Jumat, September 18, 2026

Dracaena angustifolia, Tanaman Suji Berdaun Hijau Pekat

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, September 18, 2026
Pagi itu, sembilan belas hari yang lalu, suasana di Taman Seni Budaya, atau yang juga dikenal sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wringinagung, mulai ramai. Di Jalan Sriwijaya, Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, masyarakat berkumpul untuk mengikuti Jalan Sehat dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia.
Saya bersama para enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) yang berbasecamp di Desa Purwodadi, turut berada di antara keramaian pagi itu.
Langkah kaki bergerak, percakapan bersahutan, dan udara pagi perlahan dipenuhi aktivitas. Namun, di tengah suasana tersebut, saya melihat sekelompok tanaman berdaun hijau pekat di salah satu sudut lahan, dengan bunga yang indah.

Tanaman suji (Dracaena angustifolia) tumbuh subur di RTH Wringinagung, Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Tanaman itu tumbuh tenang, seolah tidak terpengaruh oleh riuh orang-orang yang datang dan pergi. Daunnya yang memanjang dan ramping tersusun rapat, menyerupai jemari hijau yang menjulur dari pangkal tanaman. Di sela-sela kerimbunannya, bunga-bunga kuning tampak bermekaran. Kehadirannya sederhana, tetapi justru menghadirkan kesan sejuk di tengah ruang terbuka yang mulai dipenuhi manusia.
Itulah suji, tanaman yang akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi mungkin tidak selalu dikenali dari nama ilmiahnya: Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.
Nama ilmiah tersebut menyimpan cerita panjang tentang sejarah pengenalan tanaman ini. Nama genus Dracaena berasal dari kata Yunani kuno drákaina, yang berarti “naga betina”. Nama tersebut berkaitan dengan getah berwarna merah yang dihasilkan oleh beberapa anggota genus Dracaena ketika kulit batangnya disayat [
1Chlorobase. (n.d.). Dracaena genus. Chlorobase. Retrieved September 17, 2026, from https://chlorobase.com/gb/plants/dracaena
].
Sementara itu, kata angustifolia berasal dari bahasa Latin, gabungan dari kata angustus yang berarti sempit atau menyempit dan folium yang berarti daun [
2Populus angustifolia. In asturnatura.com [online]. Accessed 17 September 2026. Available at asturnatura.com. ISSN 1887-5068. https://www.asturnatura.com/en/nature/species/populus-angustifolia
]. Sebutan itu terasa begitu tepat ketika melihat sosok suji dengan helaian daunnya panjang, tipis, dan sempit, tumbuh rapat membentuk roset yang memberi kesan rimbun.

Bunga suji (Dracaena angustifolia)

Tulisan “(Medik.) Roxb.” di belakang nama spesies tersebut juga bukan sekadar rangkaian huruf. Notasi itu merekam perjalanan perubahan nama ilmiahnya.
Pada 1786, botanis asal Jerman Friedrich Kasimir Medikus (1736–1808) pertama kali mendeskripsikan tanaman tersebut dengan nama Terminalis angustifolia. Nama itu dipublikasikan dalam Theodora Speciosa Ein Neues Pflanzen Geschlecht [
3Medikus, F. K. (1786). Theodora Speciosa Ein Neues Pflanzen Geschlecht. Seiner ChurfüRstlichen Durchlaucht Von Pfalz-Baiern Geheiliget. Nebst Einem Entwurfe, Die KüNstliche Und NatüRliche Methode in Ordnung Des Pflanzenreiches Zugleich Anzuwenden, Als Der Sichersten, Ein Pflanzenken- Ner Zu Werden. Mannheim: in der neuen hof- und akademischen Buchhandlung. https://gallica.bnf.fr/ark:/12148/bpt6k98082x/f1.image
]. 
Hampir tiga dekade kemudian, pada 1814, botanis sekaligus dokter asal Skotlandia William Roxburgh (1751–1815) memindahkan spesies tersebut dari genus Terminalis ke genus Dracaena. Dari perubahan itulah lahir kombinasi nama yang digunakan hingga kini, Dracaena angustifolia [
4Roxburgh, W. (1814). Hortus Bengalensis, or A Catalogue of the Plants Growing in the Honourable East India Company’s: Botanic Garden at Calcutta. Serampore: Printed at the Mission Press. https://books.google.co.id/books?id=qVsUAAAAQAAJ&printsec=frontcover&redir_esc=y&hl=id#v=onepage&q&f=false
].
Roxburgh sendiri dikenal dengan julukan “Bapak Botani India”, terutama karena kiprahnya dalam mendokumentasikan dan mengembangkan kajian botani di India.
Dari satu tanaman yang tampak sederhana di sudut RTH Wringinagung, rupanya terbentang kisah lintas tempat dan zaman. Suji memiliki sebutan yang beragam di berbagai wilayah. 

Daun suji (Dracaena angustifolia)

Dalam bahasa Inggris, antara lain dikenal sebagai dragon blood tree dan narrow-leaf Dracaena. Di Prancis dikenal sebagai bois chandelle. Di Thailand terdapat sebutan kĥxn h̄mā k̄hāw dan T̂n khxn khæn. Di Filipina dikenal dengan nama malasambal, taligbuhuk, dan pasiu. Sementara di China, Jepang, dan wilayah lain, tanaman ini memiliki nama lokal masing-masing. Di Indonesia, kita mengenalnya dengan nama yang begitu singkat, yaitu suji.
Secara botani, suji termasuk famili Asparagaceae. Daerah sebaran alaminya cukup luas, membentang dari Bangladesh, melintasi kawasan Indochina dan Indonesia, hingga Australia bagian utara [
5Thu, Z. M., Myo, K. K., Aung, H. T., Armijos, C., & Vidari, G. (2020). Flavonoids and Stilbenoids of the Genera Dracaena and Sansevieria: Structures and Bioactivities. Molecules, 25(11), 2608. https://doi.org/10.3390/molecules25112608
].
Sosoknya berupa herba tahunan berimpang yang dapat tumbuh menjadi semak besar dengan sedikit percabangan yang mengarah ke atas. Dalam kondisi tertentu, suji juga dapat tampil seperti pohon kecil yang ramping, dengan ranting-ranting lemah yang menjuntai. Tingginya dapat mencapai sekitar 1–3 meter.
Daunnya menjadi bagian yang paling mudah dikenali. Berbentuk garis atau linear, daun suji tidak memiliki tangkai dan tersusun rapat membentuk roset. Warna hijaunya yang pekat membuat tanaman ini menarik sebagai penghias pekarangan. Ketika memasuki masa berbunga, bunga kuning muncul dalam rangkaian tandan di ujung batang, yang kemudian dapat membentuk malai yang melebar. Buahnya berupa buah buni berbentuk bulat, agak gepeng, dan memiliki tiga lekukan [
6LLIFLE - Encyclopedia of living forms. (n.d.). Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb. LLIFLE. Retrieved September 18, 2026, from https://www.llifle.com/Encyclopedia/TREES/Family/Dracaenaceae/30145/Dracaena_angustifolia
].

Percabangan pada tanaman suji (Dracaena angustifolia)

Namun, suji tidak berhenti sebagai tanaman penghias halaman. Bagi masyarakat Indonesia, tanaman ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan dapur. Daunnya dikenal sebagai salah satu sumber klorofil sekaligus pewarna hijau alami untuk makanan [
7Renianda, Rafdinal, & Ifadatin, S. (2023). Ethnobotany of Food Plants in The Malay Community in Ratu Sepudak Village, Galing District, Sambas Regency. Jurnal Biologi Tropis, 23(2), 62–75. https://doi.org/10.29303/jbt.v23i2.5649
]. 
Warna hijaunya dimanfaatkan untuk memberikan rona pada berbagai olahan pangan, menjadikannya bagian dari kekayaan pengetahuan tradisional mengenai bahan-bahan alami di sekitar kita.
Di luar Indonesia, suji juga tercatat dalam pengobatan tradisional. Masyarakat etnis Li di Pulau Hainan, misalnya, secara tradisional menggunakan Dracaena angustifolia untuk membantu mengatasi penyakit yang berkaitan dengan peradangan.
Kajian farmakologi modern kemudian turut menaruh perhatian pada tanaman ini. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya potensi kandungan kimia Dracaena angustifolia dalam membantu melancarkan sirkulasi darah dan meredakan peradangan. Tanaman ini juga telah dikaji berkaitan dengan potensi penggunaannya dalam membantu mengatasi tukak lambung, diare, diabetes, pendarahan [
8Zhao, T., Nong, X.-H., Zhang, B., Tang, M.-M., Huang, D.-Y., Wang, J.-L., Xiao, J.-L., & Chen, G.-Y. (2020). New flavones from the stems of Dracaena angustifolia. Phytochemistry Letters, 36, 115–119. https://doi.org/10.1016/j.phytol.2020.01.025
], serta menjaga kadar kolesterol [
9Pratami, M. P., Anggraeni, A., & Sujarwo, W. (2024). Ethnobotany of Medicinal Plants in Leuwiliang (Bogor), Indonesia. Ethnobotany Research and Applications, 27. https://doi.org/10.32859/era.27.1.1-40
].

Batang bawah tanaman suji (Dracaena angustifolia)

Tentu, temuan farmakologi tersebut merupakan hasil kajian ilmiah mengenai potensi tanaman, bukan berarti daun suji dapat begitu saja menggantikan pengobatan medis. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami efektivitas, dosis, keamanan, dan penggunaannya pada manusia.
Pagi itu, setelah langkah-langkah dalam Jalan Sehat membawa kami kembali ke tengah keramaian, tanaman yang semula hanya terlihat sebagai penghias sudut taman meninggalkan kesan berbeda.
Suji ternyata bukan sekadar daun hijau yang mempercantik halaman. Di balik warna hijaunya yang pekat, tersimpan sejarah penamaan selama berabad-abad, perjalanan botani lintas benua, pengetahuan tradisional, hingga penelitian modern tentang kandungan dan potensinya.
Jemari hijau yang tumbuh membisu itu seakan mengingatkan bahwa alam sering menyimpan cerita jauh lebih panjang daripada yang tampak oleh mata.
Di sudut RTH Wringinagung, di antara langkah kaki dan semarak peringatan kemerdekaan, Dracaena angustifolia berdiri sederhana - hijau, rimbun, dan diam. Tetapi dari tanaman kecil itulah, sebuah kisah besar tentang botani, budaya, dan pengetahuan manusia kembali terbuka. *** [180926]


logoblog

Thanks for reading Dracaena angustifolia, Tanaman Suji Berdaun Hijau Pekat

Newest
You are reading the newest post

1 komentar:

Sahabat Blog