“Crossing the ocean is secondary, planning how to pass the tides is the goal.” -- Arlin Sailesh Kapadia
Di pesisir selatan Banyuwangi, tersembunyi sebuah lanskap bahari yang menawarkan pesona layaknya destinasi wisata di negeri Thailand. Namanya Spot T, sebuah sudut eksotis di kawasan Gugusan Pulau Bedil yang menyimpan perpaduan tebing karang menjulang, celah perairan berwarna biru jernih, serta panorama laut yang memanjakan mata.
Tak jauh dari Gua Bedil, yang juga berada dalam gugusan pulau tersebut, Spot T menjadi salah satu destinasi foto ikonik yang belakangan mencuri perhatian wisatawan. Disebut sebagai destinasi tersembunyi di Bumi Blambangan, keberadaannya seolah terselip di antara bentang tebing dan formasi karang di kawasan pesisir selatan Banyuwangi.
Secara administratif, Spot T berada di kawasan Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Letaknya yang tersembunyi justru menjadi bagian dari daya tariknya. Untuk menjangkaunya, wisatawan harus menyusuri perairan menggunakan perahu, melewati bentang laut yang menyuguhkan panorama alam khas pesisir selatan.
![]() |
| Berpose dengan latar belakang Spot T Banyuwangi |
Nama Spot T sendiri bukan sekadar penanda bentuk atau lokasi. Huruf T merupakan akronim dari Thailand, sehingga tempat ini juga dikenal dengan sebutan Spot Thailand. Penamaan tersebut merujuk pada karakter lanskapnya yang mengingatkan wisatawan pada destinasi bahari populer di Thailand, seperti Krabi dan Phuket.
Kemiripan itu bukan tanpa alasan. Sebagaimana kawasan wisata di Thailand yang terkenal dengan gugusan pulau karst dan tebing batu kapur yang menjulang dari laut, Spot T juga menghadirkan pemandangan serupa dalam skala yang lebih tersembunyi dan alami. Tebing-tebing karang berdiri kokoh di kanan dan kiri, membentuk lorong perairan yang seolah menjadi pintu masuk menuju sebuah ruang alam yang istimewa.
Di salah satu bagiannya, dua dinding karang tinggi tampak mengapit sebuah cekungan perairan. Air laut di dalamnya terlihat biru jernih, menciptakan kontras yang memesona dengan warna kelabu kecokelatan tebing karang. Dari atas perahu, pemandangan ini menghadirkan komposisi alam yang begitu fotogenik.
Inilah daya tarik utama Spot T. Pemandu wisata biasanya akan mengarahkan perahu menuju celah perairan yang diapit dua tebing karang tersebut. Wisatawan kemudian memanfaatkan momen itu untuk mengabadikan diri dari atas perahu.
![]() |
| Spot T yang ikonik di gugusan Pulau Bedil, Banyuwangi |
Dengan latar belakang tebing yang menjulang di kedua sisi dan air laut biru yang membentang di bawahnya, setiap jepretan kamera seolah menghasilkan potret perjalanan dari destinasi eksotis di kawasan Krabi atau Phuket, Thailand.
Sensasi berada di antara dua dinding karang tersebut menghadirkan pengalaman tersendiri. Perahu yang bergerak perlahan di atas permukaan laut seakan membawa wisatawan memasuki lorong alam.
Tebing di sisi kanan dan kiri membingkai pandangan, sementara cahaya matahari yang jatuh ke permukaan air membuat warna birunya semakin hidup. Sekilas, suasananya mengingatkan pada lanskap pantai-pantai tersembunyi di Asia Tenggara yang terkenal dengan formasi batuan karst dan perairan sebening kristal.
Spot T bukan hanya tentang mendapatkan foto yang menarik. Lebih dari itu, tempat ini menawarkan pengalaman menikmati keindahan alam dari sudut pandang yang berbeda. Wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat laut, tetapi juga merasakan kedekatan dengan lanskap alam yang terbentuk secara alami selama bertahun-tahun.
![]() |
| Deburan ombak di Spot T Banyuwangi |
Menariknya, perjalanan menuju Spot T biasanya tidak berdiri sendiri. Destinasi ini menjadi bagian dari rangkaian wisata bahari di Gugusan Pulau Bedil. Dalam satu perjalanan, wisatawan umumnya diajak mengunjungi Gua Bedil, ikon Bedil, hingga Pantai Wedi Ireng yang juga memiliki daya tarik tersendiri.
Pengalaman menjelajahi kawasan ini juga dirasakan oleh rombongan enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), di antaranya Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. dan Triana Rahmah, S.AB., bersama sejumlah enumerator lainnya, supervisor Tes Spirometri, serta Field Facilitator NIHR UB.
Di sela-sela aktivitas pada Kamis (22/10), perjalanan menyusuri Gugusan Pulau Bedil menjadi kesempatan untuk menikmati sisi lain Banyuwangi. Setelah melewati sejumlah agenda, keindahan alam pesisir selatan seakan memberikan ruang untuk sejenak berhenti, mengagumi bentang laut, dan mengabadikan momen kebersamaan.
Perjalanan menuju Spot T menjadi pengingat bahwa keindahan tidak selalu berada di tempat yang mudah dijangkau. Ada kalanya, untuk menemukan sudut paling memesona, seseorang perlu menempuh perjalanan, mengikuti alur perairan, dan melewati berbagai rintangan alam.
![]() |
| Tinggalkan kawasan Spot T yang berada di gugusan Pulau Bedil, Banyuwangi |
Sebagaimana ungkapan Arlin Sailesh Kapadia, individu pribadi dengan jejak public berupa ulasan daring dan artribusi kutipan di situs Goodreads:
“Menyeberangi samudra hanyalah hal sekunder; merencanakan cara untuk melewati pasang surut airlah tujuan yang sesungguhnya”.
Kutipan tersebut seolah menemukan maknanya dalam perjalanan menyusuri perairan Gugusan Pulau Bedil. Sebab, perjalanan wisata bukan semata-mata tentang mencapai sebuah tujuan, melainkan juga tentang menikmati setiap proses, menghadapi dinamika perjalanan, dan menemukan keindahan di sepanjang jalan.
Pada akhirnya, Spot T menjadi salah satu bukti bahwa Banyuwangi memiliki kekayaan wisata bahari yang tidak kalah memikat dari destinasi terkenal di luar negeri. Di balik tebing-tebing karang pesisir selatan, tersimpan panorama yang menghadirkan nuansa Thailand dalam balutan keaslian alam Bumi Blambangan.
Sebuah tempat yang mungkin tersembunyi dari pandangan, tetapi sekali ditemukan, keindahannya akan tinggal lama dalam ingatan. *** [031126]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar