Jumat, Januari 23, 2026

Dengungan Pagi di Sunflower Garden: Lebah Tukang Kayu dari Balik Landasan Changi

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, Januari 23, 2026
"The hum of bees is the voice of the garden." -- Elizabeth Lawrence
Pagi baru saja merekah ketika roda pesawat Singapore Airlines dari Hyderabad menyentuh landasan Bandara Changi. Ahad itu, 14 Desember 2025, jarum jam menunjukkan pukul 07.10 SGT. Bersama arus penumpang lainnya, Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) bergerak perlahan menyusuri garbarata menuju Terminal 2. 
Sesaat setelah istirahat sejenak di Terminal 2 sambil menunggu konter Free Singapore Tour dibuka, saya diajak oleh Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A., sosiolog UB, atau yang akrab disapa Pak Nino melihat Sunflower Garden.
Taman Bunga Matahari ini berada di Terminal 2 Area Transit, Lantai 3, tak jauh dari Skytrain F. Di sinilah Changi menyimpan kejutan kecilnya, yakni hamparan bunga matahari asli yang menghadap langsung ke landasan pacu.
 
Sunflower Garden di Singapore Changi Airport pada Ahad pagi (14/01/2025)

Taman ini terbuka 24 jam, gratis, dan ramah bagi siapa saja yang ingin sejenak berhenti dari hiruk-pikuk perjalanan. Siang atau malam, Sunflower Garden selalu siap memanjakan mata, bahkan dengan permainan cahaya warna-warni saat gelap, menjadikannya salah satu sudut paling instagramable di bandara terbaik dunia itu.
Pagi itu udara terasa segar, alami menjadi sebuah kemewahan di ruang transit bandara. Bunga matahari (Helianthus annuus) bermekaran penuh, kelopaknya menghadap matahari yang perlahan naik. Saat mata larut dalam warna kuning cerah itu, telinga saya menangkap sebuah suara lirih, sebuah dengungan halus, nyaris seperti bisikan.
Saya menoleh ke samping. Di antara hijaunya dedaunan, seekor lebah besar tampak sibuk mengunjungi bunga tanaman daun pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) berwarna biru keungu-unguan. Tubuhnya hitam mengilap, dengan semburat rambut kuning di bagian thorax. Ketika sinar matahari menyentuh sayapnya, tampak kilau keunguan yang memesona. Seekor lebah betinanya ditandai dengan garis hitam di tengah thorax [
1Biodiversity Warriors - Kehati. (2024, November 12). Lebah tukang kayu – Xylocopa aestuans. Kehati. https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/foto/lebah-tukang-kayu-xylocopa-aestuans/
], sedang menjalankan tugas alaminya.
Inilah carpenter bee, atau white-cheeked carpenter, yang di Indonesia dikenal dengan nama lebah tukang kayu (pipi putih). Nama ilmiahnya Xylocopa aestuans (Linnaeus, 1758). Nama genus Xylocopa berasal dari bahasa Yunani kuno dari ganungan kata “xylon” (kayu), dan “koptein” (memotong), merujuk pada kebiasaannya menggali sarang di kayu. Sementara julukan spesifik aestuans berasal dari bahasa Latin “aestuāre”, yang bermakna “mendidih” atau “berkilau”, seakan menggambarkan pantulan metalik pada dada dan perut lebah ini [
2Grokipedia. (n.d.). Xylocopa aestuans. Grokipedia. Retrieved January 22, 2026, from https://grokipedia.com/page/xylocopa_aestuans
].

Dengungan Xylocopa aestuans di pagi hari di sela-sela tanaman daun pecut kuda

Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pada tahun 1758 sebagai Apis aestuans, dalam karya monumentalnya Systema Naturae [
3Linné, Carl von & Salvius, Lars. (1758). Caroli Linnaei...Systema naturae per regna tria naturae, secundum classes, ordines, genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymis, locis (Tomus I). Holmiae: Impensis Direct. Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/726886
]. Baru pada 1964, entomolog M.A. Lieftinck menempatkannya secara tepat ke dalam genus Xylocopa, menegaskan identitasnya sebagai lebah tukang kayu sejati [
4Lieftinck, M. A. (1964). The identity of Apis aestuans Linné, 1758, and related Old World carpenter-bees (Xylocopa Latr.). Tijdschrift Voor Entomologie, 107(3), 137–158. https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=766983#null
].
Lebah tukang kayu merupakan penghuni khas kawasan Asia Tenggara - Singapura, Malaysia, dan Indonesia [
5Flaminio, S., Bortolotti, L., & Cilia, G. (2023). First report of Xylocopa aestuans in Italy: a new species for Europe? Bulletin of Insectology. https://orbi.umons.ac.be/handle/20.500.12907/46478
]. Bahkan Linnaeus sendiri menuliskan habitatnya sebagai in calidis regionibus, wilayah beriklim hangat. 
Dengan kepala besar dan perilaku soliter, lebah ini bukan pembuat koloni ramai seperti lebah madu. Ia bekerja sendiri, tenang, namun efektif, terutama sebagai penyerbuk. Perannya sangat menjanjikan bagi berbagai tanaman pertanian dan ekosistem tropis [
6Ali, H., Shebl, M., Alqarni, A. S., Owayss, A. A., & Ansari, M. J. (2017). Nesting biology of two species of the large carpenter bees Xylocopa pubescens and Xylocopa fenestrata (Hymenoptera: Apidae) in north-western Pakistan. Oriental Insects, 51(2), 185–196. https://doi.org/10.1080/00305316.2016.1272500
].
Meski memiliki sengat yang dapat menimbulkan rasa nyeri dan pembengkakan lokal akibat neurotoksin, lebah tukang kayu sejatinya bukan makhluk agresif. Sengatan biasanya hanya terjadi bila ia merasa terancam.
 
Lebah tukang kayu (Xylocopa aestuans) yang sedang melakukan penyerbukan bunga tanaman daun pecut kuda di Sunflower Garden, Bandara Changi Singapura

Risiko reaksi berat sangat rendah, dan perawatan medis dasar umumnya sudah memadai. Menariknya, hanya lebah betina yang memiliki sengat, dan tidak seperti lebah madu [
7Picture Insect. (n.d.). Harmful Effects of White-cheeked carpenter bee. Picture Insect. Retrieved January 23, 2026, from https://pictureinsect.com/harmful/Xylocopa-aestuans.html
], lebah tukang kayu tidak mati setelah menyengat meski mereka juga jarang melakukannya berulang.
Dengungan lembut yang saya dengar pagi itu terasa menyatu dengan taman, bunga, dan langit Singapura yang cerah. Saya teringat kutipan Elizabeth Lawrence (1904-1985), seorang penulis tentang taman, arsitek lanskap, dan ahli tanaman Amerika yang terkenal karena pengamatan puitisnya tentang alam dan berkebun di wilayah Selatan:
“Dengungan lebah adalah suara taman.” 
Di Sunflower Garden Bandara Changi Singapura, kalimat itu terasa nyata. Di antara lalu-lalang pesawat dan perjalanan manusia lintas negara, seekor lebah tukang kayu mengingatkan bahwa alam selalu menemukan caranya sendiri untuk hadir - bahkan di jantung bandara internasional. *** [230126]


logoblog

Thanks for reading Dengungan Pagi di Sunflower Garden: Lebah Tukang Kayu dari Balik Landasan Changi

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog