Pada Ahad (13/04) pagi, saat menjalankan tugas dari NIHR Universitas Brawijaya (UB) di Kabupaten Gresik, penulis berkesempatan menyusuri Desa Kemangi, Kecamatan Bungah. Mobil yang saya tumpangi melaju perlahan di antara bentangan tambak yang luas di sisi kiri dan kanan jalan.
Udara terasa segar dengan aroma khas pesisir yang bercampur aroma tanah basah. Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatian di tengah perjalanan, yaitu tumpukan sampah yang tampak seperti telah lama berada di sana.
Tepat di dekat tumpukan itu, deretan pohon tumbuh subur, rindang, berdaun lebat, dan penuh buah. Sawo kecik, nama yang familiar di telinga orang Jawa, muncul dalam ingatan. Pohon-pohon itu ternyata sedang berbuah lebat, menggoda siapa pun yang melintas.

Buah sawo kecik (Manilkara kauki)
Pohon Kecil dengan Filosofi Besar
Sawo kecik bukanlah tanaman biasa. Nama ilmiahnya, Manilkara kauki (L.) Dubard, menyimpan jejak persebarannya. Kata ‘Manilkara’ diduga diadaptasi dari bahasa Portugis yang merujuk pada Manila, Filipina, sementara ‘kauki’ berasal dari bahasa Kanton, gǒuqǐ (枸杞).
Sang botanis legendaris dari Swedia, Carolus Linnaeus (1707-1778), pertama kali mendeskripsikannya pada 1753 sebagai Mimusops kauki, sebelum akhirnya diklasifikasikan ulang ke dalam genus Manilkara oleh botanis Prancis, Marcel Marie Maurice Dubard (1873-1914), pada 1915, menjadi Manilkara kauki.
Di Indonesia, sawo ini lebih dari sekadar pohon penghasil buah. Di Solo dan Yogyakarta, sawo kecik memiliki tempat terhormat. Ia ditanam di dalam lingkungan istana (kraton) sebagai simbol kebaikan (symbol of kindness).
Abdi dalem atau keluarga yang memiliki hubungan dengan kraton juga kerap menanamnya di samping pintu rumah mereka sebagai sebuah penanda. Konon, nama "sawo kecik" sendiri berasal dari frasa Jawa "sarwo becik" yang berarti "baik dalam segala hal." Setiap bagian dari pohon ini seolah mewujudkan makna tersebut.
Namun, bukan hanya makna simbolik yang membuat sawo kecik istimewa. Buahnya yang mungil dan manis enak dimakan langsung atau dijadikan bahan olahan herbal. Kayunya yang keras dan awet digunakan untuk ukiran, bahan bangunan, bahkan pembuatan gamelan dan keris - warisan budaya yang sarat nilai spiritual.

Daun sawo kecik (Manilkara kauki)
Kebaikan yang Terkandung dalam Setiap Bagian
Manilkara kauki adalah anggota famili Sapotaceae (sawo-sawoan) yang berasal dari wilayah tropis Asia Tenggara hingga Australia Utara. Pohonnya bisa tumbuh hingga 20 meter, dengan batang keras berwarna abu-abu kehitaman dan daun hijau tua mengilap. Buahnya kecil, berbentuk bulat telur, dengan rasa manis yang lembut. Kulitnya tipis, mudah dikupas - cocok sebagai camilan alami dari alam tropis.
Namun bukan hanya buahnya yang membawa manfaat. Hampir seluruh bagian tanaman ini berguna. Akar dan kulit kayu - bersifat astringen. Diberikan untuk diare pada bayi. Biji - bersifat penurun panas, anthelmintik, antileprotik. Daun - digunakan sebagai tapal untuk tumor. Ekstrak kulit batangnya telah diteliti memiliki potensi sebagai inhibitor tirosinase, yang penting dalam bidang kosmetik dan pengobatan kanker.
Sementara itu, studi terbaru oleh Nagamani et al. (2025) menunjukkan bahwa daging buah sawo kecik dapat dikeringkan, dihaluskan, dan diformulasikan menjadi krim wajah herbal untuk mencerahkan kulit. Ini membuka peluang baru dalam dunia kosmetik alami berbasis bahan lokal.

Batang dan cabang sawo kecik (Manilkara kauki)
Simbol Ketahanan dan Harapan
Melihat sawo kecik yang tumbuh subur di tepian tambak Desa Kemangi, di antara tumpukan sampah, adalah sebuah metafora yang kuat. Pohon ini tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga menyimpan ketahanan nilai.
Dari taman kraton Jawa yang sakral hingga lahan marginal di Gresik, dari pengobatan leluhur hingga laboratorium modern, Manilkara kauki terus membuktikan dirinya sebagai pohon yang "sarwo becik".
Keberadaannya mengingatkan kita bahwa warisan alam Nusantara seringkali menyimpan kekayaan yang terabaikan. Di balik rimbun daunnya yang hijau mengilap dan buahnya yang kecil, tersimpan potensi besar yang menunggu untuk digali dan dimanfaatkan bagi kebaikan yang lebih luas, sesuai dengan namanya. *** [260925]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar