Minggu, Oktober 04, 2026

Gua Istana: Singgasana Gaib di Jantung Alas Purwo

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Oktober 04, 2026
“A cave has two great things to teach you: Light is sacred; silence is to integrate with eternity!” -- Mehmet Murat ildan
Dari gardu pandang Sabana Sadengan, mata saya masih dimanjakan oleh hamparan rumput luas yang menjadi rumah bagi kawanan banteng Jawa (Bos javanicus) Namun, petualangan di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) rupanya belum usai. 
Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., enumerator baseline survey NIHR-GHRC NCDs & EC Desa Wringinagung, yang menemani saya sejak pagi, melempar senyum penuh teka-teki. "Ada satu tempat lagi yang wajib kita datangi," katanya. Tempat itu bernama Gua Istana - sebuah nama yang langsung memantik rasa penasaran.
TNAP memang menyimpan lebih dari 40 gua yang tersebar di dalam kawasannya. Beberapa di antaranya cukup populer, seperti Gua Mayangkara, Gua Padepokan, dan Gua Basori. Namun, Gua Istana punya magnet tersendiri.
 
Tangga menuju pintu masuk Gua Istana di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi

Dari Pos Resor Pancur, kami harus berjalan kaki sejauh dua kilometer menembus lebatnya hutan. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain; ia adalah perjalanan sensorial yang membangkitkan seluruh indra.
Suasana hutan masih sangat alami. Suara aneka burung saling bersahutan, bersaing dengan gemericik air sungai yang mengalir di sela-sela bebatuan. Hutan hujan dataran rendah ini ditandai oleh vegetasi lebat, pohon-pohon tinggi berumur ratusan tahun, serta dominasi formasi hutan bambu. 
Di sela-sela perjalanan, saya berjumpa dengan burung-burung yang terbang dari satu dahan ke dahan lain, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang menggendong anaknya, hingga babi hutan (Sus scrofa) yang melintas cepat ke dalam semak. Hiking ini memberi pengalaman tersendiri di mana keanekaragaman hayati bukan sekadar konsep di buku teks, melainkan realitas yang bersua di depan mata.

Gua Istana Alas Purwo

Setibanya di Gua Istana, kami masih harus mendaki puluhan anak tangga. Seketika, bau dupa terasa begitu menyengat di hidung. Gua ini memang sering digunakan sebagai tempat meditasi atau semedi oleh sebagian masyarakat yang datang mencari ketenangan batin. Karena itulah, suasana di sekitar lokasi biasanya terasa lebih hening dibandingkan area wisata lainnya. 
Dalam perjalanan itu, kami berjumpa dengan dua kelompok komunitas yang juga sedang hiking, baik yang pulang dari gua maupun yang akan menuju gua. Namun, menjelang malam 1 Suro dalam kalender Jawa, jumlah kunjungan melonjak drastis.
Gua Istana memiliki lebar kurang lebih 8 meter dan panjang sekitar 30 meter. Proses terbentuknya diperkirakan berasal dari pengangkatan karang purba akibat desakan lempeng Indo-Australia pada lempeng Eurasia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya banyak cangkang kerang serta fosil biota laut di sekitar gua, yang menandakan kawasan ini dulunya merupakan laut dangkal.
 
Cahaya mentari yang terlihat dari kegelapan dalam Gua Istana

Gua ini juga terbentuk akibat proses pelarutan oleh air yang masuk melalui celah-celah batuan, membentuk stalaktit dan stalagmit. Ada pula mata air yang terdapat di dalamnya. Gua hasil mahakarya alam ini memang cukup memesona dilihat dari bentuk fisiknya.
Namun, daya tarik Gua Istana tidak berhenti pada keindahan geologisnya. Konon, gua ini merupakan salah satu situs spiritual yang digunakan sebagai tempat meditasi dan ritual sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan, konon Presiden Soekarno pernah datang ke sini. Dari cerita masyarakat dari mulut ke mulut, mengapa gua ini dinamakan "Istana" bukanlah lantaran berhubungan dengan petilasan zaman Majapahit maupun kedatangan pejabat istana negara. Gua ini disebut Gua Istana karena diyakini masyarakat sebagai istana atau kraton gaib tempat bersemayamnya leluhur dan makhluk penunggu Alas Purwo.
Kini, gua itu bisa dibilang sebagai tempat wisata ritual. Banyak orang Bali yang datang ke sini untuk bersembahyang atau bersemedi. Lepas dari cerita tak kasat mata, saya cukup menikmati gua tersebut. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika berdiri di dalamnya, yaitu sebuah keheningan yang bukan sekadar absennya suara, melainkan kehadiran yang menuntun pada perenungan.

Vegetasi hutan di sekitar Gua Istana yang terlihat dari atas Gua Istana di kala musim kemarau panjang

Mehmet Murat Ildan, seorang penulis naskah drama, novelis, dan pemikir Turki kontemporer, pernah berkata: 
"Sebuah gua memiliki dua hal hebat untuk diajarkan kepadamu: Cahaya itu sakral; keheningan adalah sarana untuk menyatu dengan keabadian!" 
Kutipan itu terasa begitu tepat menggambarkan Gua Istana. Di tempat ini, cahaya yang menembus celah-celah batuan terasa sakral, sementara keheningan yang menyelimuti ruang terdalam gua menjadi jembatan untuk menyatu dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri - entah itu alam atau keabadian itu sendiri.
Perjalanan dari Sabana Sadengan ke Gua Istana adalah perjalanan yang utuh - dari terangnya padang rumput ke heningnya gua, dari kehidupan banteng Jawa ke fosil biota laut purba, dari dunia nyata ke dunia yang dipercaya sebagai singgasana gaib. Alas Purwo, sebagaimana namanya - hutan yang pertama - memang menyimpan banyak lapisan cerita. Dan Gua Istana adalah salah satu lapisan paling memikat yang berhasil saya temukan. *** [041026]


logoblog

Thanks for reading Gua Istana: Singgasana Gaib di Jantung Alas Purwo

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog