Selasa, September 30, 2025

Dari Kilauan Lampu Pesta Pernikahan ke Remang Angkringan: Merajut Makna di Metangkring Baratajaya

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, September 30, 2025

First we eat, then we do everything else.” — M.F.K. Fisher

Surabaya baru saja menggelar satu momen bahagia bagi Fahma dan Salman di Gedung YKP Surabaya. Gemerlap lampu, hiasan bunga, dan doa-doa mengudara dalam sebuah pesta pernikahan yang meriah. Baju terbaik telah dikenakan, senyum telah dibagikan, dan ucapan selamat telah diucapkan.

Usai menghadiri tasyakuran pernikahan itu, acara berikutnya adalah nongkrong bareng teman di Metangkring yang berada di Jalan Barata Jaya C No. 12 RT 06 RW 04 Kelurahan Baratajaya, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya hingga dini hari.

Tempat ini menjadi tempat nongkrong di tengah hirup-pikuk Kota Surabaya. Suasana berbeda langsung terasa begitu kaki melangkah meninggalkan gedung ber-AC menuju keramaian angkringan yang hangat dan bersahaja.

Awalnya, hanya saya, Pak RT Agus - seorang sosok yang kaya akan cerita lokal - dan anak wedok mbarepnya yang hadir. Kami memilih sebuah spot sederhana, menyatu dengan gemuruh obrolan dan gelak tawa dari meja-meja lain. Udara malam yang mulai sejuk menjadi teman setia.

Namun, kebersamaan bertambah meriah dengan hadirnya satu orang lagi. Selang beberapa waktu, datanglah Muhammad Suatip, teman kerja kala saya berkarya di REDI (Regional Economic Development Institute). 

Dengan senyum khasnya, ia menyempurnakan formasi kami. Empat orang dengan latar belakang dan peran yang berbeda, kini duduk melingkar, membaur dalam demokratisnya ruang publik bernama angkringan.

Menu pesanan pun mencerminkan isi perut dan selera masing-masing. Saya sendiri, masih merasa kenyang oleh hidangan istimewa dari Gedung YKP - lontong kikil yang gurih, baklo yang kenyal, dan dim sum yang lezat - hanya memesan segelas es teh manis dan sepiring jagung manis pedas yang membangkitkan selera. Bagi kami, yang utama bukanlah porsi atau kemewahan hidangan.

Nongkrong bersama di Metangkring Angkringan Surabaya pada Malang Minggu (27/09)

Angkringan: Panggung Cerita yang Sesungguhnya

Metangkring pada malam itu bukan sekadar warung makan. Ia adalah ruang berbagi yang hidup. Di antara tegukan es teh dan suapan jagung pedas, obrolan mengalir begitu saja. Dari pembahasan serius seputar proyek-proyek penelitian, tiba-tiba melompat ke cerita lucu seputar di lapangan, atau kelucuan-kelucuan dalam kehidupan sehari-hari lainnya, menciptakan sebuah simfoni percakapan yang harmonis.

Tawa yang menggelegar sesekali memecah kesunyian malam, menyatakan betapa hangatnya ikatan yang terjalin. Dalam kehangatan itu, segala lelah sehabis acara rasanya terbayar lunas.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Mary Frances Kennedy Fisher Parrish Friede (1908-1992), seorang penulis makanan Amerika, yang dikenal sebagai M.F.K. Fisher: 

“Pertama kita makan, lalu kita melakukan hal lainnya.”

Kalimat itu terasa sangat nyata di Metangkring. Aktivitas makan hanyalah pembuka, sebuah ritual kecil untuk memuluskan hal yang lebih penting: berbagi cerita dan menyatukan hati. Piring dan gelas kosong yang berjejalan di meja menjadi saksi bisu betapa waktu berjalan begitu cepat ketika pertemanan yang tulus dirajut.

Hingga dini hari, kami masih bertahan. Bukan karena lapar, tapi karena rasa - rasa kebersamaan, rasa kekeluargaan, dan rasa kepuasan batin yang hanya bisa ditemukan dalam kesederhanaan sebuah angkringan di Baratajaya. 

Dari sebuah pesta pernikahan yang megah, kami melanjutkan ke sebuah perayaan kecil nan intim tentang arti persahabatan. Dan di Metangkring inilah, malam itu, ekonomi hubungan sosial kami berkembang dengan pesatnya. *** [300925]



logoblog

Thanks for reading Dari Kilauan Lampu Pesta Pernikahan ke Remang Angkringan: Merajut Makna di Metangkring Baratajaya

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog