Kamis, September 03, 2026

Menembus Tirai Hijau: Sore yang Tersihir di De Djawatan Forest

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, September 03, 2026
To walk attentively through a forest, even a damaged one, is to be caught by the abundance of life; ancient and new, underfoot and reaching into the light.”  -- Anna Lowenhaupt Tsing
Sore itu, setelah nongki di Eat & Meet Café, New Surya Hotel, sebuah mobil putih meluncur pelan menjemput. Di balik kemudi, Erlinda Citra, S.Stat., teman kuliah Hilda Irawati, S.Stat. dari Departemen Statistika Universitas Brawijaya, tersenyum ramah. Hilda - staf administrasi NIHR UB yang sedang bertugas di Banyuwangi - telah mengontak Citra untuk ajakan sederhana, yaitu jalan-jalan sore di De Djawatan Forest. 
Research Fellow Raissa Manika Purwaningtias, S.Keb., Bd., M.Sc., dan Manajer CEI Serius Miliyani Dwi Putri, S.K.M., M.Ked.Trop. yang satu kamar dengan Hilda dari Tim NIHR UB juga diajaknya, tak terkecuali pula saya pun ikut terbawa arus rencana mendadak itu.

Dua alumni Departemen Statistika UB bertemu dan jalan-jalan sore di De Djawatan Forest, Banyuwangi


Gerbang Menuju “Fangorn” Versi Banyuwangi
De Djawatan Forest bukan hutan biasa. Terletak di Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kawasan seluas sekitar 9 hektar ini didominasi pohon trembesi (Samanea saman) berusia ratusan tahun. 
Pohon-pohon itu - sebagian tumbuh sejak zaman Belanda - memiliki batang kokoh, cabang menjulang, dan tajuk lebar yang menaungi seluruh area. Begitu melangkah masuk, rasanya seperti berpindah dimensi yang bernuansa teduh, mistis, dan megah. Tak heran banyak pengunjung menyebutnya mirip Fangorn Forest dalam film The Lord of the Rings.
Jumat (28/08) sore, kami jalan-jalan di sana. Tak lama, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso, turut menyusul. Langkah kami pelan, menyesuaikan dengan ritme hutan yang seolah bernapas lambat.

Field Facilitator NIHR UB diajak jalan-jalan sore di De Djawatan Forest, Banyuwangi


Tarian Tembaga di Antara Ranting Raksasa
Panorama sore di De Djawatan adalah lukisan hidup. Semburat mentari sore menyelinap di antara ranting-ranting trembesi raksasa, menciptakan efek cahaya keemasan yang menari-nari di atas lantai hutan. Cahaya itu laksana tarian tembaga yang menembus tirai hijau kanopi, memantul pada lumut dan pakis epifit yang membalut batang-batang tua. Di bawah naungan itu, udara terasa sejuk; suhu turun, kelembapan naik, dan tubuh otomatis rileks.
Secara ilmiah, fenomena ini dapat dijelaskan. Penelitian menunjukkan bahwa hutan kota, dan hutan dengan kanopi lebat seperti De Djawatan, secara signifikan mengurangi fluks panas sensibel dan meningkatkan fluks panas laten, sehingga mendinginkan area di bawahnya. 
Tajuk pohon menahan radiasi gelombang pendek matahari, mengurangi penyimpanan dan konveksi panas di permukaan, sekaligus menyerap radiasi gelombang panjang dari lingkungan untuk mengatur iklim mikro. Proses evapotranspirasi dari daun menurunkan suhu udara dan meningkatkan kelembapan, menciptakan kenyamanan termal bagi pejalan kaki [
1Yin, Y., Li, S., Xing, X., Zhou, X., Kang, Y., Hu, Q., & Li, Y. (2024). Cooling Benefits of Urban Tree Canopy: A Systematic Review. Sustainability, 16(12), 4955. https://doi.org/10.3390/su16124955
].

Manajer CEI baru asyik mengabadikan keindahan De Djawatan Forest, Banyuwangi


Jalan Kaki yang Menyembuhkan
Berjalan di ruang hijau bukan sekadar aktivitas fisik; ia adalah ritual pemulihan. Keberadaan pohon, ditambah tutupan hijau lain seperti rumput dan bunga, memberikan kenyamanan visual yang mengundang interaksi dengan lingkungan. 
Jalan kaki atau berolahraga di ruang terbuka hijau berdampak positif bagi kesehatan fisik (pengendalian berat badan, kesehatan jantung) dan mental (pengurangan stres, tumbuhnya rasa keterikatan pada tempat) [
2Nashville Tree Conservation Corps. (2025, January 30). How Preserving a Mature Tree Canopy Benefits Our Health. Nashville Tree Conservation Corps. https://www.nashvilletreeconservationcorps.org/treenews/mature-tree-canopy-health-benefits
]. Di De Djawatan, efek itu terasa nyata, seperti detak jantung melambat, napas dalam, dan pikiran yang tadi penuh agenda perlahan lapang.
Anna Lowenhaupt Tsing, seorang antropolog Tionghoa-Amerika yang menjadi professor di Departemen Antropologi di Universitas California, Santa Cruz, pernah berujar: 
“Berjalan dengan penuh perhatian menyusuri hutan, bahkan hutan yang telah rusak, berarti terhanyut oleh kelimpahan kehidupan; yang purba maupun yang baru, yang berada di bawah pijakan kaki hingga yang menjangkau cahaya." 
Enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC menyusul ke De Djawatan Forest, Banyuwangi


Epilog Singkat Sebelum Senja
Sebelum senja benar-benar turun, kami berputar pelan menuju pintu keluar. Di balik bayang-batang trembesi, sinar lembayung mulai turun dari ufuk. De Djawatan Forest, dengan ratusan pohon trembesi tua itu, tetap berdiri sebagai saksi waktu, bahwa dulu tempat ini merupakan penimbunan kayu (TPK) era kolonial, kini sanctuary wisata yang menyuguhkan pengalaman nyaris surealis.
Sore itu, kami pulang dengan langkah lebih ringan. Bukan hanya karena udara sejuk, tetapi karena hutan - meski hanya beberapa jam - telah mengajarkan cara sederhana untuk hadir: berjalan, menatap, dan membiarkan diri terserap oleh kelimpahan kehidupan di sekitar. *** [030926]


logoblog

Thanks for reading Menembus Tirai Hijau: Sore yang Tersihir di De Djawatan Forest

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog