Lebaran tahun lalu, saya dan anak wedok mbarep berkesempatan berkunjung ke Kebun Raya Indrokilo, Boyolali pada Kamis (03/04/2025). Selain mengamati pohon saga (Adenanthera pavonina), kami juga terhenti di sebuah sudut hijau yang terasa agak berbeda. Kluster Taman Madrim, yang terletak persis di depan Gedung TIC (Touristent Information Center), di sisi barat garasi sepeda sewaan, ternyata disiapkan khusus sebagai “panggung” bagi aneka bambu.
Di antara rimbun rumpun yang menjulang, mata saya tertambat pada satu sosok bambu besar, gagah, namun berdaun ramping, yakni Guadua angustifolia Kunth, sesuai plakat nama berwarna hijau bertuliskan putih itu.
Nama ilmiahnya menyimpan jejak bahasa dan sejarah. Kata Guadua berasal dari sebutan umum yang dipakai masyarakat Kolombia, diucapkan guidu-a di sana, sementara di Ekuador berubah lidah menjadi gua-dii-a [
1Young, S. M., & Judd, W. S. (1992). Systematics of the Guadua angustifolia Complex (Poaceae: Bambusoideae). Annals of the Missouri Botanical Garden, 79(4), 737–769. https://doi.org/10.2307/2399719
].![]() |
| Rumpun bambu Kolombia (Guadua angustifolia) yang tumbuh subur di Kluster Taman Madrim, Kebun Raya Indrokilo Boyolali, Provinsi Jawa Tengah |
Julukan khusus angustifolia berasal dari bahasa Latin dari gabungan kata “angustus” yang berarti sempit dan “folium” yang berarti daun, menggambarkan tepat bentuk daunnya yang ramping memanjang yang seakan-akan menyempit [
2Kissed Earth. (n.d.). Lavender Oil. Kissed Earth. Retrieved January 30, 2026, from https://kissedearth.com.au/blogs/ingredients/lavender-oil
]. Nama ilmiah Guadua angustifolia pertama kali diperkenalkan pada dunia sains oleh botanis Jerman Carl Sigismund Kunth (1788–1850) pada tahun 1822, lalu dipublikasikan dalam karya klasiknya, Synopsis Plantarum [
3Kunth, C. S. (1822). Synopsis plantarum, quas in itinere ad plagam aequinoctialem orbis novi collegerunt Al. de Humboldt et Am. Bonpland (Tomus Primus). Apud F.G. Levrault. https://books.google.co.id/books?id=WBTZCrxv87kC&pg=PP7&hl=id&source=gbs_selected_pages&cad=1#v=onepage&q&f=false
].Di luar nama binomial, bambu ini hidup dalam banyak sebutan di berbagai bahasa dan budaya. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Colombian thorny bamboo atau sekadar guadua; dalam bahasa Prancis sebagai guadua à feuilles étroites; dalam bahasa Spanyol hadir sebagai amisa, caña guadua, chhonoto cugu, gramínea gigante, hingga hue’ca; dalam bahasa Portugis sebagai bambu-colombiano dan caña-guadu.
![]() |
| Plakat nama bambu Kolombia (Guadua angustifolia) |
Di Indonesia ia diperkenalkan sebagai bambu guadua atau bambu Kolombia berduri, sementara di Bolivia menyelip sebagai caña guayaquil. Jaringan nama yang berlapis ini menunjukkan bagaimana satu spesies mampu menyeberangi batas negara dan menjalin cerita dengan banyak komunitas.
Dalam botani, Guadua angustifolia termasuk dalam famili Poaceae, suku besar rumput-rumputan yang juga menaungi padi dan jagung. Daerah asalnya terbentang di Amerika Selatan, dari Peru hingga Venezuela, sebelum kemudian diperkenalkan ke Guyana, Argentina, dan Brasil bagian selatan, lalu terus menyebar ke belahan dunia lain.
Di habitat alaminya, bambu ini dikenal sebagai bambu raksasa neotropis, mampu tumbuh hingga sekitar 25 meter. Batangnya lurus, hijau, dengan buku-buku beraturan, berdinding tebal, kuat, ulet, dan beruas jelas, sebagai ciri yang membuatnya digadang sebagai salah satu bambu struktural terkuat di dunia, dengan daun lanset yang berbulu di sisi bawah.
![]() |
| Tunas muda (rebung) bambu Kolombia (Guadua angustifolia) |
Di Amerika Selatan, Guadua angustifolia bukan sekadar tanaman hutan, melainkan tokoh utama dalam lanskap budaya. Di Kolombia, sekitar 51.000 hektar hutan tertutup oleh bambu ini. Ia menjadi bagian integral dari cerita rakyat, ekosistem, adat sosial, dan perkembangan budaya di berbagai wilayah [
4Luna, P., Lizarazo-Marriaga, J., & Mariño, A. (2024). Alkali and Plasma-Treated Guadua angustifolia Bamboo Fibers: A Study on Reinforcement Potential for Polymeric Matrices. Journal of Renewable Materials, 12(8), 1399–1416. https://doi.org/10.32604/jrm.2024.052669
]. Selama berabad-abad, bambu ini menyumbang bahan bagi konstruksi tradisional, pertukangan, hingga berbagai jasa ekosistem, seperti menahan erosi, menjaga kelembapan tanah, serta menjadi habitat bagi beragam satwa. Batangnya juga diolah menjadi kerajinan dan karya seni, menjembatani fungsi praktis dengan ekspresi estetis.
Peran Guadua angustifolia tidak berhenti pada ranah struktur dan budaya. Dalam beberapa tahun terakhir, potensi aplikasinya mulai dieksplorasi lebih jauh. Di bidang pangan, ia menjadi sumber alternatif bahan baku; dalam energi, ia dimanfaatkan untuk produksi biochar dan bahan bakar [
5Lozano-Puentes, H. S., Sánchez-Matiz, J. J., Ruiz-Sanchez, E., Costa, G. M., & Díaz-Ariza, L. A. (2023). Guadua angustifolia Kunth leaves as a source for bioactive phenolic compounds: Optimization of ultrasound-assisted extraction using response surface methodology and antioxidant activities. Heliyon, 9(12), e22445. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e22445
].![]() |
| Ruas buku bambu Kolombia (Guadua angustifolia) yang bersih dan terlihat durinya |
Di laboratorium, perhatian ilmuwan justru tertuju pada kandungan kimia di batang dan daunnya. Senyawa fenolik di batang dan flavonoid di daun terbukti menyimpan aktivitas biologis yang menarik untuk pengembangan bidang kesehatan dan farmasi.
Sebuah kajian oleh Chongtham dan kolega (2025) merangkum kandungan fitokimia bambu ini beserta sifat farmasinya [
6Chongtham, N., Indira, A., Joshi, B., & Santosh, O. (2025). Therapeutic potential of bamboo: Exploring ethnomedicinal traditions, phytochemical composition and immunomodulatory effects with emphasis on anti-inflammatory and prebiotic properties. Advances in Bamboo Science, 13, 100206. https://doi.org/10.1016/j.bamboo.2025.100206
]. Fenol Guadua angustifolia diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, hepatoprotektif, mampu menghambat xantin oksidase, serta memberikan efek anti-hiperurisemia. Senyawa mequinol dikaitkan dengan aktivitas pencerahan kulit, pengobatan melasma, dan perawatan hiperpigmentasi pasca inflamasi. Senyawa 2,6-dimetoksifenol menunjukkan potensi perlindungan terhadap penyakit radang usus sekaligus aktivitas antikanker, sedangkan 4-etil−2-metoksifenol tercatat memiliki sifat antibakteri. Dari rumpun yang tampak sederhana di mata awam, tersimpan laboratorium alami dengan rentang khasiat yang luas.
![]() |
| Daun bambu Kolombia (Guadua angustifolia) |
Kembali ke Taman Madrim di Kebun Raya Indrokilo, rumpun Guadua angustifolia tumbuh subur sebagai jembatan senyap antara Boyolali dan warisan alamnya. Di hadapan pengunjung yang melintas, ia mungkin hanya tampak sebagai bambu besar dengan daun-daun sempit yang bergesekan pelan ditiup angin.
Namun di balik batang hijau beruas tebal itu, mengalir kisah panjang, mulai dari nama yang lahir di lidah masyarakat Kolombia, riset seorang botanis Jerman dua abad lalu, hutan-hutan yang ditopangnya, rumah-rumah yang dibangunnya, sampai kemungkinan obat masa depan yang kini tengah diurai di meja-meja penelitian.
Rumpun bambu Kolombia berdaun sempit itu, diam-diam, menyatukan sains, budaya, dan harapan ke dalam satu sosok yang bisa kita sentuh dari jarak sedekat pijakan di Kluster Taman Madrim, Kebun Raya Indrokilo, Boyolali. *** [310126]






Tidak ada komentar:
Posting Komentar