Di sebuah gang sempit yang nyaris tak terlihat dari jalan antar desa, aroma kaldu sapi yang gurih menyeruak ke udara. Sabtu (17/10) menjelang sore itu, langit Banyuwangi masih menyisakan terangnya ketika saya dan dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan Triana Rahmah, S.AB., menyusuri gang kecil di Dusun Cempokosari RT 04 RW 01, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring. Kami baru saja menyelesaikan pemeriksaan ulang spirometri ketiga, dan pulangnya diajak mampir di sebuah warung bakso.
Siapa sangka, di balik gang yang sempit itu, tersembunyi sebuah warung bakso yang selalu ramai. Warung Bakso Karomah 1 namanya. Dari jalan antar desa Sarimulyo dan Tamanagung, warung ini memang tak terlihat.
Bangunannya menyatu dengan rumah milik Suroso, pria paruh baya yang juga menjadi responden dalam penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC. Bersama istrinya, Ulil Mukarohmah, Suroso mengembangkan warung baksonya di halaman rumah yang luas - sebuah kontras dengan gang sempit yang menjadi jalan masuknya.
![]() |
| Bakso Karomah 1 di Dusun Cempokosari RT 04 RW 01 Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Dari Gerobak Keliling ke Warung Permanen
Kisah Bakso Karomah 1 bermula dari roda gerobak yang berderit menyusuri jalan-jalan desa. Suroso dulu berkeliling menjajakan baksonya dari satu sudut desa ke sudut lainnya.
Hari berganti hari, pesanan demi pesanan mengalir. Jamaah pengajian yang kerap memesan dalam jumlah banyak membuatnya berpikir untuk menetap. "Daripada terus berkeliling, lebih baik buka warung saja," kenangnya suatu ketika.
Keputusan itu ternyata membuahkan hasil. Warung yang diberi nama Bakso Karomah 1 - konon karena sebelumnya pernah ada Bakso Karomah 2 - kini menjadi magnet bagi warga sekitar.
Meski tersembunyi di gang sempit, pelanggan setia terus berdatangan. Ada yang datang sendiri, ada pula yang berkelompok. Jelang sore itu, selain saya dan dua enumerator Desa Sarimulyo, tampak hadir pula enumerator baseline survey Desa Kaliploso Rahmanurraudhotul Amin, SKM serta Kepala Dusun (Kamituwo) Cempokosari, Rudi Hartoyo, S.E.
![]() |
| Makan bakso bersama di Warung Bakso Karomah 1 Sarimulyo |
Menu yang Menggoda Selera
Di warung bakso ini, setiap orang bebas memilih sesuai selera. Menu Bakso Karomah 1 - yang juga dikenal sebagai Bakso Suroso - terbilang beragam. Ada Bakso Beranak, Bakso Mandul, Bakso Mercon, Bakso Telur, dan Bakso Isi Daging Besar.
Saya memutuskan untuk memesan Bakso Mandul dan Es Jeruk. Tak lama kemudian, semangkuk bakso dengan pentol besar - konon disebut "mandul" karena tak berisi - disajikan di hadapan saya.
Kuahnya bening dengan taburan seledri dan bawang goreng. Saat sendok pertama menyentuh lidah, kaldu sapi yang gurih langsung melebur bersama tekstur pentol yang kenyal. Sementara itu, es jeruk yang menyegarkan menjadi teman sempurna di sore yang mulai merangkak menuju sore akhir. Sensasi dingin dan asam segar dari jeruk lokal membalut rasa gurih bakso, menciptakan harmoni rasa yang sulit dilupakan.
Kami menempati dua meja lesehan. Satu meja berisi saya dan dua enumerator, sementara meja di sampingnya ditempati dua orang yang tak kalah menarik perhatian. Kamituwo Rudi yang berpostur atletis dan tampan duduk berhadapan dengan enumerator Rahman yang berwajah khas Thailand. Mereka menikmati bakso dengan lahap, sesekali tertawa lepas. Begitulah kalau dua orang ganteng saling duduk berhadapan.
![]() |
| Dua orang genteng duduk satu meja dalam santap bakso di Warung Bakso Karomah 1 Sarimulyo |
Egaliter dalam Semangkuk Bakso
Suasana makan bakso sore itu sungguh egaliter. Tak ada sekat antara peneliti, enumerator, kepala dusun, dan warga biasa. Semua duduk sama rendah di atas lesehan, menyantap hidangan yang sama dari dapur yang sama.
Dalam kajian sosiologi, momen seperti ini sering disebut sebagai "ruang sosial yang cair" - di mana hierarki formal mencair oleh kehangatan interaksi informal. Warung bakso bukan sekadar tempat makan; ia telah menjadi semacam third place, ruang ketiga di luar rumah dan tempat kerja, tempat orang-orang dari berbagai latar belakang bertemu, berbincang, dan berbagi cerita.
Suroso sendiri tampak sibuk melayani pelanggan kendati ada sejumlah orang yang membantu berjualan. Sesekali ia menyapa akrab para pembeli yang sudah menjadi langganan. "Monggo, Mas, Mbak. Baksonya masih hangat," ujarnya ramah. Istri Suroso, Ulil, membantu di dapur, memastikan setiap mangkuk bakso keluar dengan kualitas yang sama.
Suasana bercengkerama sore itu terasa cukup. Tawa lepas, obrolan ringan, dan sesekali suara sendok beradu dengan mangkuk menjadi simfoni sederhana yang mengiringi santap bakso kami. Tak ada yang terburu-buru pergi. Kami larut dalam kehangatan percakapan yang mengalir begitu saja - tentang penelitian, tentang desa, tentang hidup.
Gang sempit yang tadi kami susuri kini terasa berbeda. Di baliknya, ada hati yang lapang - hati seorang Suroso yang gigih merintis usaha, hati seorang Ulil yang setia mendampingi, dan hati warga Sarimulyo yang terus mendukung warung bakso sederhana namun penuh karomah ini.
Gang sempit, hati yang lapang. Barangkali itulah pelajaran yang bisa kita petik dari sepenggal kisah Warung Bakso Karomah 1. Bahwa kebaikan dan kehangatan tak selalu hadir di tempat yang mewah. Kadang, ia justru bersembunyi di gang sempit, menunggu untuk ditemukan. *** [191026]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar