![]() |
| Kumbang kura-kura tutul (Aspidimorpha miliaris) yang sedang hinggap di atas daun cacabean |
Siang bakda Jumat (29/08) yang tenang, di tepian kolam yang bergemericik di belakang rumah Ibu Masito - seorang kader SMARThealth yang berdedikasi di Desa Sepanjang - saya tengah mengamati pesona tanaman cacabean (Ludwigia octovalvis) yang tumbuh liar namun anggun di antara rerumputan basah.
Karena HP Xiaomi Redmi Note di tangan, saya berniat mengabadikan keindahan semak berbunga kuning cerah itu, yang daunnya selalu tampak segar seolah selesai dicuci embun. Namun, sebuah kejutan kecil menanti ketika sedang memotret tanaman tersebut.
Tanpa sengaja, pandangan saya tertarik pada sosok mungil yang hinggap tenang di atas salah satu daun cacabean. Seekor kepik kecil, berkilau seperti permata, tampak seolah baru saja mendarat dari dunia lain. Dialah kepik mungil yang dikenal dengan kumbang kura-kura tutul - salah satu serangga paling memesona yang pernah saya lihat dari dekat.
Nama ilmiahnya adalah Aspidimorpha miliaris (Fabricius, 1775). Nama genus Aspidimorpha berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata "aspis" (perisai) dan "morphē" (bentuk), mengacu pada penampilan kumbang yang menyerupai perisai. Sedangkan, julukan khusus miliaris berasal dari bahasa Latin “miliārius” (millet) [
1American Heritage Dictionary. (n.d.). mil•i•ar•y (mĭlē-ĕr′ē). American Heritage Dictionary; HarperCollins Publishers. Retrieved September 07, 2025, from https://ahdictionary.com/word/search.html?q=miliary
], yang mungkin merujuk pada banyaknya bintik pada kumbang tersebut.Spesies kepik ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli entomologi Denmark, Johann Christian Fabricius (1745-1808), pada tahun 1775 sebagai Cassida miliaris, dan dipublikasikan dalam Systema entomologiae, sistens insectorum classes, ordines, genera, species, adiectis synonymis, locis, descriptionibus, observationibus. Fabricius menempatkannya dalam genus Cassida, yang pada saat itu merupakan genus yang sangat luas dan mencakup banyak kumbang berpunggung tempurung.
Seiring dengan perkembangan ilmu taksonomi dan studi yang lebih mendalam tentang morfologi, genus Cassida kemudian dibagi-bagi menjadi beberapa genus yang lebih spesifik. Genus Aspidimorpha didirikan untuk menampung spesies-spesies yang memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dari Cassida.
Julius Weise (1844–1925) adalah seorang entomolog Jerman yang sangat terkenal dan produktif. Spesialisasinya adalah pada keluarga kumbang Chrysomelidae (biasa disebut leaf beetles), yang di dalamnya termasuk subfamili Cassidinae (tortoise beetles).
Weise adalah seorang ahli yang diakui secara global untuk kelompok kumbang ini pada masanya. Dia mendeskripsikan ratusan spesies dan genus baru, serta merevisi klasifikasi untuk banyak kelompok, termasuk memindahkan banyak spesies dari genus Cassida ke genus-genera baru yang lebih tepat seperti Aspidimorpha.
Spesies miliaris kemudian dipindahkan dari genus Cassida ke dalam genus Aspidimorpha pada tahun 1897. Pemindahan ini didasarkan pada karakter morfologi yang lebih detail, seperti bentuk tubuh, struktur pronotum dan elytra, serta genitalia.
Sehingga, nama berlaku dan diakui secara global saat ini adalah Aspidimorpha miliaris (Fabricius, 1775), dengan Cassida miliaris dianggap sebagai sinonim senior (senior synonym) dalam konteks sejarah penamaannya.
Kumbang kura-kura tutul (Aspidimorpha miliaris) trmasuk dalam famili Chrysomelidae (kumbang daun). Berasal dari wilayah Indomalaya, kumbang kura-kura tutul tersebar dari India bagian barat hingga Taiwan, Filipina, dan Indonesia.
Panjangnya mencapai 1,5 cm dan, seperti kumbang kura-kura pada umumnya, elytra (sayap depan yang mengeras) dan pronotum (lempeng dorsal paling depan toraks) melebar dan menutupi seluruh tubuh. Struktur ini transparan dan elytra juga memiliki banyak bintik hitam. Tubuh yang terlihat di bawah lapisan pelindung transparan ini bervariasi dari putih hingga kuning dan oranye [
2Keo, P. (2023, September 4). Friday Fellow: Spotted tortoise beetle. Earthling Nature. https://earthlingnature.wordpress.com/2019/09/06/friday-fellow-spotted-tortoise-beetle/
].Bentuk tubuhnya yang unik, seperti perisai mini yang mengilap, menyerupai helm transparan yang melindungi tubuh bagian dalamnya yang berwarna oranye kemerahan. Pola bintik hitam tersebar acak namun harmonis di permukaan sayap depannya, menciptakan tampilan yang eksotis dan memikat. Dalam diam, kumbang Asia ini memamerkan kecantikannya yang tidak biasa - satu bentuk keajaiban kecil dari alam yang sering luput dari perhatian.
Menariknya, spesies ini dikenal memiliki variasi morfologi yang cukup mencolok, baik dalam ukuran tubuh yang cenderung lebih besar dari kebanyakan kumbang lain, maupun dalam corak warna serta pola bintik yang beragam. Keanekaragaman ini diduga menjadi bagian dari strategi adaptasi dan kamuflase, membantu mereka bertahan di antara semak dan dedaunan tropis.
Pertemuan tak terduga itu menjadi momen kecil yang menyadarkan saya: bahwa bahkan di balik dedaunan liar di belakang rumah, alam senantiasa menyimpan kisah-kisah keindahan yang luar biasa. *** [080925]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar