihan kemudian jatuh pada Pinarak Coffee & Dining, sebuah kafe yang berada di Jalan Kepiting No. 77, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi.
Pinarak menjadi persinggahan kecil di tengah padatnya agenda kerja. Begitu tiba, Tim NIHR UB mengambil waktu untuk nongki, berbincang, dan memesan sejumlah minuman. Suasana kafe memberi kesempatan untuk mengendurkan ketegangan setelah aktivitas di rumah sakit sebelumnya. Tiga jam yang semula terasa panjang perlahan berubah menjadi jeda yang justru menyenangkan.

Pinarak Coffee & Dining di Jalan Kepiting No. 77, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi

Di antara beragam pilihan yang tersedia, saya tertarik untuk mencoba es teler panna cotta. Namanya saja sudah mengundang rasa penasaran. Es teler yang lekat dengan cita rasa Nusantara dipertemukan dengan panna cotta, dessert lembut dari Italia. Dua karakter kuliner yang berbeda itu ternyata dapat bertemu dalam satu mangkuk dengan cara yang begitu menarik.
Panna cotta disajikan dingin bersama potongan buah segar. Alpukat, kelapa muda, nangka, nata de coco, dan puding berpadu dalam satu sajian. Di atasnya terdapat saus gula yang memberikan sentuhan manis, sementara bulatan es krim ala bingsoo menjadi topping yang membuat tampilannya semakin menggoda. Daun ketumbar yang diletakkan di atas sajian menghadirkan aksen aroma yang tak biasa.
Ketika sesendok es teler panna cotta masuk ke mulut, kelembutan panna cotta menjadi kesan pertama yang terasa. Teksturnya halus, creamy, dan lembut seperti puding sutra, tetapi tetap memiliki kekenyalan tipis yang membuatnya tidak terasa berat. Rasanya menghadirkan nuansa gurih-manis yang lembut. Setelah itu, potongan alpukat memberikan tekstur lembut dan sedikit buttery, kelapa muda menghadirkan sensasi renyah-segar, sedangkan nangka menyumbangkan aroma tropis yang kuat.

Nongki di Pianrak Coffee & Dining Banyuwangi

Saus gula kemudian menyatukan semuanya. Manisnya tidak sekadar menjadi pemanis, melainkan menjadi pengikat berbagai tekstur dan rasa dalam satu suapan. Nata de coco menambahkan sensasi kenyal, sementara dinginnya es krim memberikan kesegaran yang semakin terasa, terutama ketika berpadu dengan panna cotta dan buah-buahan.
Es teler panna cotta bukanlah hidangan tradisional kuno. Ia merupakan kreasi fusion dessert modern yang mempertemukan dua dunia kuliner. Panna cotta sendiri merupakan makanan penutup tradisional dari kawasan Piemonte, Italia, yang dibuat dari krim, susu, gula, dan gelatin. Adonan tersebut dimasak kemudian didinginkan hingga menghasilkan tekstur lembut menyerupai puding sutra.
Di Pinarak, karakter klasik panna cotta tersebut mendapatkan sentuhan Indonesia melalui elemen-elemen es teler. Alpukat, nangka, dan kelapa muda yang biasanya menjadi bagian dari sajian es teler dipertemukan dengan kelembutan dessert Italia. Hasilnya adalah sajian yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menawarkan pengalaman rasa lintas budaya dalam satu mangkuk.

Es teller panna cotta ala Pinarak Coffee & Dining Banyuwangi

Waktu terus berjalan. Setelah menikmati sajian dan berbincang bersama tim, saya menyempatkan diri menunaikan salat Jumat di sebuah masjid di sekitar kafe. Letaknya berada di sisi timur lampu merah. Seusai salat, agenda belum langsung berlanjut. Saya kembali ke Pinarak dan nongki bersama tim sembari menunggu jarum jam mendekati pukul 13.00 WIB.
Penantian itu akhirnya tiba di penghujung. Menjelang pukul 13.00 WIB, saya bersama Research Fellow NIHR UB bersiap meninggalkan Pinarak. Kami kemudian bergerak menuju RS Yasmin Banyuwangi untuk memenuhi agenda yang telah dijadwalkan.
Perjalanan dilanjutkan menggunakan Mitsubishi Xpander berwarna hitam yang dikemudikan Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos., enumerator baseline survey Desa Purwodadi. 
Dari sebuah jeda sederhana di Pinarak Coffee & Dining, perjalanan kerja kembali dimulai. Tiga jam penantian yang semula hanya sela waktu akhirnya meninggalkan cerita tersendiri, yaitu tentang semangkuk es teler panna cotta, obrolan ringan, dan sebuah persinggahan yang membuat perjalanan tugas di Banyuwangi terasa sedikit lebih berwarna. *** [090826]


logoblog

Thanks for reading Menanti Siang di Pinarak Coffee & Dining

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog