"As long as there is chocolate, there will be happiness." -- Wayne Gerard Trotman
Lima kilometer jalan sehat ternyata bisa menyisakan dahaga yang tak main-main. Masih mengenakan training selepas mengikuti Jalan Sehat Dirgahayu Republik Indonesia di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wringinagung, Ahad (30/08), saya tidak menyangka perjalanan siang itu akan berujung pada segelas kesegaran bernama Glen Choco Iced di Café Cokelat.
Selesai pengundian kupon, saya langsung dijemput enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM. Ia mengajak saya menjelajah Glenmore, Banyuwangi. Dari sejumlah tempat yang kami kunjungi, Café Cokelat di Doesoen Kakao Kedunglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, menjadi persinggahan yang paling menggoda, terutama bagi tubuh yang mulai mencari minuman dingin dan tempat berteduh.
![]() |
| Pesan menu di Cafe Cokelat yang berada di Doesoen Kakao Kedunglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi |
Menyusuri Jejak Kebun Kakao
Doesoen Kakao berada di tengah hamparan perkebunan Kendenglembu, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Tempat wisata seluas sekitar 4 hektare ini mulai dibuka pada 2016 dan semakin dikenal setahun kemudian, setelah terpilih sebagai etape kedua International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2017.
Pengelolaannya berada di bawah Perkebunan Kendenglembu, salah satu kawasan perkebunan yang menghasilkan kakao. Karena itu, biji kakao tidak berhenti sebagai komoditas perkebunan. Di tempat ini, kakao diolah menjadi aneka sajian yang dapat langsung dinikmati pengunjung.
Bangunan Café Cokelat pun memiliki daya tarik tersendiri. Kafe ini menempati bangunan lama peninggalan perkebunan dengan sedikit renovasi, tetapi tetap mempertahankan bentuk arsitektur aslinya. Dinding dan detail bangunannya memancarkan kesan kokoh khas Eropa.
Bangunan utama yang dahulu digunakan sebagai rumah dinas kepala kebun atau rumah sinder (sindhuis) itu kini berfungsi sebagai kafe sekaligus galeri sejarah. Pengunjung tidak hanya datang untuk makan dan minum, tetapi juga dapat menengok perjalanan komoditas cokelat di Indonesia.
Salah satu ruangannya terasa seperti museum mini. Di dalamnya tersimpan informasi mengenai sejarah masuknya cokelat ke Indonesia hingga perkembangannya saat ini. Peta persebaran cokelat di Indonesia turut dipajang, menambah pengalaman kunjungan yang lebih berisi.
Kami memilih duduk di bagian belakang kafe yang semi-outdoor. Di sekelilingnya, tanaman-tanaman rindang menciptakan suasana teduh. Hawa perkebunan yang sejuk perlahan menggantikan panas yang sejak tadi menempel di kulit.
Selepas berjalan kaki sejauh lima kilometer, duduk di bawah naungan pepohonan terasa seperti memperoleh hadiah kecil. Keringat belum sepenuhnya kering, napas masih menyimpan sisa perjalanan, tetapi suasana Café Cokelat membuat tubuh lekas rileks.
Rahman memesan dua gelas Glen Choco Iced, Milk Chocolate Glen Choco, dan Bagiak khas Banyuwangi. Ketiga menu itu datang sebagai teman istirahat setelah perjalanan yang cukup panjang dan cuaca yang terasa menyengat.
Glen Choco Iced menjadi sajian pertama yang saya nikmati. Minuman cokelat dingin itu terasa menyegarkan ketika diteguk perlahan. Sensasi dinginnya segera mengusir dahaga, sementara rasa cokelatnya meninggalkan jejak yang sedikit ada pahitnya di lidah.
Milk Chocolate Glen Choco menawarkan karakter yang lebih ringan dan creamy. Rasa susunya berpadu dengan cokelat, menghasilkan camilan yang mudah dinikmati, terutama bagi mereka yang menyukai cokelat dengan rasa tidak terlalu pekat.
Sementara itu, Bagiak menghadirkan tekstur renyah khas camilan Banyuwangi. Kue kering berbahan dasar sagu tersebut menjadi pasangan yang pas untuk minuman cokelat. Setiap gigitan memberi sensasi gurih dan rapuh, lalu disusul tegukan cokelat yang manis dan dingin.
Menikmati sajian itu di tengah tanaman yang rindang membuat pengalaman sederhana terasa istimewa. Tidak ada musik keras atau lalu lintas kendaraan yang mengganggu. Yang terdengar justru suasana kebun, dengan udara sejuk dan bayang-bayang masa lalu yang masih melekat pada bangunan tua di sekitar kafe.
![]() |
| Segelas Glen Choco Iced, Milk Chocolate Glen Choco, dan sebungkus Bagiak khas Banyuwangi |
Cokelat dan Kebahagiaan
Café Cokelat menyediakan berbagai minuman berbahan cokelat, baik panas maupun dingin. Pilihannya antara lain Glen Choco Hot/Iced, 3 in 1 Milk Choco Hot/Iced, 3 in 1 Dark Choco Hot/Iced, serta 3 in 1 Ginger Choco Hot/Iced.
Bagi pencinta cokelat, tempat ini menawarkan lebih dari sekadar menu. Ada pengalaman menikmati hasil perkebunan di lokasi yang juga menyimpan cerita. Pengunjung dapat menyeruput minuman cokelat sambil membayangkan perjalanan panjang komoditas tersebut sejak dibawa ke Indonesia hingga menjadi bagian dari kuliner masa kini.
Ungkapan Wayne Gerard Trotman - penulis asal Inggris peraih penghargaan yang menulis karya sastra anak berima; cerita thriller penuh aksi, horor, fantasi, dan fiksi ilmiah untuk dewasa serta remaja; serta buku nonfiksi inspiratif bertema kuliner dan perjalanan terasa tepat untuk menggambarkan suasana itu:
“Selama ada cokelat, akan ada kebahagiaan.”
Di Café Cokelat, kebahagiaan itu hadir dalam bentuk yang sederhana, yakni segelas Glen Choco Iced, cokelat batangan, seporsi camilan khas Banyuwangi, bangunan tua bersejarah, dan keteduhan perkebunan yang menenangkan.
Café Cokelat di Doesoen Kakao buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Tempat ini cocok disambangi setelah menjelajah perkebunan, berwisata sejarah, atau sekadar mencari jeda dari panasnya perjalanan.
Bagi saya, kunjungan itu menjadi penutup yang menyenangkan setelah jalan sehat. Training yang semula menjadi tanda perjalanan lima kilometer, akhirnya menjadi saksi bahwa sebuah perjalanan sederhana bisa berakhir manis, dengan cokelat dingin di tengah kebun yang hijau. *** [220926]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar