Jumat, Oktober 16, 2026

Passiflora edulis, Markisa yang Enak Dirasa

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, Oktober 16, 2026
Di halaman rumah Agus Salim, Kepala Dusun atau Kamituwo Pandansari, di RT 03 RW 01 Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, ada satu tanaman yang tidak sekadar tumbuh. Ia merambat tenang di antara pohon-pohon randu, menyelimuti dahan dengan daun hijau mengilap, lalu menyembunyikan buah kecil yang menyimpan rasa paling jujur, yaitu manis yang bertemu asam.
Tanaman itu adalah markisa. Nama ilmiahnya, Passiflora edulis Sims - spesies yang pertama kali dideskripsikan oleh dokter sekaligus botanis Inggris John Sims pada 1818 dalam Curtis’s Botanical Magazine [
1Sims, John. (1818). Curtis’s botanical magazine; or Flower-gardens displayed … (Vol. 45). London: Sherwood, Neely, & Jones. https://www.biodiversitylibrary.org/page/483292
]. 
Di halaman yang tergolong luas itu, markisa tumbuh subur seolah ingin mengingatkan bahwa kekayaan alam sering kali bersembunyi di tempat paling sederhana, seperti di pekarangan rumah, di sela pepohonan, di bawah naungan sore hari.
Dari kejauhan, tanaman ini tampak seperti sulur-sulur hijau yang asyik memanjat. Namun bila didekati, bentuknya semakin jelas. Daunnya berlobus tiga, mengilap, dengan tepi bergerigi khas. Sulurnya kuat merangkai batang randu, mencari cahaya, lalu menggantungkan buah-buah lonjong di antara cabang.

Buah markisa (Passiflora edulis) yang masih muda

Bunganya tunggal dan cantik dengan cara yang tidak berlebihan. Kelopaknya lonjong berwarna putih, sementara benang sari putihnya memiliki pangkal ungu tua. Struktur bunga inilah yang membuat genus Passiflora begitu istimewa. 
Nama genusnya berasal dari bahasa Latin dari gabungan kata passio berarti gairah, dan flos berarti bunga. Penamaan itu merujuk pada bentuk bunga yang, menurut pendeta Spanyol pertama yang melihatnya, menyerupai instrumen sengsara Kristus. Bagi orang Spanyol, bunga ini dikenal sebagai La Flor de las cinco Llagas atau “Bunga dengan Lima Luka” [
2Kusumo, B. E. (2023, July 20). Passiflora foetida, Gulma Menjalar Berbunga Unik. BaEK. https://budiartoekokusumo.blogspot.com/2023/07/passiflora-foetida-gulma-menjalar.html
].
Sementara itu, julukan edulis berasal dari bahasa Latin yang berarti “dapat dimakan” [
3Passiflora edulis flavicarpa | The Italian Collection of Maurizio Vecchia. (n.d.). Passiflora. Retrieved October 16, 2026, from https://www.passiflora.it/edulis-flavicarpa/272/eng/
]. Julukan itu bukan sekadar label botani. Ia adalah janji rasa, bahwa di balik kulit tebal dan halusnya, tersimpan daging buah kekuningan yang berair, beraroma kuat, serta biji hitam yang boleh langsung ditelan.
Markisa termasuk dalam famili Passifloraceae, atau suku markisa-markisaan. Tanaman merambat ini berasal dari kawasan Brasil hingga Argentina timur laut, lalu menyebar ke berbagai wilayah tropis dunia, termasuk Indonesia. 
Di Indonesia, ia lebih akrab dipanggil markisa; di berbagai negara lain, nama umumnya: passion fruit di Inggris, maracuyá di Spanyol, maracujá di Brasil dan Portugal, pashshonfurutsu di Jepang, hingga pasyonaryo di Filipina.

Bunga markisa (Passiflora edulis) yang mekar di siang hari

Perbedaan nama justru menunjukkan betapa luas jejaknya. Buah yang tumbuh di halaman Kaimtuwo Pandasari ini ternyata adalah pengelana dunia. Ia membawa rasa tropis dari Amerika Selatan, menyeberangi lautan, lalu menemukan rumah baru di tanah Banyuwangi.
Tidak banyak buah yang mampu membuat lidah terjaga seperti markisa. Gigitan pertamanya memberi rasa asam yang segar. Lalu, seiring biji-biji kecilnya pecah di mulut, rasa manis mulai menyusul. Perpaduan itu tidak berusaha menyenangkan semua orang dengan cara yang lembut. Ia tajam, berani, dan menyegarkan.
Kualitas rasa itulah yang membuat markisa semakin diminati. Penelitian Xirui He et. al. (2020) [
4He, X., Luan, F., Yang, Y., Wang, Z., Zhao, Z., Fang, J., Wang, M., Zuo, M., & Li, Y. (2020). Passiflora edulis: An Insight Into Current Researches on Phytochemistry and Pharmacology. Frontiers in pharmacology, 11, 617. https://doi.org/10.3389/fphar.2020.00617
] mencatat bahwa pemanfaatan markisa sebagai bahan konsumsi manusia terus meningkat. Minat itu didorong oleh kandungan air yang tinggi, nilai gizi yang menarik, manfaat kesehatan, serta popularitasnya di masyarakat.
Markisa bisa dinikmati langsung, terutama bagi mereka yang menyukai rasa asamnya. Namun ia juga mudah berubah wujud: menjadi jus yang menyegarkan, selai untuk roti pagi, jeli, yoghurt, es krim, kue, teh, minuman campuran, hingga saus bumbu. Di Brasil, markisa kuning bahkan lazim diolah menjadi minuman ringan maupun obat tradisional dalam bentuk jus, nektar, tingtur, atau tablet.
Yang menarik, hampir seluruh bagian tanaman ini memiliki peran. Daunnya yang beraroma khas digunakan sebagai bahan penenang di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa. Bunganya yang besar dan indah menjadikannya layak ditanam sebagai tanaman hias. Kulit buahnya yang kaya polifenol, serat, dan unsur mikro dimanfaatkan untuk membuat anggur atau teh, bahan masakan, ekstraksi pektin, hingga pakan.

Daun markisa (Passiflora edulis) berlobus tiga

Bijinya juga tidak pernah sia-sia. Biji markisa mengandung protein serta minyak yang tinggi, terutama asam linoleat, asam oleat, dan asam palmitat. Dari luar, ia tampak seperti biji kecil berwarna hitam. Namun dari sudut pandang ilmu pangan, ia adalah simpanan energi dan nutrisi yang sering terlewat.
Kandungan utama Passiflora edulis meliputi polifenol, triterpena beserta glikosidanya, karotenoid, polisakarida, asam amino, minyak atsiri, dan unsur mikro. Senyawa turunan luteolin, apigenin, dan kuersetin termasuk yang paling banyak dilaporkan dalam berbagai kajian. Buahnya juga mengandung vitamin C, serat pangan, vitamin B, niasin, zat besi, dan fosfor.
Dalam khazanah pengobatan tradisional, markisa memiliki tempat yang cukup dalam. Catatan Zhonghua Bencao atau Encyclopedia of Traditional Chinese Medicine menyebut buah ini memiliki perpaduan rasa manis dan asam dengan aroma yang kuat. Ia dipercaya berkhasiat pada meridian jantung dan usus besar. Rebusan sebanyak 10 hingga 15 gram disarankan untuk membantu mengatasi batuk, suara serak, sembelit, nyeri haid, nyeri sendi, disentri, hingga insomnia.
Tentu saja, pengetahuan tradisional tidak otomatis menggantikan nasihat medis modern. Namun keberadaan catatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di berbagai belahan dunia telah lama mengenali nilai markisa. Bukan hanya sebagai buah, tetapi juga sebagai bagian dari cara mereka merawat tubuh.

Tanaman markisa (Passiflora edulis) yang merambat di pohon randu di halaman samping rumah Kepala Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Berbagai studi farmakologis, baik in vitro maupun in vivo, juga menelusuri potensi bioaktivitas Passiflora edulis, antara lain aktivitas antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, antihipertensi, pelindung hati dan paru-paru, antidiabetik, sedatif, antidepresan, hingga efek yang menyerupai pereda kecemasan.
Di halaman Kamituwo Agus Salim, markisa tidak tampil sebagai komoditas besar. Ia tidak ditanam di lahan luas atau diperjualbelikan dalam skala industri. Ia hanya tumbuh, merambat, berbunga, dan berbuah. Namun justru dari sana, kisahnya menjadi lebih hidup.
Sebuah tanaman yang berasal dari Brasil kini hidup di Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo. Ia memanjat randu, menghiasi halaman rumah, lalu menawarkan buah yang bisa dipetik kapan saja. Dari pekarangan sederhana itu, markisa membawa cerita tentang botani, sejarah, budaya, nutrisi, dan pengobatan tradisional.
Passiflora edulis memang memiliki nama ilmiah yang terdengar rumit. Tetapi bagi siapa pun yang pernah mencicipinya, nama itu bermakna sederhana: markisa, buah kecil yang enak dirasa - manis, asam, segar, dan penuh cerita. *** [161026]


logoblog

Thanks for reading Passiflora edulis, Markisa yang Enak Dirasa

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog