Awalnya tak ada yang istimewa. Saat halaman belakang Site Office SMARThealth NIHR Kepanjen dibersihkan, di antara semak liar dan tanaman ketul (Bidens pilosa), muncul bunga-bunga kecil berwarna biru keunguan. Ukurannya mungil, tumbuh tanpa ditanam, dan nyaris luput dari perhatian. Namun justru dari tumbuhan liar itulah cerita menarik bermula.
Di tanah Sunda, tanaman ini dikenal dengan nama maman lanang - juga disebut maman lelaki, gunda, atau cacabean. Warga Banyuwangi mengenalnya sebagai boboan. Meski namanya akrab di beberapa daerah, maman lanang belum populer sebagai bahan masakan di Indonesia. Padahal, di negeri jiran Malaysia, tanaman ini difermentasi menjadi sawi asin. Sementara di Banyuwangi, jenis boboan berbunga putih kerap diolah menjadi sayur rumahan [
1nfotanamanobatherbal. (2021, January 22). Cleome rutidosperma. Facebook. https://web.facebook.com/foragingtanamanobatherbal/posts/cleome-rutidosperma-ketiga-cleomemamannama-lokal-ini-tumbuh-liarketiganya-dapat-/201493781705151/?_rdc=1
].![]() |
| Bunga maman lanang (Sieruela rutidosperma) yang mungil |
Secara tampilan, maman lanang mudah dikenali. Daunnya majemuk dengan tiga anak daun berbentuk elips. Bunganya kecil, sekitar satu sentimeter, berwarna ungu muda, merah muda, hingga putih. Buahnya berupa kapsul panjang silindris yang akan pecah saat matang. Dari sinilah ciri khas pentingnya muncul, yakni bijinya tampak keriput.
Nama ilmiahnya Sieruela rutidosperma (DC.) Roalson & J.C. Hall. Nama genus Sieruela tidak ada etimologi eksplisit yang dikonfirmasi dalam catatan literatur yang tersedia. Sedangkan, julukan khusus rutidosperma berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata rhutis yang berarti keriput dan sperma yang berarti biji [
2The DRC flora team (2026). Flora of the Democratic Republic of the Congo: Species information: Cleome rutidosperma var. rutidosperma.https://www.drcongoflora.com/speciesdata/species.php?species_id=193100, retrieved 27 January 2026
], yang menjadi sebuah penanda sederhana namun tepat sasaran. Menariknya, tanaman ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1824 oleh botanis Swiss, Augustin Pyramus de Candolle, dengan nama Cleome rutidosperma [
3Candolle, Augustin Pyramus de, & Candolle, Alphonse de. (1824). Prodromus systematis naturalis regni vegetabilis, sive, Enumeratio contracta ordinum generum specierumque plantarum huc usque cognitarium, juxta methodi naturalis, normas digesta (Pars Prima). Parisiis: Sumptibus Sociorum Treuttel et Würtz. https://www.biodiversitylibrary.org/page/153953
]. Baru hampir dua abad kemudian, tepatnya tahun 2017, Roalson & Hall mereklasifikasikannya ke dalam genus Sieruela berdasarkan bukti molekuler dari studi filogenetik [4Roalson, E. H., & Hall, J. C. (2017). New Generic Concepts for African Cleomaceae. Systematic Botany, 42(4), 925–942. https://doi.org/10.1600/036364417x696393
].![]() |
| Daun maman lanang (Sieruela rutidosperma) |
Sieruela rutidosperma (maman lanang) memiliki banyak nama di berbagai belahan dunia. Orang Inggris menyebutnya fringed spider flower atau consumption weed, merujuk pada bentuk bunganya yang menyerupai laba-laba. Di Jerman dikenal sebagai runzelsamige Kleome, di Prancis mouzambe rampant, di Spanyol jasmin del rio. Di Afrika dan Asia, namanya pun beragam, menandakan betapa luas penyebarannya.
Asal-usul tanaman ini berada di Afrika, terutama Afrika Barat. Dari sana, maman lanang (Sieruela rutidosperma) menyebar ke berbagai wilayah tropis dan subtropis: India, Asia Tenggara, Cina, hingga Amerika [
5EPPO Global Database. (n.d.). Cleome rutidosperma (CLERT)[Overview]. EPPO. Retrieved January 28, 2026, from https://gd.eppo.int/taxon/CLERT
]. Ia tumbuh subur di daerah panas dan lembap, berkembang biak cepat, dan karena itulah sering dicap sebagai gulma invasif.Namun di balik statusnya sebagai “pengganggu”, Sieruela rutidosperma menyimpan potensi besar. Dalam berbagai tradisi pengobatan - mulai dari Ayurveda, Siddha, hingga praktik tabib lokal - daun, akar, dan bijinya dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Penelitian modern pun mendukung sebagian klaim tersebut [
6Ghosh, P., Chatterjee, S., Das, P., Banerjee, A., Karmakar, S., & Mahapatra, S. (2019). NATURAL HABITAT, PHYTOCHEMISTRY AND PHARMACOLOGICAL PROPERTIES OF A MEDICINAL WEED- CLEOME RUTIDOSPERMA DC. (CLEOMACEAE): A COMPREHENSIVE REVIEW. International Journal Of Pharmaceutical Sciences And Research, 10(4), 1605–1612. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.13040/IJPSR.0975-8232.10(4).1605-12
].![]() |
| Tanaman maman lanang (Sieruela rutidosperma) tumbuh di saluran pembuangan air di belakang Site Office SMARThealth NIHR di Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang |
Ekstrak tanaman ini dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, antiplasmodial (antimalaria), antidiabetes, hingga antiinflamasi. Akarnya diketahui memiliki efek menurunkan gula darah dan aktivitas antelmintik, sementara daunnya berpotensi sebagai pereda nyeri dan demam.
Di beberapa negara Afrika, daun Sieruela rutidosperma dimakan sebagai sayuran. Rasanya pahit, mirip mustard, sehingga kadang dimasak dengan tambahan mentega murni atau dijadikan sup. Di sisi lain, getah daunnya dimanfaatkan secara tradisional untuk mengatasi sakit telinga, iritasi kulit, biang keringat, bahkan gangguan pendengaran.
Maman lanang (Sieruela rutidosperma) mengajarkan satu hal sederhana, bahwa tumbuhan liar yang sering dianggap remeh bisa menyimpan nilai pangan, budaya, dan obat yang tak kecil. Di sela halaman belakang Site Office SMARThealth NIHR di Kepanjen, Kabupaten Malang, atau pinggir kebun atau sawah yang ada di sekitarnya, ia tumbuh diam-diam - menunggu untuk dikenali, dipahami, dan mungkin suatu hari, lebih dihargai. *** [280126]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar