Selasa, September 29, 2026

Protaetia fusca, Si Kumbang Bunga Berbintik-Bintik

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, September 29, 2026
Di balik semak-semak belakang sebuah kedai kopi di pinggiran kota, seekor kumbang mungil dengan sayap keras berbintik pucat tengah asyik bertengger di sebatang ilalang. Sosoknya sederhana, tetapi kisah di balik namanya menyimpan jejak panjang perjalanan ilmu pengetahuan dari abad ke-18 hingga hari ini.
Ahad (27/09) sore itu, suasana di Kopi Kanal 25 terasa akrab dan santai. Sejumlah enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) sedang mengisi waktu jeda dengan nongki di kedai kopi tersebut. Tawa dan celetukan ringan terdengar dari meja-meja kayu lesehan, sementara gelas-gelas minuman pesanannya berjajar di atas meja. 
Ketika mereka sedang bermain kartu UNO, saya mencoba berkeliling di sekitar kedai. Di belakang bangunan, setelah melewati jembatan bambu yang melintang di atas pekarangan, terbentang sepetak lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar. Di sanalah, di antara rimbun ilalang yang bergoyang pelan, seekor kumbang bunga berbintik-bintik menarik perhatian saya.
Kumbang itu tidak besar, hanya sekitar 12 hingga 17 milimeter panjangnya. Tubuhnya pipih lebar, dengan corak bintik-bintik pucat yang khas menghiasi sayap kerasnya. Di Indonesia, serangga ini lebih dikenal sebagai kumbang bunga mangga atau kumbang scarab - terjemahan dari mango flower beetle atau mottled flower scarab.
 
Kumbang scarab (Protaetia fusca) bertengger di ilalang dekat Kopi Kanal 25, Dusun Maron RT 04 RW 01 Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi

Nama ilmiahnya adalah Protaetia fusca (Herbst, 1790), sebuah nama yang menyimpan cerita panjang tentang bagaimana para ilmuwan menamai dan mengklasifikasikan makhluk hidup. Nama genus Protaetia pertama kali ditetapkan oleh Karl Hermann Konrad Burmeister (1807-1892), seorang entomolog kelahiran Jerman yang kemudian menetap di Argentina, pada tahun 1842. Burmeister menciptakan nama ini sebagai sub-kelompok atau pengembangan dari genus Cetonia - kelompok kumbang chafer pemakan bunga yang berkerabat dekat. 
Sayangnya, sumber-sumber yang tersedia tidak memberikan etimologi yang eksplisit untuk nama tersebut. Para ahli menduga Protaetia berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata pro yang berarti "di depan" atau "sebelumnya", dan aetio yang berarti "penyebab" atau "tanggung jawab". Kombinasi ini mengacu pada konvensi penamaan Yunani klasik untuk kumbang scarab yang berwarna cerah.
Sementara itu, julukan khusus fusca berasal dari kata sifat bahasa Latin fuscus, yang berarti "gelap", "suram", atau "berkulit gelap". Nama ini merujuk pada warna tubuh kumbang tersebut yang cokelat tua [
1Benweb 3.3. (2014, December 18). New backyard bug: Asian mango flower beetle. Benweb 3.3 -. https://benkolstad.net/?p=6616
]. 
Menariknya, kumbang ini pertama kali dideskripsikan oleh Johann Friedrich Wilhelm Herbst, entomolog Jerman, pada tahun 1790 dengan nama Cetonia fusca [
2Herbst, J. F. W. (1790). Natursystem aller bekannten in und auslandischen Insecten; nach dem system des Ritters Carl von Linné bearbeitet; von C.G.Jablonsky fortgesetz von J.F.W.Herbst. Kafer. Ben Joachim Pauli, Berlin 3:1-325. https://doi.org/10.5962/bhl.title.156919 10.5962/bhl.title.156919
]. Tanda kurung yang mengapit "Herbst, 1790" dalam nama ilmiahnya menunjukkan bahwa spesies ini telah dipindahkan ke genus yang berbeda sejak deskripsi awalnya, sebuah praktik umum dalam taksonomi untuk menandai perubahan klasifikasi.

Kumbang scarab (Protaetia fusca) dipotret dari sisi kanan hewan tersebut dengan HP Xiaomi Redmi Note 15 Pro 5 G

Selain nama binomial, Protaetia fusca memiliki banyak nama umum di berbagai negara. Di Inggris, ia dikenal sebagai Asian mango flower beetle, mango flower beetle, mottled flower scarab, atau dark flower-beetle. Di Thailand, namanya D̂wng dxkmị̂ ch̆xk. Di Indonesia, masyarakat menyebutnya kumbang bunga mangga atau kumbang scarab. Di China, ia dipanggil huībái diǎn huā jīnguī atau fǎng xīng huā jīnguī, sedangkan di Jepang dikenal sebagai haiirohanamuguri. 
Nama-nama ini mencerminkan penyebarannya yang luas di wilayah Indo-Pasifik, mulai dari India, melintasi Tiongkok dan Jepang bagian selatan, hingga ke Indochina, Indonesia, dan Australia bagian utara [
3Dunlap, J.B., Jameson, M. L., Engasser, E. L., Skelley, P. E., & Redford, A. J. (2016, February). Protaetia fusca. Identification Technology Program. https://idtools.org/scarab/index.cfm?packageID=2201&entityID=10476
].
Kumbang ini termasuk dalam famili Scarabaeidae, keluarga besar yang mencakup berbagai jenis kumbang scarab. Dalam siklus hidupnya, Protaetia fusca melewati fase larva yang mengonsumsi materi tanaman membusuk. Peran ini penting dalam ekosistem karena membantu daur ulang nutrisi [
4Picture Insect. (n.d.). Oriental flower beetle (Protaetia orientalis). Picture Insect. Retrieved September 28, 2026, from https://pictureinsect.com/wiki/Protaetia_orientalis.html
] - sebuah jasa ekologis yang sering luput dari perhatian. 
Namun, ketika dewasa, kumbang ini berubah menjadi pemakan bunga, tunas muda, dan buah dari berbagai jenis tanaman. Kerusakan yang ditimbulkannya bersifat mekanis: ia merusak bunga secara parah demi mendapatkan serbuk sari atau nektar. Tak hanya itu, kumbang ini juga diketahui merusak titik tumbuh tanaman dengan cara mengisap getah yang keluar dari luka bekas gigitannya.

Penampakan sayap keras kumbang scarab (Protaetia fusca)

Di Australia, Protaetia fusca dikenal sebagai hama yang merusak tanaman alpukat, jeruk, ara, persik, dan mawar. Ia bahkan pernah ditemukan menyerang pohon apel muda. Daftar tanaman inangnya jauh lebih luas, mencakup tanaman Cassia, kelapa, jahe, mangga, leci, jagung, dan bahkan pohon flamboyan [
5Brumley, C. (n.d.). Protaetia fusca. Lucidcentral. Retrieved September 28, 2026, from https://keys.lucidcentral.org/keys/v3/exotic_scarab_pests/key/lucid_key_to_scarabs/Media/Html/entities/protaetia_fusca.htm
]. 
Meskipun demikian, keberadaannya tidak sepenuhnya merugikan. Sebagai larva, ia berperan sebagai pengurai materi organik yang membantu menyuburkan tanah. Sebagai kumbang dewasa, ia menjadi bagian dari jaringan ekologi yang kompleks, berinteraksi dengan bunga-bunga dan tanaman di sekitarnya.
Mengamati kumbang mungil di atas ilalang sore itu, saya teringat betapa seringnya kita melewatkan detail-detail kecil di sekitar kita. Di tengah obrolan tentang survei dan kesehatan, di sela permainan kartu dan tawa lepas, alam tetap menjalankan perannya dengan tenang. 
Protaetia fusca mungkin hanya seekor kumbang berbintik yang hinggap di semak belukar, tetapi di baliknya tersimpan kisah taksonomi yang rumit, peran ekologis yang penting, dan jejak perjalanan ilmu pengetahuan yang membentang lebih dari dua abad. 
Kadang-kadang, keajaiban itu memang tidak jauh-jauh amat - cukup melangkah keluar dari keramaian, melewati jembatan bambu, dan membuka mata terhadap hal-hal kecil yang selama ini terlewatkan. *** [290926]


logoblog

Thanks for reading Protaetia fusca, Si Kumbang Bunga Berbintik-Bintik

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog