| Kuil dan Museum Relik Gigi Buddha (Buddha Tooth Relic Temple and Museum) di Chinatown, Singapura (Foto: Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A./14 Desember 2025) |
“We find beauty not in the thing itself but in the patterns of shadows, the light and the darkness, that one thing against another creates.” -- Jun'ichirō Tanizaki
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kampong Glam, peserta Free Singapore Tour diajak berkeliling Chinatown terlebih dahulu pada Ahad (14/12/2025). Titik kumpul peserta untuk menuju spot wisata berikutnya dari kawasan ini adalah di depan Chinatown Complex, sebuah pasar sederhana yang menaungi berbagai retailer sekaligus pujasera dengan beragam penjual makanan. Lokasinya hanya berjarak sekitar 230 meter dari Chinatown Heritage Centre, mudah dijangkau dengan berjalan kaki.
Saat tiba di Chinatown Complex bersama Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB), beberapa peserta dari negara lain ternyata belum hadir. Waktu tunggu itu justru memberi kesempatan bagi saya untuk berkeliling square yang berada tepat di depan Chinatown Complex.
Dari arah timur square, tampak berdiri megah sebuah bangunan berwarna merah tua dengan detail emas yang mencuri perhatian, yaitu Kuil dan Museum Relik Gigi Buddha (Buddha Tooth Relic Temple and Museum). Saya pun berusaha mengabadikan bangunan kuil yang menawan tersebut melalui kamera handphone (HP), begitu pula Dr. Phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A., sosiolog UB yang menjadi salah satu Tim NIHR UB.
Terletak di jantung Chinatown, seperti dikutip dari laman Chinatown Singapore [
1Chinatown Singapore. (n.d.). Buddha Tooth Relic Temple & Museum 佛牙寺 - Chinatown Singapore. Chinatown Singapore. Retrieved January 21, 2026, from https://chinatown.sg/visit/buddha-tooth-relic-temple/
], Kuil dan Museum Relik Gigi Buddha memiliki interior yang dirancang dengan sangat apik, serta pameran komprehensif tentang seni dan sejarah Buddha yang menceritakan kisah budaya selama ribuan tahun. Desain bangunannya mengadopsi gaya Dinasti Tang, yang terinspirasi dari Mandala Buddha, sebuah simbol kosmologi Buddha yang merepresentasikan alam semesta.Dibangun pada tahun 2007, kuil ini dinamai berdasarkan relik yang diyakini umat Buddha sebagai gigi taring kiri Buddha. Relik tersebut, menurut tradisi, ditemukan dari tumpukan kayu bakar pemakaman Buddha di Kushinagar, India, dan kini dipajang di area kuil.
Relik Gigi Buddha disimpan dalam sebuah stupa raksasa seberat sekitar 3.500 kilogram, terbuat dari 320 kilogram emas, di mana 234 kilogram di antaranya merupakan sumbangan para umat. Konon, Kuil dan Museum Relik Gigi Buddha di Singapura ini dikonseptualisasikan dan dirancang langsung oleh Kepala Biarawannya, Yang Mulia Shi Fazhao.
Sebagai salah satu dari tiga tradisi arsitektur utama di dunia, arsitektur Tiongkok kuno, khususnya Dinasti Tang, dianggap sebagai puncak seni arsitektur dan teknik bangunan dengan pengaruh luas di seluruh Asia. Sejak masa Dinasti Tang, arsitektur Tiongkok memberikan dampak besar terhadap gaya arsitektur di Korea, Vietnam, dan Jepang [
2Libretexts. (2020, May 1). 23.7: The Tang Dynasty - Humanities LibreTexts. Humanities LibreTexts; Libretexts. https://human.libretexts.org/Bookshelves/Art/Art_History_(Boundless)/23%3A_Chinese_and_Korean_Art_Before_1279_CE/23.07%3A_The_Tang_Dynasty
]. Arsitektur Dinasti Tang (618–907) dikenal melalui ciri kemegahan, simetri, serta kesederhanaan yang harmonis secara estetis, terlihat karakter yang terasa kuat pada bangunan kuil ini.Sesuai namanya, kuil dan museum ini tidak dapat dilepaskan dari relik gigi Buddha yang disimpannya. Menurut penjelasan Cheng & Chiang (2024) [
3Cheng, F. C., & Chiang, C. P. (2024). The tooth relic of the Buddha: The viewpoint from paleodontology and modern dentistry. Journal of dental sciences, 19(1), 729–731. https://doi.org/10.1016/j.jds.2023.10.017
], relik gigi Buddha dihormati di Sri Lanka sebagai cetiya suci dari Siddhartha Gautama - Buddha, pendiri Buddhisme, salah satu dari tiga agama besar di dunia. Berdasarkan legenda Sri Lanka, ketika Buddha wafat pada 543 SM, jasadnya dikremasi di atas tumpukan kayu cendana di Kushinagar. Seorang muridnya, Khema, mengambil gigi taring kiri Buddha dari tumpukan tersebut dan menyerahkannya kepada Raja Brahmadatte untuk disembah.
Kepercayaan bahwa siapa pun yang memiliki relik gigi tersebut memiliki hak ilahi kemudian berkembang di India dan memicu berbagai konflik. Akibatnya, relik tersebut akhirnya dibawa ke Sri Lanka. Namun, menurut catatan Buddhisme Theravada, Buddha meninggalkan empat gigi setelah nirwananya. Legenda inilah yang menjadi dasar bahwa terdapat lebih dari satu relik gigi Buddha yang tersebar di dunia.
Lebih lanjut, penyebaran Buddhisme Mahayana ke Tiongkok selaras dengan nilai-nilai masyarakat Tiongkok. Sejak zaman kuno, para kaisar Tiongkok penganut Buddhisme menyambut dan menghormati relik gigi Buddha, sehingga relik tersebut menyebar luas ke generasi berikutnya hingga bahkan terkadang digantikan dengan gigi hewan.
Cheng & Chiang menjelaskan bahwa relik gigi Buddha yang diakui secara bulat (unanimously recognized) saat ini berada di Kuil Gigi Buddha Kandy, Sri Lanka, dan Kuil Lingguang, Beijing. Sementara itu, relik yang disimpan di Kuil dan Museum Relik Gigi Buddha Singapura tergolong claimed Buddha tooth relics, bersama dengan 26 lokasi lain di berbagai negara yang juga mengklaim menyimpan relik serupa.
Di tengah siluet bangunan modern yang menjulang di sekeliling Chinatown, kehadiran Kuil dan Museum Relik Gigi Buddha menghadirkan kontras yang justru memancarkan keindahan tersendiri. Seperti ujaran (quote) novelis dan penulis cerpen Jepang Jun'ichirō Tanizaki (1886-1965):
“Kita menemukan keindahan bukan pada benda itu sendiri, tetapi pada pola bayangan, terang dan gelap, yang tercipta antara satu benda dengan benda lainnya.”
Dalam permainan cahaya, bayang-bayang, dan latar gedung modern itulah, keagungan kuil ini terasa semakin hidup yang menjadi penanda harmoni antara warisan spiritual masa lampau dan dinamika kota kosmopolitan Singapura hari ini. *** [220126]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar