Kamis, Agustus 27, 2026

Sepiring Kebahagiaan di Warung Lalapan Berhasil, Banyuwangi

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Agustus 27, 2026
Ada malam-malam ketika perut tidak membutuhkan kemewahan. Ia hanya ingin nasi hangat, sambal yang berani menyengat, lalapan segar, dan lauk sederhana yang digoreng hingga gurih. Bagi saya, paket kebahagiaan itu kerap berhenti di satu tempat, yaitu Warung Lalapan Berhasil, di tepian Jalan Benculuk–Rogojampi.
Setiap kali melintas jalur tersebut pada malam hari, warung di Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, ini acap menjadi persinggahan. Letaknya strategis di tepi jalan raya, sekitar 130 meter di arah timur laut dari Sego Tempong Mbak Har Banyuwangi. Ketika sore mulai berganti malam, aktivitas warung pun menggeliat hingga dini hari.
Namanya mungkin sederhana, tetapi Warung Lalapan Berhasil cukup dikenal sebagai salah satu tempat makan malam di kawasan tersebut. Bagi kalangan enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) yang berbasecamp di Desa Tamanagung, warung ini juga bukan tempat yang asing. 
Suasananya santai, cocok untuk makan di tempat ataupun membawa pulang pesanan. Koneksi Wi-Fi gratis dengan sinyal yang kencang bahkan menjadi bonus tersendiri bagi mereka yang masih harus berkutat dengan pekerjaan.

Warung Lalapan Berhasil di Jalan Benculuk-Rogojampi, Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Menu yang ditawarkan pun akrab dengan lidah masyarakat: lalapan ayam, lele, iwak pe, hingga wader. Harganya relatif bersahabat, mulai Rp10.000. Untuk seporsi wader dan iwak pe, harganya Rp12.000. Namun, dari deretan menu itu, ada satu yang selalu menggoda saya adalah nasi lalapan iwak pe.
Begitu pesanan datang, aroma ikan goreng segera bercampur dengan wangi sambal yang menguar dari piring. Nasi putih yang masih hangat menjadi alas yang sempurna untuk iwak pe - ikan pari yang dagingnya dikenal lembut dan gurih. 
Gigitan pertama menghadirkan perpaduan tekstur yang menyenangkan, yakni daging ikan yang empuk, gurihnya lauk goreng, pedasnya sambal, serta kesegaran lalapan yang menjadi penyeimbang.
Kemangi, mentimun, dan terong goreng memberikan sensasi segar setelah lidah dihantam sambal. Pedasnya justru membuat suapan berikutnya terasa semakin nikmat. Sesekali saya berhenti sejenak untuk menyeruput teh panas. Hangatnya minuman menyapu sisa pedas di tenggorokan, meninggalkan rasa nyaman yang sederhana tetapi sulit ditolak.
Di situlah barangkali rahasia kenikmatan makan malam di warung lalapan. Tidak ada tata meja mewah atau hidangan yang rumit. Yang ada hanyalah nasi hangat, lauk yang gurih, sambal yang menantang, lalapan yang menyegarkan, dan teh panas yang menutup santapan dengan tenang.

Area parkir Warung Lalapan Berhasil tepat di tepi Jalan Benculuk-Rogojampi yang ramai lalu lalang kendaraan

Lalapan sendiri merupakan bagian penting dalam tradisi makan Indonesia. Sayuran mentah sederhana ini lazim disajikan sebagai pendamping ayam goreng, ayam bakar, pecel lele, dan beragam lauk lainnya. Kesegarannya menjadi penyeimbang rasa sekaligus memberi tambahan nilai gizi dalam sepiring makanan.
Begitu pula dengan iwak pe. Dalam tradisi kuliner Jawa, sebutan pe atau pepe merujuk pada proses pengawetan ikan pari dengan cara dijemur. Daging ikan pari yang kemudian diolah memiliki karakter lembut dan gurih, membuatnya menjadi lauk yang menarik bagi pencinta masakan berbahan ikan.
Menariknya, ketika menyantap iwak pe, pikiran saya justru melayang jauh ke perairan Indonesia. Negeri ini merupakan habitat beragam spesies ikan pari, termasuk pari manta (Manta birostris), salah satu jenis pari berukuran terbesar di dunia. Lebar tubuhnya dapat mencapai sekitar 6–8 meter, dengan bobot hingga sekitar tiga ton.
Pari manta memiliki ciri khas berupa sepasang sirip kepala yang menyerupai tanduk di dekat mulut. Sirip tersebut membantu mengarahkan air laut yang mengandung plankton sebagai makanannya. Di bagian bawah tubuhnya terdapat lima pasang insang dengan struktur penyaring yang berfungsi menangkap plankton.

Sepiring nasi lalapan iwak pe dan segelas teh panas ala Warung Lalapan Berhasil Banyuwangi

Satwa laut raksasa itu dapat ditemukan di perairan karang, gosong karang, maupun kawasan gunung karang. Indonesia memiliki banyak wilayah perairan yang menjadi habitatnya, mulai dari barat Sumatra, Selat Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sementara itu, di sebuah warung sederhana di Benculuk, ikan pari hadir dalam bentuk yang jauh lebih dekat dengan keseharian, yaitu digoreng, ditemani nasi, sambal, dan lalapan.
Mungkin memang sesederhana itu cara menikmati malam. Setelah seharian beraktivitas dan menempuh perjalanan, berhenti sejenak, muluk nasi hangat, mencocol lauk ke sambal, lalu menyeruput teh panas.
Kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang ia sudah menunggu di pinggir jalan, dalam sepiring nasi lalapan iwak pe.
"Kebahagiaan itu sederhana, cukup nasi hangat, sambal yang menantang, dan lalapan segar yang menenangkan." *** [270826]
logoblog

Thanks for reading Sepiring Kebahagiaan di Warung Lalapan Berhasil, Banyuwangi

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog