Dua belas hari lalu, ketika menghadiri kegiatan Posyandu ILP Gembolo 2 di rumah Ketua RT Sugiarto, Dusun Gembolo RT 05 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, saya sempat terpaku pada sesuatu yang tumbuh diam-diam di halaman depan rumah. Di antara tanaman yang menghiasi pekarangan, tampak hamparan tumbuhan kecil merambat pada batang pohon. Bentuk daunnya sekilas menyerupai kepingan sisik yang tersusun rapat. Di Indonesia, tumbuhan tersebut dikenal dengan sisik naga.
Tanaman yang sering luput dari perhatian itu adalah Pyrrosia piloselloides (L.) M.G.Price, salah satu jenis tumbuhan paku yang hidup sebagai epifit. Ia menempel pada tumbuhan lain, tetapi bukan parasit. Sisik naga tidak mengambil makanan dari inangnya karena tetap mampu membuat makanan sendiri. Pohon yang ditumpanginya hanyalah tempat untuk bertumbuh dan mendapatkan posisi yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Secara botani, sisik naga termasuk famili Polypodiaceae. Tumbuhan ini mempunyai rimpang tipis yang menjalar, dengan diameter hanya sekitar satu milimeter, tetapi dapat memanjang dan bertahan kuat. Rimpangnya ditutupi sisik-sisik kecil yang bentuknya hampir bulat hingga menyerupai jantung. Daunnya memiliki dua bentuk atau dimorfik, dengan tangkai yang pendek. Pada daun yang subur terdapat sori, yakni kumpulan struktur penghasil spora, yang berada di bagian tepi daun.
![]() |
| Tanaman sisik naga (Pyrrosia piloselloides) |
Di berbagai daerah, tumbuhan ini memiliki banyak nama. Di Jawa, ia dikenal antara lain sebagai picisan atau duwitan. Masyarakat Sunda menyebutnya duduwitan, sementara di Sumatra dikenal sebagai paku duit-duit dan paku sakat ribu-ribu. Keragaman nama tersebut menunjukkan bahwa tumbuhan kecil ini telah lama hadir dan dikenali dalam kehidupan masyarakat.
Nama ilmiahnya pun menyimpan cerita. Pyrrosia berasal dari bahasa Yunani pyrros, yang berarti merah [
1PlantZAfrica. (n.d.). Pyrrosia Mirb. South African National Biodiversity Institute (SANBI). Retrieved August 19, 2026, from https://pza.sanbi.org/pyrrosia
]. Nama tersebut dikaitkan dengan semburat kemerahan pada rambut berbentuk bintang yang dijumpai pada sejumlah spesies dalam genus tersebut. Sementara piloselloides berasal dari gabungan kata Yunani pilosus, yang berarti berbulu, dan akhiran -ōdēs, bermakna seperti atau menyerupai [2Ilieva, I. A. (2023). Specific botanical epithets meaning likeness. World Journal of Biology Pharmacy and Health Sciences, 15(3), 110–126. https://doi.org/10.30574/wjbphs.2023.15.3.0392
]. Penamaan ini menggambarkan karakter rimpangnya yang panjang, menjalar, dan berbulu, yang secara visual mengingatkan pada rimpang tanaman hawkweed.Riwayat ilmiahnya juga cukup panjang. Pada 1763, botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) mendeskripsikan tanaman ini dengan nama Pteris piloselloides dan mempublikasikannya dalam Species Plantarum [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1762). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas (Tomus II). Holmiae: Impensis Direct. Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/11834171
]. Lebih dari dua abad kemudian, pada 1974, botanis Amerika Michael Greene Price (1941-2025) merevisi klasifikasinya dan memasukkannya ke dalam genus Pyrrosia. Sejak saat itu, nama Pyrrosia piloselloides digunakan untuk menyebut spesies tersebut.Di luar Indonesia, sisik naga juga mempunyai beragam nama. Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai dragon's scale fern, sedangkan di Malaysia disebut pokok duit-duit. Di Filipina terdapat sebutan lagolo, lapole, dan pagong-pagongan. Di China, tanaman ini dikenal dengan nama bào shù shí wéi. Sebarannya meliputi kawasan Asia, termasuk China, India, Indochina, Malaysia, dan Indonesia, terutama wilayah tropis yang menyediakan suhu hangat dan kelembapan yang sesuai.
![]() |
| Batang kecil sisi naga (Pyrrosia piloselloides) yang menjalar dan menempel erat pada batang pohon |
Sisik naga lazim dijumpai merambat pada batang pohon lain, baik di tepi jalan maupun di kawasan hutan kecil. Kehadirannya sering kali begitu menyatu dengan lingkungan sekitarnya sehingga baru terlihat ketika seseorang benar-benar memperhatikannya. Seperti yang saya temukan di halaman rumah Ketua RT Sugiarto, tanaman ini tidak membutuhkan ruang khusus untuk menunjukkan keberadaannya. Ia cukup menempel, menjalar, dan perlahan memenuhi permukaan batang pohon.
Namun, sisik naga bukan sekadar tanaman penghias pohon. Sejak lama, berbagai masyarakat telah memanfaatkan tumbuhan ini sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Masyarakat adat Negrito dan penduduk Thailand bagian selatan, misalnya, dilaporkan menggunakan daunnya untuk membantu meredakan nyeri dan demam. Di Indonesia, daun sisik naga juga telah lama digunakan dalam praktik pengobatan tradisional, termasuk untuk membantu mengatasi keluhan yang berkaitan dengan kanker payudara.
Pemanfaatannya ditemukan pula di wilayah lain. Penduduk Pasir Hor, Kelantan, Malaysia, secara tradisional memanfaatkannya untuk meredakan keluhan akibat batu empedu serta sebagai tapal untuk mengatasi ruam kulit [
4Sul ‘ain, M. D., Zakaria, F., & Johan, M. F. (2019). Anti-Proliferative Effects of Methanol and Water Extracts of Pyrrosia piloselloides on the Hela Human Cervical Carcinoma Cell Line. Asian Pacific journal of cancer prevention: APJCP, 20(1), 185–192. https://doi.org/10.31557/APJCP.2019.20.1.185
]. Dalam berbagai praktik tradisional, daun dapat ditumbuk untuk pemakaian luar ataupun direbus untuk dikonsumsi.Khasiat tersebut kemudian menarik perhatian penelitian. Sejumlah studi melaporkan adanya berbagai senyawa metabolit sekunder dalam sisik naga, antara lain flavonoid, tanin, steroid atau triterpenoid, minyak atsiri, glikosida, polifenol, dan saponin. Kandungan tersebut membuat Pyrrosia piloselloides terus diteliti karena memiliki berbagai aktivitas biologis yang potensial, termasuk sebagai antioksidan, antibakteri dan antipiretik.
![]() |
| Pohon rambutan yang dipenuhi dengan sisik naga (Pyrrosia piloselloides) di lokasi giat Posyandu ILP Gembolo 2 Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Potensi lainnya bahkan menyentuh bidang neuroproteksi. Daun sisik naga diketahui berpotensi dikembangkan sebagai bahan minuman herbal dalam bentuk teh celup. Seduhannya dilaporkan mempunyai potensi sebagai neuroprotektan - senyawa atau bahan yang diharapkan dapat membantu melindungi sel-sel saraf dari kerusakan [
5Nurainun, N., Andriani, Y., & Andriani, L. (2024). Aktivitas Neuroprotektan Teh Celup Daun Sisik Naga (Pyrrosia piloselloides (L.) M. G. price) terhadap Demensia. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 3(2), 255-261. https://jsk.ff.unmul.ac.id/index.php/JSK/article/view/313
]. Temuan semacam ini membuka kemungkinan bahwa tumbuhan yang selama ini dianggap sebagai penghuni batang pohon tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar tanaman liar.Dalam pengobatan tradisional di sejumlah daerah persebarannya, sisik naga juga digunakan dengan beragam cara untuk membantu mengatasi cacar, ruam, gonore, disentri, tuberkulosis, infeksi saluran kemih, sakit kepala, batuk, radang gusi, gangguan pada soket gigi, eksim, hingga masalah pembekuan darah. Cara penggunaannya pun beragam, mulai dari direbus dan diminum, dikunyah, hingga dijadikan tapal untuk pemakaian luar [
6Nugraha, A. S., Triatmoko, B., Wangchuk, P., & Keller, P. A. (2020). Vascular Epiphytic Medicinal Plants as Sources of Therapeutic Agents: Their Ethnopharmacological Uses, Chemical Composition, and Biological Activities. Biomolecules, 10(2), 181. https://doi.org/10.3390/biom10020181
].Penelitian yang lebih baru oleh Kho dan rekan-rekan pada 2025 juga mencatat penggunaan tradisional daun sisik naga di Sarawak untuk mengatasi tumor. Daunnya dicuci bersih, kemudian direbus hingga mendidih dan air rebusannya diminum tiga kali sehari. Temuan ini penting sebagai catatan etnobotani dan titik awal penelitian, meski tentu tidak serta-merta berarti penggunaan tradisional tersebut telah terbukti secara klinis sebagai terapi kanker atau tumor [
7Kho, S. J., Liau, J., Asaruddin, M. R., & Bhawani, S. A. (2025). Ethnomedicinal and Ethnopharmacology Value of Plants Used by Kenyah in Borneo: A Review . Jurnal Borneo-Kalimantan, 11(2), 107–157. https://doi.org/10.33736/jbk.11341.2025
].Di sinilah sisik naga menarik untuk diperhatikan. Ia tumbuh tanpa banyak tuntutan, menempel pada batang pohon dan menjalar mengikuti ruang yang tersedia. Ukurannya kecil, tetapi riwayat pemanfaatannya panjang. Di satu sisi ia merupakan bagian dari keanekaragaman tumbuhan paku Asia tropis; di sisi lain, ia menjadi bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
![]() |
| Pepohonan di halaman depan rumah Ketua RT 05 RW 01 yang dipenuhi sisik naga (Pyrrosia piloselloides) di Dusun Gembolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Dari halaman rumah Ketua RT 05 RW 01 di Gembolo, tanaman itu seolah mengingatkan bahwa alam sering menyimpan sesuatu yang berharga dalam bentuk yang sederhana. Tumbuhan yang sekilas hanya tampak seperti sisik kecil di batang pohon ternyata memiliki nama, sejarah klasifikasi, persebaran, pengetahuan pengobatan tradisional, hingga potensi penelitian yang terus berkembang.
Sisik naga tidak tumbuh dengan gemerlap bunga atau buah yang mencolok. Ia hadir dengan cara yang sederhana, yakni merambat, menempel, dan bertahan. Justru dari kesederhanaan itulah tersimpan cerita panjang tentang hubungan manusia dengan tumbuhan, yaitu tentang bagaimana sesuatu yang tampak biasa di halaman rumah dapat menjadi bagian dari pengetahuan, budaya, dan kemungkinan baru bagi ilmu pengetahuan.
Pagi itu, di rumah Ketua RT Sugiarto, sisik naga kembali terlihat bukan sebagai tumbuhan yang sekadar menempel di pohon, melainkan sebagai tanaman kecil dengan cerita yang panjang. *** [210826]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar