Jumat, Oktober 10, 2025

Kesehatan Mental: Investasi yang Terlupakan, Tanggung Jawab Bersama

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, Oktober 10, 2025
Loving someone with mental illness can be exhausting,” says Dr. Sherman. “But you’re not alone. It’s important to care for yourself, accept what’s out of your control, and believe that recovery is possible.”  -- In Anxiety & Depression Association of America (2025)
Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia Tahun 2025

Setiap tahun, pada tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day). Momen ini bukan sekadar pengingat simbolis, melainkan seruan aksi nyata untuk memprioritaskan dan berinvestasi dalam kesehatan jiwa kolektif kita. 
Kenyataan pahitnya adalah, lebih dari satu miliar orang hidup dengan gangguan kesehatan mental. Kecemasan dan depresi bukan hanya menggerogoti jiwa manusia, tetapi juga merongrong perekonomian global dengan kerugian mencapai US$ 1 triliun setiap tahunnya akibat hilangnya produktivitas.
Data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membeberkan sebuah paradoks. Sejak 2020, banyak negara telah memperkuat kebijakan dan perencanaan kesehatan mental mereka, mengadopsi pendekatan berbasis hak asasi manusia, dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam keadaan darurat. 
Namun, di balik kemajuan kebijakan ini, tersembunyi stagnasi yang mengkhawatirkan: investasi nyata untuk kesehatan mental praktis mandek. Median belanja pemerintah global untuk kesehatan mental hanya 2% dari total anggaran kesehatan - angka yang tidak berubah sejak 2017. Ketimpangannya mencengangkan: negara berpenghasilan tinggi bisa menghabiskan US$65 per orang, sementara negara berpenghasilan rendah hanya US$0,04. Bayangkan, selisih yang lebih dalam dari jurang.
Kondisi ini berimbas langsung pada layanan. Reformasi berjalan lambat. Kurang dari 10% negara yang telah sepenuhnya beralih ke model perawatan berbasis komunitas, yang lebih manusiawi dan integratif. Sebagian besar masih bergantung pada rumah sakit jiwa, dengan hampir separuh pasien dirawat tanpa persetujuan mereka. 
Di negara berpenghasilan rendah, kurang dari 10% orang dengan gangguan mental mendapat perawatan, dibandingkan dengan lebih dari 50% di negara kaya. Ini adalah ketidakadilan kesehatan yang nyata.
Dalam konteks bencana dan keadaan darurat, kesenjangan ini semakin terasa. Stigma, kurangnya kesadaran, kendala bahasa, dan terbatasnya layanan menjadi tembok tinggi yang menghalangi akses bagi mereka yang paling membutuhkan. Namun, ada secercah harapan. Lebih dari 80% negara kini menawarkan dukungan psikososial dalam tanggap darurat, meningkat pesat dari 39% pada 2020. Layanan telehealth dan rawat jalan juga semakin tersedia, meski distribusinya belum merata.
Di Indonesia, penelitian terbaru oleh Herni Susanti dkk., yang berjudul “Exploring the mediating role of depression and anxiety in the relationship between social and biological factors and quality of life in Indonesia: a structural equation modelling approach” (BMJ Open, 2025) menawarkan solusi praktis. Program intervensi dini - seperti meningkatkan skrining kesehatan mental di Puskesmas dan mengintegrasikan dukungan psikologis ke dalam BPJS - dapat mencegah memburuknya kondisi. Memperluas platform kesehatan mental digital, termasuk konseling via SMS dan telepsikiatri, adalah cara strategis untuk menjangkau daerah yang kurang terlayani. Integrasi strategi ini ke dalam layanan primer, sekolah, dan tempat kerja akan menciptakan pendekatan holistik untuk meningkatkan kualitas hidup.
Namun, upaya struktural harus berjalan beriringan dengan perubahan paradigma di tingkat masyarakat. Dukungan untuk orang dengan gangguan mental dan keluarganya adalah kunci. Seperti yang diingatkan dalam quote dari laman Anxiety & Depression Association of America (2025): 
"Mencintai seseorang dengan penyakit mental memang melelahkan," kata Dr. Sherman. "Tapi kamu tidak sendirian. Penting untuk merawat diri sendiri, menerima apa yang di luar kendalimu, dan percaya bahwa pemulihan itu mungkin."
 
Kata-kata ini adalah penegasan bahwa beban mental adalah tanggung jawab bersama, dan harapan selalu ada.
Pada Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 ini, mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik. Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran yang memadai dan memprioritaskan transisi ke perawatan komunitas. Sektor swasta dapat berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Masyarakat luas harus terus memerangi stigma dan membangun empati. Kesehatan mental yang baik bukanlah kemewahan, melainkan fondasi dari masyarakat yang produktif, resilient, dan berperikemanusiaan. Investasi pada kesehatan mental adalah investasi pada masa depan kita semua. *** [101025]


logoblog

Thanks for reading Kesehatan Mental: Investasi yang Terlupakan, Tanggung Jawab Bersama

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog