Jumat (28/08) siang, Pendopo Balai Dusun Kalirejo, Desa Kaliploso, Kabupaten Banyuwangi, masih ramai oleh kegiatan pemeriksaan spirometri. Di sela-sela kegiatan, saya berkeliling lihat lahan kosong di sekitar pendopo - ruang terbuka yang dipenuhi aneka tanaman liar.
Di antara rerumputan dan tumbuhan yang tumbuh tanpa ditanam itu, tampak sebuah tanaman merambat dengan bunga kuning mencolok. Batangnya melilit vegetasi di sekitarnya, sementara daun berbentuk hati menjuntai di antara sulur-sulurnya. Di Indonesia, tanaman tersebut dikenal sebagai renjeng, khususnya di kalangan masyarakat Jawa.
Bunga renjeng berbentuk corong, berwarna kuning cerah, dan menghadirkan kesan tropis yang kuat. Sekilas, tanaman ini tampak sederhana. Namun, di balik keberadaannya yang kerap dianggap sebagai gulma, renjeng menyimpan kisah panjang tentang nama, sebaran, serta kemungkinan manfaatnya bagi manusia.
![]() |
| Bunga renjeng (Merremia gemella) berwarna kuning |
Merambat Mengejar Cahaya
Renjeng memiliki nama ilmiah Merremia gemella (Burm.fil.) Hallier fil. Ia termasuk famili Convolvulaceae atau suku kangkung-kangkungan, kelompok tumbuhan yang umumnya memiliki batang menjalar atau memanjat.
Sebagai tumbuhan herba merambat, renjeng tumbuh dengan cara melilit tanaman lain. Strategi itu membantunya mencapai ruang yang lebih terbuka dan memperoleh sinar matahari sebanyak mungkin. Karena pertumbuhannya tergolong vigor, renjeng dapat berkembang dengan cepat, terutama di lahan yang terbuka dan mengalami gangguan.
Area kosong di sekitar pendopo menjadi tempat yang sesuai bagi tanaman ini. Sinar matahari leluasa menembus lahan, sementara tidak banyak tanaman lain yang menghalangi pertumbuhannya. Sulur-sulur renjeng pun menjalar, memanjat tumbuhan di sekitarnya, dan membentuk hamparan hijau dengan bunga-bunga kuning yang bermunculan.
Renjeng terutama ditemukan di wilayah tropis dengan musim kemarau. Daerah sebaran aslinya mencakup Taiwan, kawasan Asia tropis, hingga Australia bagian utara. Catatan botani juga menyebutkan keberadaannya di Jawa.
![]() |
| Sulur tanaman renjeng (Merremia gemella) |
Nama yang Menyimpan Sejarah
Nama genus Merremia diberikan untuk menghormati Blasius Merrem (1761–1824), seorang naturalis asal Jerman [
1Hyde, M.A., Wursten, B.T., Ballings, P. & Coates Palgrave, M. (2026). Flora of Malawi: Genus page: Merremia. https://www.malawiflora.com/speciesdata/genus.php?genus_id=1182, retrieved 1 September 2026
]. Sementara itu, nama spesies gemella berasal dari bahasa Latin gemellus, yang berarti “ganda” atau “berpasangan” [2Merriam-Webster. (n.d.). Gemel. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved September 1, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/gemel
].Nama tersebut merujuk pada kebiasaan khas tanaman yang menghasilkan bunga atau buah secara berpasangan. Pada renjeng, karakter itu menjadi salah satu ciri yang membantu membedakannya dari kerabat lain dalam genus yang sama.
Perjalanan ilmiah tanaman ini telah dimulai sejak abad ke-18. Pada 1768, botanis sekaligus dokter asal Belanda, Nicolaas Laurens Burman (1734–1793), pertama kali mendeskripsikannya dengan nama Convolvulus gemellus. Deskripsi itu diterbitkan dalam Flora Indica [
3Burman, Nicolaas Laurens. (1768). Nicolai Laurentii Burmanni Flora Indica: cui accedit series zoophytorum Indicorum, nec non prodromus florae Capensis. Lugduni Batavorum: Apud Cornelium Haek. https://www.biodiversitylibrary.org/page/39900464
].Lebih dari satu abad kemudian, pada 1893, botanis Jerman Hans Johannes Gottfried Hallier (1868–1932) merevisi klasifikasinya. Hallier, yang pernah mengumpulkan tanaman di Indonesia, memindahkan spesies tersebut ke dalam genus Merremia. Revisi itu dipublikasikan dalam Botanische Jahrbücher für Systematik [
4Engler, Adolf. (1893). Botanische Jahrbücher fur Systematik, Pflanzengeschichte und Pflanzengeographie (Vol. 16, Issue 1). Leipzig: Wilhelm Engelmann. https://www.biodiversitylibrary.org/page/183903
].Selain disebut renjeng di Indonesia, tanaman ini juga memiliki sejumlah nama umum di negara lain. Di China, ia dikenal dengan nama cài luán téng dan jīn huā yù huáng cǎo.
![]() |
| Daun renjeng (Merremia gemella) berbentuk hati |
Dari Gulma Menjadi Ramuan
Literatur mengenai renjeng memang belum sebanyak tanaman obat lainnya. Dalam keseharian, tanaman ini lebih sering dipandang sebagai tumbuhan liar yang menghiasi lahan terbuka, seperti yang terlihat di sekitar Pendopo Balai Dusun Kalirejo.
Namun, dalam pengobatan tradisional, renjeng tidak sepenuhnya diabaikan. Dikutip dari Nature Info, daun renjeng yang ditumbuk dan dicampur dengan kunyit serta beras pecah digunakan sebagai ramuan tapal. Ramuan tersebut dioleskan pada bagian tangan atau kaki yang mengalami retakan nyeri dan kulit pecah-pecah.
Para pengobat tradisional juga memanfaatkan ramuan dari tanaman ini untuk membantu mengatasi tonsilitis akut atau radang amandel [
5NATURE INFO. (2019, October 13). Merremia Gemella. NATURE INFO. https://www.natureinfo.com.bd/merremia-gemella/
]. Penggunaan tersebut merupakan bagian dari pengetahuan empiris yang diwariskan, bukan pengganti diagnosis maupun pengobatan medis.Dari sisi fitokimia, Jenett-Siems et.al. (2005) melaporkan ditemukannya alkaloid pirolidin dan tropana pada Merremia gemella serta Merremia tuberosa [
6Jenett-Siems, K., Weigl, R., Böhm, A., Mann, P., Tofern-Reblin, B., Ott, S. C., Ghomian, A., Kaloga, M., Siems, K., Witte, L., Hilker, M., Müller, F., & Eich, E. (2005). Chemotaxonomy of the pantropical genus Merremia (Convolvulaceae) based on the distribution of tropane alkaloids. Phytochemistry, 66(12), 1448–1464. https://doi.org/10.1016/j.phytochem.2005.04.027
]. Alkaloid tropana dikenal memiliki aktivitas antikolinergik, yakni kemampuan menghambat kerja neurotransmiter asetilkolin pada sistem saraf pusat dan perifer.Senyawa tersebut berikatan dengan reseptor muskarinik dan/atau nikotinik. Dalam dunia farmasi, kelompok alkaloid tropana memiliki nilai penting karena berkaitan dengan pengembangan obat yang bersifat antiemetik, anestetik, antispasmodik, bronkodilator, dan midriatik [
7Shim, K. H., Kang, M. J., Sharma, N., & An, S. S. A. (2022). Beauty of the beast: anticholinergic tropane alkaloids in therapeutics. Natural Products and Bioprospecting, 12(1). https://doi.org/10.1007/s13659-022-00357-w
].Meski demikian, keberadaan senyawa aktif tidak otomatis membuat seluruh bagian tanaman aman dikonsumsi. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kadar, mekanisme kerja, manfaat, serta potensi risikonya. Penggunaan renjeng sebagai obat sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terutama tanpa pengetahuan dosis dan bentuk sediaan yang tepat.
![]() |
| Tanaman renjeng (Merremia gemella) yang melilit tanaman lain |
Bunga Kuning di Lahan Terbuka
Renjeng mengajarkan bahwa tumbuhan yang tumbuh liar tidak selalu berarti tidak bernilai. Di balik batangnya yang melilit dan bunganya yang sederhana, tersimpan sejarah taksonomi, kemampuan beradaptasi, serta pengetahuan tradisional yang masih membutuhkan pengkajian ilmiah.
Di lahan kosong sekitar pendopo, renjeng mungkin hanya dianggap tanaman pengganggu. Tetapi bagi mata yang mau memperhatikan, ia adalah bagian kecil dari keragaman hayati yang hidup berdampingan dengan manusia.
Bunga kuning berbentuk corong itu mekar di antara rerumputan, seolah mengingatkan bahwa alam tidak selalu hadir dalam bentuk yang rapi dan sengaja ditanam. Kadang-kadang, ia tumbuh begitu saja - merambat, bertahan, dan memperlihatkan keindahannya di tempat yang nyaris tak diperhitungkan. *** [020926]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar