“Not every dream grows on every land, so you got to watch out! “Sugar cane” dreams should find the environment where there is flooding of great ideas from great people. It will die off if it is planted at the place where the drought of discouragement is a well cherished culture!” -- Israelmore Ayivor, The Great Hand Book of Quotes
Sang surya sedang menumpahkan teriknya ke jalanan Kalipait. Aspal seperti memantulkan bara, sementara perjalanan menuju Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) terasa semakin panjang. Namun, di tengah sengatan siang itu, sebatang pohon sambi menawarkan keteduhan, dan di bawah tajuknya, segelas es tebu menghadirkan kesegaran yang bukan hanya membasahi tenggorokan, tetapi juga membuka pintu pada cerita tentang sebuah lingkungan desa.
Sepuluh hari sebelumnya, tepatnya pada Selasa (22/09), saya diajak enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., berpetualangan ke Taman Nasional Alas Purwo (TNAP). Perjalanan itu membawa kami melintasi kawasan pedesaan di Kabupaten Banyuwangi hingga akhirnya kami memutuskan berhenti sejenak di pertigaan Pasar Anyar, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo.
Di dekat Lapangan PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam), sebatang pohon sambi berdiri seperti payung alami. Pohon bernama ilmiah Schleichera oleosa itu memiliki tajuk lebat dengan percabangan yang menyebar, menciptakan bayang-bayang teduh di bawahnya. Daunnya majemuk, berwarna hijau, sementara batangnya kokoh dengan kulit yang cenderung kasar. Dalam panas yang menyengat, pohon itu seolah menjadi ruang peristirahatan yang disediakan alam bagi siapa saja yang sedang menempuh perjalanan.
![]() |
| Istirahat di bawah pohon sambi (Schleichera oleosa) sambil minum es tebu di pertigaan Pasar Anyar, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Bayuwangi |
Kami memilih berhenti di sana. Bukan kopi, bukan teh. Kami memesan es tebu. Tak jauh dari tempat kami duduk, Nur Hasim, lelaki 42 tahun, cekatan menyiapkan minuman. Batang-batang tebu yang kulitnya telah dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin pemeras tebu - mesin giling yang dengan tenaga mekanis meremukkan batang tebu hingga sari manisnya mengalir keluar.
Cairan bening kekuningan itu kemudian bertemu es batu. Sederhana, tetapi pada siang yang terik, rasanya seperti menemukan mata air di tengah perjalanan panjang.
Tebu yang digunakan Nur Hasim, katanya, didatangkan dari Kediri. Dari batang-batang yang tampak sederhana itu, ia meracik kesegaran yang menjadi jeda bagi pelintas jalan.
Namun, rupanya, yang disajikan Nur Hasim bukan hanya es tebu. Ia ramah dan tampak mengenal lingkungan tempatnya mencari nafkah dengan baik. Percakapan yang semula berlangsung sambil lalu perlahan berubah menjadi cerita mengenai Kalipait. Tentang lingkungan sekitar, keadaan desa, serta tempat kami berteduh yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.
![]() |
| Lapak penjual es tebu di pertigaan Pasar Anyar sebelum masuk Kawasan Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi |
Di bawah pohon sambi, batas antara penjual dan pembeli seakan menghilang. Es tebu menjadi pembuka percakapan; pohon rindang menjadi ruang bertukar cerita. Kami datang sebagai orang yang sedang lewat, tetapi sejenak merasa seperti tamu yang dipersilakan mengenal kehidupan setempat.
Inilah barangkali salah satu wajah kecil dari perjalanan di mana tempat-tempat yang semula hanya dianggap persinggahan justru menyimpan cerita paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ada etnografi yang tidak selalu ditemukan dalam buku. Ia bisa hadir dari percakapan spontan di pinggir jalan, dari seorang penjual minuman yang mengenal lingkungannya, dari nama sebuah tempat yang disebut sambil menyeruput es tebu, atau dari cerita sederhana tentang bagaimana sebuah desa menjalani hari-harinya.
Sambi memberikan teduh. Tebu memberikan manis. Nur Hasim memberikan cerita. Ketiganya berpadu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan dalam perjalanan menuju Alas Purwo.
Seperti dikatakan Israelmore Ayivor, seorang penulis inspirasional asal Ghana, dalam The Great Hand Book of Quotes (2014):
“Tidak semua impian dapat tumbuh di sembarang lahan, jadi Anda harus berhati-hati! Impian yang ibarat ‘tebu’ membutuhkan lingkungan yang dibanjiri gagasan-gagasan hebat dari orang-orang hebat. Impian itu akan mati jika ditanam di tempat di mana ‘kekeringan’ akibat sikap patah semangat justru menjadi budaya yang dipelihara!”
![]() |
| Mendengar kisah desa dari penjual es tebu |
Barangkali sebuah perjalanan memang serupa menanam tebu. Ia membutuhkan tanah, air, matahari, dan lingkungan yang memungkinkan kehidupan tumbuh. Tetapi dalam perjalanan manusia, lingkungan itu juga dapat berupa percakapan dan perjumpaan.
Siang itu, kami hanya berniat mendinginkan tubuh sebelum melanjutkan perjalanan ke TNAP. Namun, di bawah pohon sambi, segelas es tebu memberi kami lebih dari sekadar rasa manis.
Ia memberi jeda. Ia memberi kesejukan. Dan, yang paling penting, ia memberi cerita tentang sebuah tempat - dari seseorang yang setiap hari menjadi bagian dari kehidupan tempat itu.
Ketika akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan, matahari masih terik. Jalan menuju Alas Purwo masih panjang. Tetapi ada sesuatu yang telah berubah, yakni perjalanan tidak lagi sekadar soal mencapai tujuan.
Kadang-kadang, makna perjalanan justru ditemukan ketika kita berhenti sebentar - duduk di bawah pohon, meneguk segelas es tebu, lalu mendengarkan cerita dari orang yang kita temui di sepanjang jalan. *** [021026]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar