"I take cacao, I moisten my lips. I refresh myself." (Sahagun, 11)
Aromanya menggoda, sejarahnya mistis, dan namanya saja sudah terdengar seperti mantra: Theobroma cacao - Makanan Para Dewa. Di tengah hamparan hijau Doesoen Kakao Kedunglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, pohon-pohon cokelat tumbuh rapi, seolah menjaga warisan kehidupan yang menghubungkan manusia dengan yang sakral.
Di sela nongkrong di Café Cokelat bersama enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, pada Ahad (30/08) siang, saya menyempatkan diri menyusuri area perkebunan di sekitar café.
Di sana, deretan pohon kakao berdiri subur, terawat, dan seolah bercerita. Batangnya berkayu, perakarannya dangkal dan lateral. Daunnya tunggal, memanjang. Bunganya mungil, tumbuh langsung di batang - fenomena botani yang disebut kauliflori. Buahnya beralur, sementara pola percabangannya membentuk struktur khas bernama jorket (churquet).
![]() |
| Deretan pohon cokelat (Theobroma cacao) di Doesoen Kakao Kedunglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi |
Nama ilmiahnya, Theobroma cacao L., pertama kali dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pada 1753 dalam Species Plantarum [
1Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358580
]. Nama genus Theobroma berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata theo (dewa) dan broma (makanan), sehingga berarti “Makanan Para Dewa” [2Sitarek, P., Merecz-Sadowska, A., Sikora, J., Osicka, W., Śpiewak, I., Picot, L., & Kowalczyk, T. (2024). Exploring the Therapeutic Potential of Theobroma cacao L.: Insights from In Vitro, In Vivo, and Nanoparticle Studies on Anti-Inflammatory and Anticancer Effects. Antioxidants (Basel, Switzerland), 13(11), 1376. https://doi.org/10.3390/antiox13111376
]. Sedangkan, julukan khusus cacao berakar dari bahasa Nahuatl, cacahuatl, yang dipertahankan penjajah Spanyol di Mesoamerika untuk menyebut pohon cokelat dan hasilnya [3Nahuatl Dictionary. (n.d.). cacahuatl. Wired Humanities Projects. Retrieved September 22, 2026, from https://nahuatl.wired-humanities.org/content/cacahuatl
, 4Merriam-Webster. (n.d.). Cacao. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved September 22, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/cacao
. 5Barry Callebaut. (n.d.). Theobroma cacao, makanan para dewa. Barry Callebaut. Diakses pada 22 September 2026, dari https://www.barry-callebaut.com/en/about-us/media/press-kit/theobroma-cacao-food-gods
].Di berbagai penjuru dunia, tanaman ini dikenal dengan banyak nama: cacao tree, chocolate tree (Inggris); gemeiner Kakaobaum (Jerman); cacaoboom (Belanda); cacaotier commun (Prancis); árbol del cacao (Spanyol); cacau-da-mata (Brasil); hingga pohon cokelat dan kakao (Indonesia).
Theobroma cacao termasuk dalam famili Malvaceae dan berasal dari Amerika Tengah (seperti Meksiko) dan Amerika Selatan (dari Guyana Prancis hingga Bolivia) [
6Jean-Marie, E., Jiang, W., Bereau, D., & Robinson, J. C. (2022). Theobroma cacao and Theobroma grandiflorum: Botany, Composition and Pharmacological Activities of Pods and Seeds. Foods (Basel, Switzerland), 11(24), 3966. https://doi.org/10.3390/foods11243966
]. Budidayanya telah dimulai di Mesoamerika sejak 3.000 tahun lebih. Bukti paling awal penggunaan kakao ditemukan pada tembikar kuno bangsa Olmec dan Maya, sekitar 1900–1500 SM.![]() |
| Buah cokelat (Theobroma cacao) |
Penyebarannya ke Asia Tenggara dimulai pada 1560, ketika bangsa Spanyol memperkenalkan varietas ‘Venezuelan Criollo’ - yang dikenal dengan cita rasa unggul - dari Amerika tropis ke Indonesia. Produksi kakao pertama kali berkembang di Sulawesi Utara, tempat biji kakao diolah dan dikonsumsi secara lokal. Varietas Criollo kembali diperkenalkan dari Meksiko ke Indonesia pada 1670 melalui jalur pelayaran kapal galon Acapulco-Manila, lalu menyebar ke Semenanjung Malaya dan Asia Selatan [
7Li, Y., Zhang, D., Motilal, L. A., Lachenaud, P., Mischke, S., & Meinhardt, L. W. (2021). Traditional varieties of cacao (Theobroma cacao) in Madagascar: their origin and dispersal revealed by SNP markers. Beverage Plant Research, 1(1), 1–7. https://doi.org/10.48130/bpr-2021-0004
].Theobroma cacao, yang dijuluki "Makanan Para Dewa" oleh Carl Linnaeus, memiliki salah satu riwayat paling kaya secara budaya dan kompleks dalam sejarah hubungan antara manusia dan tumbuhan. Melampaui industrialisasi bernilai miliaran dolar sebagai cokelat modern, warisan etnobotaninya menyingkapkan sebuah jembatan sakral yang menghubungkan ranah fisik dan spiritual bagi peradaban masyarakat adat. Theobroma cacao telah lama menjadi tanaman yang memiliki arti sangat penting - bahkan hampir bersifat mistis - bagi budaya masyarakat adat Mesoamerika, dan signifikansinya dalam budaya modern pun kian meningkat seiring dengan pemahaman baru mengenai potensi manfaat kesehatan dari senyawa polifenol kakao [
8Bennett, A. B. (2003). Out of the Amazon: Theobroma cacao enters the genomic era. Trends in Plant Science, 8(12), 561–563. https://doi.org/10.1016/j.tplants.2003.10.004
].![]() |
| Bunga pohon cokelat (Theobroma cacao) muncul di batangnya |
Bagi peradaban Mesoamerika, kakao bukan sekadar tanaman. Ia adalah jembatan antara dunia fisik dan spiritual. Bangsa Aztec memandang pohon kakao sebagai anugerah dari Quetzalcoatl, dewa berwujud ular berbulu yang konon membawa kakao bagi umat manusia.
Biji kakao begitu berharga hingga digunakan sebagai mata uang - bahkan untuk membayar pekerja seks, mungkin karena reputasinya sebagai afrodisiak alami.
Dalam Codex Florentine [
2Sitarek, P., Merecz-Sadowska, A., Sikora, J., Osicka, W., Śpiewak, I., Picot, L., & Kowalczyk, T. (2024). Exploring the Therapeutic Potential of Theobroma cacao L.: Insights from In Vitro, In Vivo, and Nanoparticle Studies on Anti-Inflammatory and Anticancer Effects. Antioxidants (Basel, Switzerland), 13(11), 1376. https://doi.org/10.3390/antiox13111376
], dokumen etnografi abad ke-16 karya Bernardino de Sahagún, tercatat ungkapan: “Aku mengonsumsi kakao, aku membasahi bibirku, aku menyegarkan diriku.”
Minuman kakao murni disajikan tanpa gula, sering dicampur rempah, dan menjadi simbol status sekaligus minuman sakral yang menyegarkan tubuh dan jiwa.
Namun, kakao juga punya sisi lain. Jika dikonsumsi berlebihan - terutama saat buahnya masih hijau - ia bisa menyebabkan mabuk, rasa linglung, bahkan sakit. Dalam takaran wajar, justru memberikan rasa bahagia, tenang, dan menguatkan [
9Phytognosis. (2018, April 18). Theobroma cacao- Chocolate, Cacao. Phytognosis. https://regenerag.org/blog/2008/03/03/sterculiaceae-theobroma-cacao-chocolate
].![]() |
| Daun pohon cokelat (Theobroma cacao) |
Ketika bangsa Eropa mengenal kakao, mereka mengadopsi dan menyebarluaskan minuman tersebut ke seluruh dunia. Julukan “Makanan Para Dewa” pun semakin pas di mana cokelat menjadi komoditas eksotis, mewah, dan mampu memperbaiki suasana hati.
Kini, frasa itu sering digunakan lebih bebas untuk menggambarkan camilan yang terasa “bak surga”. Namun, makna aslinya tetap berakar pada nama ilmiah pohon kakao dan peran sakralnya dalam budaya kuno Mesoamerika.
Di Doesoen Kakao Kedunglembu, warisan itu masih hidup. Di atas lahan perkebunan kakao seluas 1.500 hektare yang dikelola PTPN XII, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar tentang budidaya, pengolahan, dan sejarah cokelat.
Kakao mengajarkan kita bahwa di balik setiap biji cokelat yang kita nikmati, tersimpan kisah panjang tentang kepercayaan, perdagangan, kesehatan, dan hubungan manusia dengan alam. Ia bukan hanya makanan. Ia adalah doa yang ditanam, dipanen, dan dinikmati - generation after generation. *** [230926]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar