Senin, Oktober 05, 2026

Tampak Biasa, Ternyata Sekelas Obat: Kisah Jamur Ganoderma applanatum dari Alas Purwo

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Oktober 05, 2026
Di balik lembapnya belantara Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi, sebuah jamur pipih menempel setia pada batang pohon yang telah tumbang. Ia bukan sekadar pelapuk kayu, melainkan primadona dunia medis yang telah dikenal selama ribuan tahun.
Perjalanan sepanjang dua kilometer dari Pos Resor Pancur menuju Gua Istana terasa seperti menyusuri lorong kehidupan yang lain. Hutan Alas Purwo membentangkan kanopi rapat yang menapis cahaya matahari menjadi serpihan-serpihan keemasan.
Udara lembap bercampur aroma humus menyeruak, memanjakan siapa saja yang melintas. Di setiap langkah, keanekaragaman hayati menyapa - dari serangga kecil yang sibuk di antara seresah, hingga burung-burung yang bersahutan di kejauhan.
Saya beruntung bisa menyusuri jalur ini bersama Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung, pada Selasa (22/09). Pria berkumis tebal yang akrab disapa Wisnu itu telah akrab dengan lika-liku hutan ini. Matanya jeli, seolah hafal setiap jengkal kehidupan yang bersembunyi di balik pepohonan.

Jamur Ganoderma applanatum menempel di batang pohon yang telah mati atau tumbang di Taman Nasional Alas Purwo

Ketika kami melewati beberapa batang pohon yang tumbang dan mulai lapuk, Wisnu menunjuk sesuatu. “Lihat itu,” katanya. Di permukaan kayu yang telah mati, tumbuh jamur-jamur pipih menyerupai rak kecil. Warnanya cokelat kusam, permukaannya tidak mengilap, berlekuk dan bergelombang seperti kulit kayu yang menua. Bagian bawahnya putih hingga keabu-abuan, dan ketika tersentuh, memar berubah menjadi cokelat. Dagingnya berkayu, berwarna cokelat atau kayu manis [
1Kuo, M. (2018, October). Ganoderma applanatum. Retrieved from the MushroomExpert.Com Web site: http://www.mushroomexpert.com/ganoderma_applanatum.html
].
Itulah Ganoderma applanatum - jamur kayu nan pipih yang telah lama menjadi bahan perbincangan para peneliti.
Nama Ganoderma berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata ganos berarti keceriaan atau kilau, dan derma berarti kulit. Meski tidak semua anggotanya berkilau, nama itu melekat [
2Ganoderma applanatum, Artist’s Fungus. (n.d.). First-Nature. Retrieved October 4, 2026, from https://www.first-nature.com/fungi/ganoderma-applanatum.php
]. Julukan applanatum berasal dari kata Latin planum yang berarti ‘datar’, menggambarkan bentuk jamur yang pipih menyerupai rak [
3] Artist’s Conk – Ganoderma applanatum – Hiker’s Notebook. (n.d.). Hiker’s Notebook. Retrieved October 4, 2026, from https://hikersnotebook.blog/fungi/polypores-and-puffballs/artists-conk-ganoderma-applanatum/
].
Sejarah taksonominya cukup panjang. Pada tahun 1800, Christiaan Hendrik Persoon (1761-1836) - mikolog Koloni Tanjung (Afrika Selatan) yang diakui sebagai salah satu pendiri taksonomi mikologi - memberinya nama Boletus applanatus. Baru pada tahun 1887, ahli mikologi Prancis Narcisse Theophile Patouillard (1854–1926) memindahkannya ke genus Ganoderma, sehingga nama yang diterima hingga kini adalah Ganoderma applanatum (Pers.) Pat.
Di berbagai belahan dunia, jamur ini punya banyak nama. Orang Inggris menyebutnya artist’s bracket atau artist’s conk - konon karena permukaan putihnya bisa digores untuk membuat gambar. Orang Norwegia menyebutnya flatkjuke, Swedia platticka, Finlandia lattakääpä, Denmark flad lakporesvamp, Jerman flacher Schichtporling atau Malerpilz, Belanda platte tonderzwam, Prancis Ganoderme aplani, Spanyol hongo del artista, Turki yassı reişi mantarı, Thailand h̄ĕd h̄ūcĥāng, China shù shé, Jepang kofuki-sarunokoshikake, dan Korea jannabibullocho.

Deretan jamur kayu Ganoderma applanatum

Ganoderma applanatum
termasuk famili Polyporaceae dan tersebar di seluruh dunia, terutama di iklim tropis. Ia tumbuh secara parasit pada kayu, tapi juga bisa menjadi saprotrof yang menguraikan kayu mati. Jamur ini menyebabkan pembusukan putih yang parah, menjadikannya ancaman bagi pohon yang melemah atau terluka.
Yang menarik, jamur ini adalah tanaman tahunan. Individunya dapat berkembang selama bertahun-tahun, menghasilkan lapisan tabung penghasil spora baru di bawah lapisan tahun sebelumnya. Setiap tahun, lapisan baru tumbuh, meninggalkan jejak pertumbuhan yang bisa dibaca seperti lingkaran tahun pada pohon.
Spesies ini umum ditemukan sepanjang tahun di taman, hutan, kebun, bahkan kawasan perkotaan. Ia paling sering tumbuh pada tunggul, batang, dan cabang - baik yang mati maupun hidup - dari berbagai jenis pohon peluruh daun. Kadang, ia juga muncul pada pohon konifer [
4Sułkowska-Ziaja, K., Balik, M., Szczepkowski, A., Trepa, M., Zengin, G., Kała, K., & Muszyńska, B. (2023). A Review of Chemical Composition and Bioactivity Studies of the Most Promising Species of Ganoderma spp. Diversity, 15(8), 882. https://doi.org/10.3390/d15080882
].
Di balik penampilannya yang sederhana, Ganoderma applanatum menyimpan segudang manfaat. Rasa jamur ini sedikit pahit dengan sifat netral [
5Ganoderma applanatum. (n.d.). Baidu. Retrieved October 4, 2026, from https://baike.baidu.com/en/item/Ganoderma%20applanatum/988377
]. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, ia dikenal sebagai flat-ling Ganoderma (bianlingzhi), jamur induk tua (laomujun), dan hati lembu tua (laoniugan). Jamur ini telah lama digunakan sebagai obat antikanker di Tiongkok dan Jepang [
6Cheng, M., Zhang, L., Wang, J., Sun, X., Qi, Y., Chen, L., & Han, C. (2024). The Artist's Conk Medicinal Mushroom Ganoderma applanatum (Agaricomycetes): Mycological, Mycochemical, and Pharmacological Properties: A Review. International journal of medicinal mushrooms, 26(7), 13–66. https://doi.org/10.1615/IntJMedMushrooms.2024053900
].

Penampakan tudung jamur Ganoderma applanatum atau yang dikenal sebagai jamur kayu nan pipih atau jamur seniman

Berbagai penelitian modern membuktikan khasiatnya. Jamur ini memiliki nilai medis tinggi. Ia dapat melindungi hati, mengurangi peradangan, melawan virus, menurunkan gula darah, dan mengatur tekanan darah. Aktivitas farmakologisnya meliputi efek anti-tumor, antibakteri, antifibrotik, antiobesitas, antivirus, antioksidatif, dan imunomodulator [
7Hossen, S. M. M., Islam, M. J., Hossain, Md. R., Barua, A., Uddin, Md. G., & Emon, N. U. (2021). CNS anti-depressant, anxiolytic and analgesic effects of Ganoderma applanatum (mushroom) along with ligand-receptor binding screening provide new insights: Multi-disciplinary approaches. Biochemistry and Biophysics Reports, 27, 101062. https://doi.org/10.1016/j.bbrep.2021.101062
].
Bahkan, kandungan biologisnya menunjukkan khasiat medis signifikan melalui aktivitas depresan sistem saraf pusat, anxiolytic (anti-kecemasan), dan analgesic (pereda nyeri). Berbagai obat telah diformulasikan dari jamur ini untuk mengobati cedera hati, sirosis, dan hepatitis. Ia juga dapat mengobati tuberkulosis rematik, meredakan nyeri, membersihkan panas tubuh, menghilangkan penumpukan zat, menghentikan pendarahan, dan meluruhkan dahak.
Perjalanan menuju Gua Istana mungkin hanya dua kilometer, tetapi hutan Alas Purwo menawarkan pelajaran tak terhingga. Di antara pepohonan tumbang dan seresah yang membusuk, Ganoderma applanatum tumbuh dengan sabar - pipih, sederhana, namun kaya manfaat. 
Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan sering kali menyembunyikan keajaiban di tempat yang paling tak terduga. Dan bagi mereka yang mau berhenti sejenak, menunduk, dan memperhatikan, hutan akan bercerita tentang jamur kayu nan pipih yang telah menjadi sahabat manusia sejak berabad-abad silam. *** [050126]


logoblog

Thanks for reading Tampak Biasa, Ternyata Sekelas Obat: Kisah Jamur Ganoderma applanatum dari Alas Purwo

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog