“Sweet treats are as much a part of our culture as they are our taste palettes, and it can sometimes seem as though sugary snacks are everywhere.” -- Homaro Cantu
Tak hanya jambu air citra (Syzygium samarangense) yang tersaji. Tiga bungkus iwel-iwel juga terhidang di atas piring plastik berwarna merah ketika saya menghadiri pemeriksaan spirometri untuk keempat kalinya di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jumat (18/9).
Penganan kecil yang terbungkus daun pisang itu menggoda saya untuk mencicipinya. Bentuknya menyerupai limas - sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang tentang kelahiran, doa, dan harapan orang tua.
Saya mengambil satu. Perlahan, bungkus daun pisang dibuka. Iwel-iwel itu dibuat dari tepung ketan yang dicampur parutan kelapa, kemudian di bagian tengahnya disisipkan irisan gula Jawa. Ketika digigit, rasa manis segera menyusul gurih kelapa. Teksturnya lembut, sedikit lengket, dan legit.
Seperti yang diujarkan Homaro Cantu, chef sekaligus gastronom asal Amerika Serikat, dalam The Power Of The Miracle Berry (2013):
“Camilan manis merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya maupun selera kita, dan terkadang rasanya seolah-olah camilan manis ada di mana-mana.”
Kalimat itu terasa dekat dengan iwel-iwel. Penganan ini bukan sekadar camilan untuk mengganjal lapar, melainkan bagian dari cara masyarakat Jawa merawat ingatan dan menyampaikan doa.
![]() |
| Tiga bungkus iwel-iwel dalam piring plastik warna merah yang terhidang pada pemeriksaan spirometri untuk keempat kalinya di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Tidak Dijual di Pasar
Berbeda dari jenang, klepon, atau lemper yang mudah dijumpai di lapak jajanan pasar, iwel-iwel tidak selalu tersedia untuk dibeli. Penganan ini biasanya dibuat sendiri oleh masyarakat ketika sebuah keluarga menyambut kelahiran anggota baru.
Iwel-iwel hadir dalam selamatan atau tasyakuran. Ia dibagikan kepada kerabat dan tetangga sebagai tanda syukur atas kelahiran seorang anak. Karena itu, rasa manisnya tidak berhenti di lidah. Ia menjadi simbol dari keinginan agar perjalanan hidup sang bayi kelak juga berakhir manis.
Di sejumlah daerah, iwel-iwel disebut memiliki hubungan dengan kata Jawa kemiwel, yang berarti menggemaskan atau lucu. Nama itu selaras dengan harapan orang tua terhadap bayi yang baru lahir, agar tumbuh sehat, menyenangkan, lucu, dan menggemaskan. Makna tersebut menjadikan iwel-iwel sebagai sajian yang sangat dekat dengan suasana penuh sukacita.
Namun, harapan itu tidak hanya berkaitan dengan rupa dan kesehatan anak. Orang tua juga berharap sang anak tumbuh menjadi pribadi yang baik serta senantiasa menyayangi dan menghormati mereka.
Doa untuk Orang Tua
Makna lain iwel-iwel dikaitkan dengan ungkapan waliwalidayya, yang berarti “kedua orang tua”. Ungkapan tersebut merupakan bagian dari doa:
Allahummaghfirli dzunubi waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, serta kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mengasuhku sewaktu aku masih kecil.”
Dalam pemaknaan ini, iwel-iwel menjadi pengingat bahwa seorang anak tidak boleh melupakan orang tua yang telah merawat, mendidik, dan membesarkannya. Bahkan setelah dewasa, menikah, dan membangun keluarga sendiri, hubungan batin dengan orang tua diharapkan tetap terjaga.
Bentuk iwel-iwel yang menyerupai limas juga kerap ditafsirkan secara simbolis. Lima sisinya dapat dikaitkan dengan lima rukun Islam, sementara satu titik di bagian atasnya mengarah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pemaknaan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa merangkai unsur keislaman ke dalam tradisi lokal.
Dengan demikian, sepotong iwel-iwel membawa pesan berlapis, yakni syukur atas kelahiran, doa untuk kesehatan anak, harapan agar ia tumbuh menggemaskan, serta pengingat untuk selalu berbakti kepada orang tua.
Iwel-iwel bukan penganan yang baru muncul dalam tradisi masyarakat Jawa. Keberadaannya telah tercatat dalam Serat Centhini, karya sastra Jawa Baru yang dihimpun pada awal abad ke-19, sekitar 1814.
Dalam jilid VI, Pupuh 358 Gambuh bait 1–28, disebutkan sejumlah olahan yang disiapkan untuk pesta pernikahan. Di antara hidangan itu terdapat ketan ragen, iwel-iwel, wulak-walik, legandha, lepet, ulu-ulu, ampyang, dan gablog.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa iwel-iwel telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan Jawa sejak ratusan tahun silam. Ia hadir dalam ritus penting, termasuk pesta pernikahan, sebagai bagian dari hidangan yang mengiringi pertemuan keluarga dan masyarakat.
Meski Serat Centhini mencatat iwel-iwel dalam konteks pesta pernikahan, maknanya tetap dapat berkelindan dengan harapan orang tua. Anak yang dahulu dilahirkan dan diselamati, pada waktunya tumbuh dewasa, menikah, lalu membangun rumah tangga sendiri. Di setiap tahap kehidupan itu, doa orang tua tetap mengikutinya.
Manis yang Tak Lekang
Iwel-iwel memang berukuran kecil. Ia hanya terbuat dari tepung ketan, kelapa, dan gula Jawa, lalu dikukus dalam balutan daun pisang. Namun, dari bahan-bahan sederhana itu lahir sebuah simbol yang memuat harapan besar.
Ketan yang lembut dan lengket seolah menggambarkan kedekatan anak dengan orang tua. Gula Jawa di bagian tengah menghadirkan rasa manis yang tersembunyi, seperti doa yang tidak selalu diucapkan panjang-panjang, tetapi terus disimpan dalam hati.
Di situlah kekuatan iwel-iwel. Ia tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengingatkan. Setiap gigitan membawa pesan bahwa kelahiran seorang anak adalah awal dari doa panjang, agar ia sehat, tumbuh menjadi manusia yang baik, menyayangi keluarganya, dan tidak melupakan orang tua.
Pada akhirnya, harapan itu ingin berujung manis - semanis gula Jawa yang meleleh di tengah ketan, dan sehangat kasih orang tua yang terus menyertai anaknya sepanjang hidup. *** [210926]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar