Senin, September 28, 2026

Senja di Kopi Kanal 25, Nongkrong Asyik Bernuansa Pedesaan Genteng

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, September 28, 2026
“I love going to coffee shops and just sitting and listening”. -- Julie Roberts
Sang surya perlahan merunduk ke ufuk barat ketika cahaya keemasan menyusup di antara daun-daun tabebuia (Tabebuia aurea). Dari sebuah kanal kecil, suara air mengalir tenang, berpadu dengan gesekan dedaunan dan kepulan asap jerami yang samar terlihat di seberang. Sore itu, Dusun Maron RT 04 RW 01, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dari laju kehidupan.
Di sanalah Kopi Kanal 25 berada. Tempat nongkrong sederhana ini berdiri di tepi saluran irigasi peninggalan kolonial Belanda. Letaknya menghadap hamparan areal persawahan dengan latar belakang lima gunung membiru nan gagah – Raung, Suket, Gempit, Ijen, dan Ranti.
Bersama sejumlah enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), saya tiba di lokasi ketika sore mulai matang pada Ahad (27/09). Suasananya segera terasa berbeda, jauh dari bising kendaraan, musik keras, dan padatnya kafe perkotaan.

Diajak nongkrong enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC di Kopi Kanal 25 yang terletak di Dusun Maron RT 03 RW 01 Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi

Memasuki area kedai, pengunjung akan melewati tepian kanal yang airnya mengalir pelan. Di beberapa sudut di sekitar kedai kopi, tersedia babut dan meja pendek untuk pengunjung yang ingin duduk lesehan. Sejumlah orang tampak berbincang ringan sembari menyeruput minuman, sementara sebagian lainnya menikmati suasana tanpa banyak kata.
Kanal kecil di depan kedai menjadi daya tarik utama. Dari sanalah nama “Kanal 25” berasal. Permukaan airnya memantulkan warna langit yang berubah perlahan, dari biru pucat, jingga, hingga keemasan. Sederhana, tetapi justru di situlah pesonanya. Tidak ada dekorasi berlebihan. Alam menjadi bagian terpenting dari pengalaman nongkrong di tempat ini.
Seperti kata Julie Roberts, seorang penyanyi musik country Amerika, yang dikenal lewat lagu-lagu seperti Break Down Here (2004) dan memoarnya Beauty in the Breakdown: Choosing to Overcome (2018): 
“Saya senang pergi ke kedai kopi, lalu sekadar duduk dan mendengarkan.” 
Kalimat itu terasa menemukan tempatnya di Kopi Kanal 25. Duduk di sini bukan hanya tentang menikmati hidangan, melainkan juga mendengarkan hal-hal kecil yang kerap hilang dari hiruk-pikuk kota, seperti gemericik air, desau daun, percakapan pengunjung, dan suara sore yang perlahan turun menuju malam.

Suasana sore Kopi Kanal 25 di hari libur

Sajian Sederhana, Harga Bersahabat
Meski menyandang nama kedai kopi, Kopi Kanal 25 menawarkan lebih dari sekadar kopi. Aneka camilan, jajanan tradisional, minuman hangat dan dingin, hingga mi instan tersedia untuk menemani waktu bersantai. Harganya pun ramah di kantong, sehingga pengunjung tidak perlu menyiapkan bujet besar untuk menikmati suasana.
Sore itu, saya memesan segelas teh panas, lotis, dan kerupuk. Pesanan tersebut kemudian saya bawa ke salah satu babut yang menghadap kanal. Teh hangat, potongan buah dengan bumbu lotis, kerupuk, serta pemandangan air yang bergerak perlahan terasa seperti kombinasi sederhana yang sempurna.
Di tempat ini, makanan tidak perlu tampil mewah untuk terasa nikmat. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah camilan ringan, minuman hangat, dan ruang untuk mengistirahatkan pikiran.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati pengalaman berbeda, Kopi Kanal 25 juga menyediakan wahana kano. Dengan tarif Rp10.000, pengunjung dapat menyusuri kanal dan menikmati suasana dari atas air. Wahana ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Sayangnya, sore itu saya tidak sempat mencobanya. Selain tidak membawa celana pendek, jarak menuju basecamp cukup jauh sehingga saya khawatir masuk angin jika memaksakan diri.
Namun, keberadaan kano tetap membuat tempat ini terasa lebih hidup. Pengunjung tidak hanya bisa duduk dan mengobrol, tetapi juga mencoba aktivitas ringan yang menyatu dengan lingkungan sekitar.

Kecerian anak-anak bersama kano di saluran irigasi peninggalan kolonial Belanda

Senja yang Berjalan Lambat
Menjelang pukul lima sore, langit Genteng mulai berubah jingga. Lampu-lampu kecil di sekitar kedai dinyalakan satu per satu, menghadirkan cahaya hangat di tengah langit yang perlahan meredup. Pantulannya tampak samar di permukaan kanal, menciptakan suasana yang semakin nyaman.
Beberapa pengunjung masih asyik berbincang. Yang lain sibuk mengambil gambar menggunakan ponsel. Namun, tidak ada yang tampak terburu-buru untuk pergi. Seolah-olah tempat ini memiliki kemampuan sederhana untuk memperlambat waktu.
Itulah yang membuat Kopi Kanal 25 terasa cocok bagi mereka yang mencari nongkrong santai. Tempat ini tidak menawarkan hiruk-pikuk, melainkan ketenangan yang tumbuh dari kesederhanaan desa. Di sini, alam tidak sekadar menjadi latar, tetapi hadir sebagai bagian dari pengalaman.
Kopi Kanal 25 buka setiap hari pukul 11.00–20.00 WIB. Pada hari libur, kedai ini buka lebih awal, mulai pukul 08.00 WIB. Waktu pagi bisa menjadi pilihan menarik bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana pedesaan sembari menyantap mi instan hangat atau minuman pembuka hari.
Jika sedang berada di sekitar Genteng dan ingin mencari tempat nongkrong yang berbeda, Kopi Kanal 25 layak dipertimbangkan. Bukan semata karena kopinya, bukan pula hanya karena wahana kanonya, melainkan karena tempat ini menawarkan sesuatu yang lebih jarang ditemukan, yaitu ketenangan alam persawahan di depannya.
Di tepi kanal kecil itu, senja terasa lebih panjang. Waktu berjalan lebih pelan, percakapan terdengar lebih akrab, dan kesederhanaan desa menjadi pelarian kecil dari riuh kehidupan - setidaknya sampai lampu-lampu kota kembali memanggil. *** [280926]
logoblog

Thanks for reading Senja di Kopi Kanal 25, Nongkrong Asyik Bernuansa Pedesaan Genteng

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog