Sabtu, Oktober 11, 2025

Pernikahan Galih dan Dhita: Antara Hajatan dan Berkumpulnya Insan Kesehatan

  Budiarto Eko Kusumo       Sabtu, Oktober 11, 2025
Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.”  -- Lao Tzu
Pernikahan bukan hanya sekadar janji suci antara dua insan. Di tangan orang-orang yang terbiasa mengabdikan diri pada masyarakat, sebuah hajatan pernikahan bisa menjadi momen kebersamaan, kehangatan, sekaligus ajang temu kangen bagi para pengabdi kesehatan.
Itulah yang tergambar dari pernikahan Galih Aditya, putra dari kader kesehatan Kelurahan Kepanjen, Ibu Agustin Shintowati, bersama sang suami Bapak Supomo, yang menikahkan putra sulungnya dengan Dhita Retna Titah Palupi, putri dari Bapak Sugansar dan Ibu Khudaiyah.
Galih bukanlah sosok asing di lingkungan kesehatan. Ia juga mengabdi di RS Wava Husada, rumah sakit kebanggaan warga Kepanjen dan sekitarnya. Maka, tak mengherankan bila pernikahannya menjadi semacam “kopi darat besar-besaran” bagi para insan kesehatan di Malang Raya.

Kasubkon PTM dan Keswa Dinkes Kabupaten Malang berpose bersama mempelai pengantin

Akad Nikah yang Khidmat, Dihadiri Warga dan Rekan Sejawat
Jumat pagi, 10 Oktober 2025, udara masih sejuk ketika keluarga besar mempelai pria dan para tamu undangan mulai berkumpul di kediaman mempelai wanita, Jalan Nangka RT 02 RW 02 Desa Palaan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. 
Tepat pukul 07.00 WIB, prosesi akad nikah berlangsung dalam suasana khidmat, disaksikan keluarga, kerabat, tetangga, dan sejumlah teman mempelai pria dari RS Wava Husada, serta salah seorang anggota Tim SMARThealth Universitas Brawijaya (UB).
Usai prosesi akad nikah atau yang akrab disebut ijab qobul itu, rombongan pengantin bergerak ke Area Lapangan Sitrun di Jalan Grajen, Banurejo RT 05 RW 01, Kelurahan Kepanjen, tempat resepsi sekaligus seremoni adat digelar.

Prosesi akad nikah di rumah mempelai wanita

Pelepasan Merpati dan Balon: Simbol Cinta dan Harapan
Begitu tiba di lokasi, kedua mempelai melakukan ritual pelepasan merpati dan balon yang menjadi simbol kuat dalam pernikahan mereka. Dua ekor merpati dilepas bersama, terbang tinggi di angkasa. Merpati, dalam budaya dan simbolisme, melambangkan kesetiaan dan janji yang tak akan dikhianati.
Sementara itu, balon merah dan putih dilepas oleh pagar ayu, pagar ganteng, keluarga besar, dan para tetangga. Balon merah memancarkan energi, gairah, dan cinta yang membara, sedangkan putih melambangkan kemurnian, keikhlasan, dan ketulusan cinta.
"Dicintai sepenuh hati oleh seseorang memberimu kekuatan, sementara mencintai seseorang sepenuh hati memberimu keberanian."
— Lao Tzu
Momen tersebut menyatukan makna cinta dan harapan dalam wujud yang sederhana namun penuh kesan.

Mempelai pengantin berpose bermasa orangtua mempelai wanita

Dari Balik Terop, Tamu Datang dan Cerita Bergulir
Area resepsi dipenuhi senyum dan tawa. Terop sepanjang 24 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4 meter itu menampung ratusan tamu yang datang silih berganti. Siang hari itu, saya turut mendampingi Kepala Sub Koordinator Substansi PTM dan Keswa Dinkes Kabupaten Malang, Paulus Gatot Kusharyanto, SKM, untuk hadir dalam acara tersebut.
Yang membuat acara semakin hangat adalah kehadiran rekan-rekan dari dunia kesehatan: kader kesehatan Kelurahan Kepanjen, bidan Desa Ngadilangkung, bidan Kedungpedaringan, serta insan dari RS Wava Husada. 
Percakapan ringan mengalir, dari kabar keluarga hingga bahasan isu-isu kesehatan terkini - sebuah dinamika yang hanya bisa terjadi di pertemuan yang santai namun penuh makna seperti ini.
Sambil menikmati sajian prasmanan dari catering Pondok Sawah, rasa kebersamaan terjalin erat. Tak hanya sebagai tamu, tetapi sebagai satu komunitas yang tumbuh dan saling mendukung.

Melepas sepasang merpati dan balon

Temu Pengantin dan Resepsi hingga Malam Hari
Setelah jeda waktu untuk salat Jumat dan istirahat, pengantin kembali tampil dalam balutan busana resepsi yang anggun. Sesi penerimaan tamu dimulai pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, lalu dilanjutkan sesi malam pukul 19.00 – 21.00 WIB. Di antara canda tawa tamu dan iringan musik lembut, satu per satu tamu datang membawa doa dan restu.
Pernikahan Galih dan Dhita bukan hanya menyatukan dua hati, tapi juga mempererat simpul silaturahmi di tengah komunitas kesehatan. Di momen seperti ini, kita diingatkan bahwa cinta, pengabdian, dan kebersamaan selalu memiliki ruang dalam setiap fase kehidupan.

Salah seorang anggota Tim SMARThealth UB duduk di antara kumpulan insan kesehatan RS Wava Husada Kepanjen

Cinta yang Tak Pernah Padam
Sebagaimana makna dalam pernikahan yang sarat janji dan pengharapan, cinta yang besar memang tak bisa dibalas kecuali dengan cinta yang sama dalam dan kuatnya. Maka, sebagai penutup cerita ini, mari kita renungkan sejenak bait indah dari puisi klasik Anne Bradstreet (1612-1672) yang menggambarkan betapa agungnya cinta sejati dalam pernikahan:
To My Dear and Loving Husband – Anne Bradstreet
Jika dua orang menjadi satu, maka pastilah kita.
Jika ada pria yang dicintai oleh istri, maka engkaulah.
Jika ada istri yang bahagia dalam diri seorang pria,
Bandingkanlah denganku, wahai para wanita, jika kau bisa.
Aku menghargai cintamu lebih dari seluruh tambang emas
Atau semua kekayaan yang dimiliki timur.
Cintaku begitu besar hingga sungai tak dapat memadamkannya,
Dan tak ada yang dapat membalas cintamu selain cinta.
Cintaku begitu besar hingga tak mungkin kubalas.
Surga menghadiahimu berlipat ganda, kumohon.
Maka selagi kita hidup, dalam cinta marilah kita bertekun
Agar ketika kita tak lagi hidup, kita dapat hidup selamanya.
Congratulation on your wedding: Galih & Dhita. Semoga perjalanan kalian penuh makna dan keberkahan. Menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. *** [111025]


logoblog

Thanks for reading Pernikahan Galih dan Dhita: Antara Hajatan dan Berkumpulnya Insan Kesehatan

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog