![]() |
| Semangkuk tom yum soup ala chef Grand Miami Hotel Kepanjen |
Hari kedua pelatihan enumerator di Ballroom Grand Miami, Kepanjen, berlangsung intens pada Rabu (15/10). Suara presenter, diskusi kelompok, dan gemerisik suara blood pressure monitor mengisi ruang yang sejuk. Saat waktu ishoma (istirahat, sholat, makan) tiba, keriuhan pun bergeser ke area makan.
Di antara lauk-pauk yang menggugah selera, ada satu soup kettle besar warna hitam yang seolah memancarkan aura tersendiri: sup bening (nam sai) dengan udang dan cumi yang menggoda. Itulah tom yum, hidangan legendaris Thailand yang hari itu menjadi penghangat tubuh dan pencerah pikiran.
Dari Dua Kata Sederhana Menjadi Simfoni Rasa
Nama "tom yum" (ต้มยำ) sendiri adalah sebuah janji akan keautentikan rasa. Kata "tom" (ต้ม) berarti "merebus", sementara "yum" (ยำ) merujuk pada salad khas Thailand yang pedas dan tajam. Secara harfiah, tom yum adalah perpaduan sempurna antara teknik memasak yang sederhana – merebus - dengan karakter rasa yang kompleks dan berani.
Hidangan ini adalah orkestra rempah-rempah aromatik. Serai memberikan dasar citarasa segar yang khas, daun jeruk purut menyelipkan aroma sitrus yang menggugah, lengkuas memberi sentuhan earthy yang hangat, sementara cabai dan air jeruk nipis bertarung dan berdamai di lidah, menciptakan keseimbangan pedas-asam yang sangat menyegarkan. Tom yum yang saya santap siang itu, dengan isian udang dan cumi yang melimpah, sepertinya adalah tom yum talay - varian seafood yang gurih.
Asal-Usul di Tengah Lembah Sungai dan Istana
Menelusuri asal-usul tom yum bagai menyusuri Sungai Chao Phraya yang legendaris. Asalnya tak sepenuhnya jelas, namun cerita yang paling melekat menyebutkan hidangan ini lahir dari komunitas Buddha di Dataran Tengah Thailand.
Daerah yang subur ini kaya dengan udang air tawar, dan komunitasnya yang menghindari membunuh hewan besar menjadikan udang sebagai pilihan utama. Kombinasi antara kearifan lokal akan tanaman obat dan ketersediaan sumber daya alam inilah yang diduga menjadi cikal bakal terciptanya sup ajaib ini.
Ada pula romantisme istana yang melekat. Sebagian orang meyakini tom yum adalah kreasi para koki kerajaan di masa Kerajaan Ayutthaya pada abad ke-14, sebagai wujud apresiasi terhadap cita rasa bahan lokal yang dimasak dengan sempurna.
Terlepas dari mana cerita yang paling benar, UNESCO telah mengukuhkan tom yum kung sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage), sebuah cerminan nilai-nilai Buddha Thailand dan perwujudan pengetahuan tradisional tentang lingkungan.
Lebih Dari Sekadar Rasa: Warisan dan Manfaat Kesehatan
Yang membuat tom yum semakin istimewa adalah warisan pengetahuan yang dibawanya. Pengetahuan tentang memilih rempah, meracik bumbu, dan melestarikan lingkungan diwariskan secara turun-temurun, dari keluarga ke keluarga, dalam pertemuan sosial dan budaya.
Tak hanya memanjakan lidah, tom yum juga adalah sahabat bagi tubuh. Penelitian, seperti yang dilaporkan Siripongvutikorn et. al. (2005), mengungkap kehebatan di balik kelezatannya. Rempah-rempah intinya - lengkuas, serai, dan daun jeruk purut - diketahui memiliki sifat yang dapat menghambat tumor pada saluran pencernaan.
Bahan pendukungnya seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih adalah sumber antioksidan dan senyawa antimikroba alami. Bawang putih, dengan komponen aktif alisinnya, bahkan dikenal sebagai agen antibakteri, antijamur, dan antivirus yang ampuh.
Menyantap tom yum di sela-sela pelatihan yang padat siang itu bukan sekadar mengisi perut. Ia adalah sebuah perjalanan singkat - sebuah pengingat bahwa dalam setiap suapan, tersimpan sejarah, kearifan lokal, dan ramuan kesehatan yang telah diwariskan berabad-abad.
Rasa pedas yang membakar tenggorokan, asam yang menggelitik, dan aroma yang membangkitkan semangat itu adalah bukti bahwa kuliner adalah salah satu bahasa universal yang paling memesona. *** [181025]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar