Di tepi sungai kecil sebelah timur Balai Dusun Sumberjaya RT 04 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, pada Senin (14/09), berdiri tegak sebuah pohon setinggi lebih dari 10 meter. Tajuknya menyebar, daunnya hijau mengilap, dan dari kejauhan tercium aroma harum sisa-sisa dari bunga yang telah berguguran. Pohon itu adalah Aglaia odoratissima, atau yang oleh warga setempat dikenal sebagai pohon nyampuh - si “paling harum” dari keluarga Meliaceae.
Dari Mitologi Yunani ke Hutan Jawa
Nama ilmiah Aglaia odoratissima Blume menyimpan kisah yang puitis. Kata “Aglaia” diambil dari bahasa Yunani ἀγλαΐα yang berarti kemegahan atau keagungan, sekaligus nama salah satu dari tiga dewi Charites - putri-putri Zeus dalam mitologi Yunani yang melambangkan keindahan dan pesona [
1Puccio, P. (n.d.). Aglaia odorata (M. Beltramini, Trans.). Monaco Nature Encyclopedia. Retrieved October 1, 2026, from https://www.monaconatureencyclopedia.com/aglaia-odorata-2/?lang=en
]. Para ahli botani memilih nama ini untuk mencerminkan kilau dan aroma memukau dari tanaman dalam genus ini.Sedangkan julukan “odoratissima” berasal dari bahasa Latin odoratus yang berarti “harum”, ditambah akhiran superlatif -issima yang menunjukkan arti “paling”. Jadi, Aglaia odoratissima bisa diterjemahkan sebagai “Aglaia yang paling harum” [
2Albizia odoratissima (Black Siris) - e-Flora of India. (n.d.). Garden Flora Online. https://eflora.co.in/species/albizia-odoratissima-black-siris/
]. Nama ilmiah ini pertama kali dipublikasikan pada 1825 oleh Carl Ludwig Blume (1796-1862), botanis Belanda kelahiran Jerman yang pernah bekerja di Jawa, dalam Bijdragen tot de flora van Nederlandsch Indië [
3Blume, C. L. (1825). Bijdragen tot de flora van Nederlandsch Indië. Batavia: Ter Lands Drukkerij. https://www.biodiversitylibrary.org/page/428124
].![]() |
| Pohon nyampuh (Aglaia odoratissima) tumbuh subur di tepi sungai sebelah timur Balai Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Pohon Asli Nusantara dengan Banyak Nama
Di Indonesia, pohon nyampuh punya banyak sebutan lokal: ukat-ukat (Batak Karo), tanglu (Lampung), kasai (Sunda), pancal kidang (Jawa), pi-kopijan (Madura), hingga lantupak dan lembunau (Kalimantan). Di negara lain, ia dikenal sebagai priyangu (Hindi, Benggala), anganapriya (Sansekerta), prayong paa (Thailand), atau bekak dan memberas (Malaysia).
Pohon ini termasuk dalam keluarga Meliaceae, yang juga mencakup duku dan langsat. Wilayah sebaran aslinya membentang dari Myanmar, Kepulauan Nikobar, Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia (Sumatra, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi), hingga Filipina [
4Aglaia odoratissima Blume, Bijdr. (1825). (n.d.). Asianplant. Retrieved October 1, 2026, from https://asianplant.net/Meliaceae/Aglaia_odoratissima.htm
]. Namun dalam publikasi Blume, disebutkan bahwa pohon ini tumbuh di Gunung Salak dan berbunga antara Maret hingga Agustus (Habitat: ad montem Salak. Floret: Mart. – Aug.) - menegaskan bahwa nyampuh adalah pohon asli Pulau Jawa.Aglaia odoratissima bisa tumbuh hingga 12 meter, bahkan dalam kondisi luar biasa mencapai 25 meter. Batang utamanya dapat bebas dari percabangan hingga ketinggian 5 meter, dengan diameter hingga 31 cm. Kulit batangnya halus, berwarna hijau keabu-abuan hingga cokelat, dengan lentisel kecil tersusun dalam baris memanjang.
Daunnya majemuk menyirip, panjang 10–40 cm, dengan 1–7 anak daun berbentuk elips. Bunganya kecil, berwarna kuning, tersusun dalam malai atau tandan, dan yang paling khas - menebarkan aroma harum seperti serai. Buahnya berbentuk beri, ellipsoid, berukuran 1,5–2 cm, berwarna kuning hingga oranye-kemerahan, dan pecah saat masak.
Pohon nyampuh tumbuh subur di hutan primer, sekunder, hingga rawa yang tergenang secara berkala. Ia juga sering ditemukan di tepi jalan dan berbagai jenis tanah, hingga ketinggian 1.900 meter. Tumbuhan ini relatif mudah tumbuh dan tahan terhadap hama serta penyakit.
Masyarakat memanen pohon ini dari alam liar untuk diambil bunga, buah, minyak atsiri, dan kayunya. Di Jawa, bunganya yang harum digunakan untuk memberi aroma pada teh. Di India, Indonesia, dan Tiongkok, minyak atsiri disuling dari bijinya - meski belum dalam skala komersial [
4Aglaia odoratissima Blume, Bijdr. (1825). (n.d.). Asianplant. Retrieved October 1, 2026, from https://asianplant.net/Meliaceae/Aglaia_odoratissima.htm
].Bagian-bagian pohon nyampuh telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kulit batangnya digunakan untuk mengobati disentri, diare, dan demam. Daunnya dipakai untuk meredakan sakit perut dan sakit kepala. Masyarakat Batak Karo di Kecamatan Merdeka secara tradisional menggunakan daun nyampuh untuk mengobati hipertensi dan batu kandung kemih [
5Purba, E., -, N., & Silalahi, M. (2016). The ethnomedicine of the Batak Karo people of Merdeka sub-district, North Sumatra, Indonesia. International Journal of Biological Research, 4(2), 181–189. https://doi.org/10.14419/ijbr.v4i2.6493
].Penelitian modern mulai mengonfirmasi khasiat ini. Minyak atsiri dari Aglaia odoratissima diketahui memiliki aktivitas antimikroba dan antelmintik secara in vitro. Studi pada mencit juga menunjukkan efek depresan sistem saraf pusat, terlihat dari pengaruhnya terhadap hipnosis yang diinduksi pentobarbital, koordinasi motorik, dan aktivitas spontan [
6Nanda, A., Iyengar, M. A., Narayan, C. S., & Kulkarni, D. R. (1987). Investigations on the rootbark of Aglaia odoratissima. Fitoterapia, 58(3), 189-191. https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-0023186455&partnerID=40&md5=b0ce65b6d612b24ec322acef2317aef6
].Pohon Peneduh yang Layak Dilestarikan
Aglaia odoratissima bukan sekadar cocok sebagai pohon peneduh atau tanaman hias. Ia adalah warisan botani Nusantara yang menyimpan nilai ekologi, ekonomi, dan medis. Dengan bunga yang harum, buah yang unik, dan khasiat obat yang teruji, pohon nyampuh layak mendapat perhatian lebih, baik sebagai tanaman konservasi maupun sebagai sumber daya hayati yang berkelanjutan.
Di tengah gempuran pembangunan dan alih fungsi lahan, keberadaan pohon nyampuh di dusun-dusun seperti Sumberjaya menjadi pengingat, bahwa di tepi sungai kecil pun, bisa tumbuh kemegahan yang harum dan penuh makna. *** [021026]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar