Jumat, September 04, 2026

Dari De Djawatan ke Lombok Ijo: Jejak Kebersamaan dalam Seporsi Mangut Iwak Pe

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, September 04, 2026
"My favorite thing is to have a big dinner with friends and talk about life." -- Carla Gugino
Dari rimbunnya De Djawatan Forest, satu mobil putih dan satu motor Scoopy merah melaju menyusuri jalan menuju Sego Lodeh Lombok Ijo yang beralamatkan di Jalan Ahmad Yani No.102, Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Bukan sekadar perjalanan biasa, ini adalah petualangan rasa dan kehangatan kebersamaan. 
Di balik kemudi mobil putih, Erlinda Citra S.Stat., alumnus Departemen Statistika Universitas Brawijaya (UB) yang juga teman staf administrasi Hilda Irawati, S.Stat., membawa serta Tim NIHR UB, yaitu Research Fellow Raissa Manika Purwaningtias, S.Keb., Bd., M.Sc., Manajer CEI Serius Miliyani Dwi Putri, S.K.M., M.Ked.Trop., Hilda, dan saya.

Rumah Makan Sego Lodeh Lombok Ijo di Jalan Ahmad Yani No.102, Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. 

Sementara di belakang, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diaeases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), setia mengikuti dengan motor Scoopy merahnya.
Malam Jumat (28/08) itu, tujuan kami adalah rumah makan khas yang menyajikan kelezatan Nusantara, yaitu Sego Lodeh Lombok Ijo. Begitu melangkah masuk, suasana prasmanan langsung menyambut. Deretan menu berjejer rapi di meja, ditemani pramusaji yang sigap melayani. 
Ada aneka masakan berkuah dengan cita rasa yang berbeda-beda, dari yang ringan hingga yang kaya rempah. Semua tampak menggoda, siap menjadi teman santap malam. Yang menarik, di sini kita bisa menemukan menu yang jarang dijumpai di Banyuwangi, seperti garang asem dan brongkos serta martabak Aceh.
 
Deretan aneka menu prasmanan di Rumah Makan Sego Lodeh Lombok Ijo Jajag

Namun, di antara deretan pilihan itu, saya memilih nasi putih hangat, tumis gambas dan wortel yang renyah, serta sambal tempong yang pedas menyengat. Tapi yang paling istimewa adalah mangut iwak pe, hidangan khas yang disajikan dalam mangkuk terpisah, seolah ingin menunjukkan bahwa ia layak menjadi bintang di atas meja.
Mangut iwak pe yang saya nikmati malam itu adalah perpaduan sempurna antara gurihnya santan, pedasnya cabai, dan aroma khas ikan asap yang menggugah selera. Kuahnya kental, kuning keemasan, dengan semburat merah dari cabai yang diulek kasar. Setiap suapan membawa rasa hangat yang merambat hingga ke ujung lidah. 
Dipadukan dengan tumis gambas dan wortel yang masih krispi, serta sambal tempong yang memberikan ledakan pedas segar, hidangan ini seperti simfoni rasa yang sederhana namun tak terlupakan. Teh panas yang saya pesan menemani setiap tegukan, membersihkan langit-langit mulut di antara suapan, dan menambah nikmatnya momen.
Namun, lebih dari sekadar rasa, malam itu adalah tentang kebersamaan. Di sela-sela makan, kami berbincang santai. Terkadang diselingi kelakar kecil yang mengundang tawa.
 
Personil Tim NIHR UB makam malam bersama seorang enumerator baseline survey dan bestinya salah seorang personil Tim NIHR UB

Hilda, yang juga sedang bernostalgia dengan teman semasa kuliahnya, Citra, tampak larut dalam obrolan masa lalu. Sementara kami lainnya menikmati momen saling berbagi cerita, tentang pekerjaan, tentang perjalanan, tentang hal-hal kecil yang sering terlewat dalam kesibukan sehari-hari.
Makan malam bersama bukan sekadar mengisi perut. Lebih dari itu, ia adalah ritual yang mempererat ikatan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa bersantap bersama teman dapat meningkatkan kesejahteraan emosional dan mempererat hubungan sosial, bahkan pengaruhnya sebesar pengaruh status pekerjaan atau pendapatan terhadap kepuasan hidup [
1Robson, D., & Franco, A. (2026, August 25). There’s Something Unique about Eating Together That’s Good for Us. BBC. https://www.bbc.com/future/article/20260825-why-eating-in-company-is-good-for-your-brain
].
Dan malam itu, saya merasakan kebenarannya. Di meja sederhana rumah makan pinggir jalan, kami bukan hanya sekadar tim yang bekerja bersama, tetapi juga sahabat yang saling menguatkan. Seperti yang pernah dikatakan oleh aktris Amerika Carla Gugino: 
"Hal yang paling saya sukai adalah menikmati makan malam besar bersama teman-teman dan berbincang tentang kehidupan." 
Sepiring nasi tumis gambas wortel, lalapan, sambal tempong, dan semangkuk mangut iwak pe

Dan benar, malam itu kami melakukannya. Kami berbincang tentang mimpi, tentang perjalanan yang sudah ditempuh, dan tentang rencana-rencana yang masih menanti. Dalam setiap suapan mangut iwak pe, ada kehangatan yang tak hanya berasal dari kuah santan, tetapi juga dari tawa dan cerita yang kami bagi.
Saat malam semakin larut, kami meninggalkan Lombok Ijo dengan perut kenyang dan hati yang lebih ringan. Perjalanan pulang ditemani senyum dan rasa syukur. Dari De Djawatan ke Lombok Ijo, ternyata bukan hanya soal destinasi, tetapi juga tentang jejak kebersamaan yang terukir dalam seporsi mangut iwak pe. 
Dan malam itu, kami membawa pulang lebih dari sekadar kenangan, kami membawa pulang kehangatan persahabatan yang akan terus kami kenang. *** [040926]


logoblog

Thanks for reading Dari De Djawatan ke Lombok Ijo: Jejak Kebersamaan dalam Seporsi Mangut Iwak Pe

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog