“Exposure to the arts and culture is enormously valuable”. -- Kevin Spacey
Sorot lampu panggung menyapu lapangan. Musik mengalun. Di antara riuh penonton, langkah-langkah kecil mulai memasuki panggung. Ada yang menari dengan kostum warna-warni, ada yang tampil gagah dalam atraksi jaranan, dan ada pula yang duduk memainkan gamelan.
Mereka masih anak-anak. Tetapi malam itu, panggung Kaliploso Horti Carnival (KHC) 2026 seolah menjadi milik mereka.
Dengan penuh percaya diri, anak-anak TK Dharma Wanita 68 dan SDN 1 Kaliploso menunjukkan kreativitas mereka dalam malam kedua gelaran KHC di Lapangan Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, pada Sabtu (05/09). Tepuk tangan dan decak kagum penonton pun berkali-kali terdengar.
Malam kedua KHC 2026 memang dirancang sebagai kelanjutan kemeriahan hari sebelumnya. Setelah opening pada Jumat (04/09) malam yang menampilkan anak-anak TK dan MI se-Desa Kaliploso, panggung kembali semarak dengan pertunjukan seni budaya dari generasi paling muda.
“Ini adalah malam lanjutan KHC dari hari sebelumnya,” kata Master of Ceremony (MC) Rio Dita Wibawa saat mengawali acara.
Suasana semakin hangat setelah Lintang Musik membuka panggung dengan lagu Kembang Ati. Setelah itu, penampilan anak-anak dari dua sekolah tersebut hadir silih berganti, diselingi permainan angklung dari ansambel asal Desa Genteng Kulon. Panggung berubah menjadi ruang ekspresi.
![]() |
| Tari Dadali oleh murid TK Dharma Wanita 68 Desa Kaliploso di panggung KHC 2026 |
Dari Jaranan hingga Fashion Show
TK Dharma Wanita 68 menghadirkan tiga penampilan. Tari Dadali menjadi pembuka, disusul Jaranan Buto Cilik yang menghadirkan aksi enerjik anak-anak. Penampilan mereka kemudian ditutup melalui Fashion Show Kolaborasi Wali Murid.
Meski masih duduk di bangku taman kanak-kanak, mereka tampil seolah tidak sedang berada di hadapan penonton dalam jumlah besar. Gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh semangat.
Tidak kalah menarik, SDN 1 Kaliploso tampil dengan repertoar yang lebih beragam. Jaranan Buto, Ulan Andung-Andung, Tari Punjari, Lagu Sumberwangi, Pencak Silat, Tari Sriganyong, serta Lagu dan Tari Bersama Pada Bulan dibawakan secara bergantian.
Namun, ada satu penampilan yang cukup menyita perhatian penonton. Ketika anak-anak SDN 1 Kaliploso memainkan Ulan Andung-Andung dengan iringan gamelan Banyuwangi, suasana panggung terasa berbeda.
Bunyi instrumen tradisional itu berpadu rampak. Ritme khas Banyuwangi mengalir dari sisi barat daya panggung, menghadirkan sebuah pertunjukan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga memperlihatkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah generasi digital.
Gamelan Banyuwangi atau gamelan Osing memang mempunyai karakter tersendiri. Berkembang di ujung timur Pulau Jawa, dekat dengan Bali, musik ini memiliki warna musikal yang berbeda dari gamelan gaya Surakarta-Yogyakarta, Jawa Timur maupun Bali. Karakter ritmis dan energik menjadi salah satu cirinya.
Malam itu, karakter tersebut hadir melalui tangan-tangan kecil siswa SDN 1 Kaliploso. Mereka bukan sekadar memainkan alat musik. Mereka sedang belajar menjadi bagian dari tradisi.
![]() |
| Ulan Andung-Andung dalam instrumentalia gamelan khas Banyuwangi yang dimainkan oleh murid SDN 1 Kaliploso |
Belajar Budaya di Atas Panggung
Di sinilah KHC memiliki makna yang lebih dalam. Panggung bukan hanya tempat anak-anak mempertontonkan kemampuan. Ia juga menjadi ruang belajar yang tidak selalu bisa diberikan oleh suasana kelas.
Sebelum tampil, anak-anak harus berlatih. Mereka menghafalkan koreografi, memahami ritme, menyesuaikan posisi, mengikuti instruksi, dan belajar tampil bersama. Ada proses panjang di balik beberapa menit pertunjukan.
Mereka belajar bahwa tampil di atas panggung bukan hanya soal siapa yang paling menonjol. Ada teman yang harus dihargai, ada gerakan yang harus diselaraskan, dan ada tanggung jawab yang harus diselesaikan bersama.
Dari proses tersebut tumbuh kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, kesabaran, empati, hingga kesadaran terhadap ruang.
Aktivitas menari dan memainkan alat musik juga membantu perkembangan kemampuan motorik anak. Sementara proses menghafal gerakan dan mengikuti irama melatih daya ingat serta koordinasi.
Yang tidak kalah penting, mereka berkenalan dengan warisan budaya daerah sejak usia dini. Seni tidak lagi sekadar menjadi sesuatu yang mereka lihat. Seni menjadi sesuatu yang mereka lakukan.
![]() |
| Fashion Show Kolaborasi Wali Murid TK Dharma Wanita 68 Desa Kaliploso |
Menanam Budaya dari Generasi Paling Muda
Kepekaan Pemerintah Desa Kaliploso dalam memberikan ruang kepada anak-anak untuk tampil menjadi bagian penting dalam gelaran KHC. Sebab, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan pertunjukan. Budaya membutuhkan generasi yang mengenal, memainkan, dan merasa memiliki.
Anak-anak yang hari ini memainkan gamelan, menari, melakukan jaranan, atau mengenakan busana tradisional adalah calon penjaga kebudayaan pada masa mendatang.
Pemikiran Garrod & Dowell (2020) memperkuat hal tersebut. Partisipasi anak dalam kegiatan budaya memberikan manfaat langsung dalam aspek pendidikan dan emosional, seperti mendorong kreativitas serta meningkatkan rasa percaya diri.
Pengalaman tersebut juga berpotensi membentuk hubungan anak dengan budaya dalam jangka panjang. Mereka dapat tumbuh menjadi individu yang menikmati kegiatan budaya sepanjang hidup sekaligus menjadi bagian dari ekosistem budaya di masa depan.
Dampaknya bahkan dapat meluas kepada masyarakat. Keterlibatan dalam aktivitas budaya dapat memperkuat hubungan sosial dan memberikan ruang positif bagi anak-anak untuk berkembang.
Seperti dikatakan Kevin Spacey Fowler adalah seorang aktor Amerika, yang dikenal karena karyanya di panggung dan layar, ia telah menerima banyak penghargaan, termasuk dua Academy Awards, BAFTA Award, Golden Globe Award, Tony Award, dan dua Laurence Olivier Awards serta nominasi untuk 12 Emmy Awards:
“Paparan terhadap seni dan budaya sangatlah berharga.”
Kalimat itu menemukan maknanya di panggung KHC malam kedua. Sebab, bagi anak-anak tersebut, pengalaman tampil malam itu bukan sekadar pertunjukan.
Itu adalah pengalaman untuk berani. Pengalaman untuk bekerja bersama. Pengalaman untuk mengenal akar budayanya. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, pengalaman itu sedang menanam sesuatu yang akan mereka bawa hingga dewasa.
![]() |
| Tampak Kepala Desa Kaliploso menikmati aksi panggung murid-murid dari TK Dharma Wanita 68 dan SDN 1 Kaliploso |
Ketika Tepuk Tangan Menjadi Sebuah Harapan
Ketika pertunjukan selesai, lampu panggung mungkin akan dipadamkan. Musik berhenti mengalun. Anak-anak kembali ke tengah keluarganya.
Namun, pengalaman mereka tidak ikut berakhir. Ada rasa bangga yang tertinggal. Ada keberanian yang bertambah. Ada kenangan tentang malam ketika mereka berdiri di atas panggung KHC dan disaksikan masyarakat desanya.
Lebih dari itu, ada sebuah pesan yang sedang disampaikan Kaliploso, bahwa menjaga budaya dapat dimulai dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenalnya.
Dari tari. Dari musik. Dari jaranan. Dari gamelan, dan dari sebuah panggung sederhana di lapangan desa.
KHC 2026 akhirnya bukan hanya menjadi perayaan budaya dan ekonomi kreatif. Ia juga menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan generasi penerusnya.
Malam itu, anak-anak memang tampil di atas panggung. Tetapi sesungguhnya, yang sedang mereka pertunjukkan adalah harapan - bahwa budaya Banyuwangi akan terus memiliki pewaris, penonton, dan pelaku di masa depan. *** [050926]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar