Di depan pagar rumah Ketua RT 14 RW 08, yang berdampingan dengan Gedung Posyandu Kartini IV di Dusun Maron, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, saya menjumpai serumpun tanaman liar yang tumbuh subur. Bunganya bergerombol rapat, berwarna ungu lembut, tampak seperti kabut halus yang mengambang di atas dedaunan hijau. Sekilas ia tampak rapuh, namun justru memancarkan daya hidup yang kuat.
Seorang kader kesehatan yang turut mendampingi kegiatan Pengabdian Masyarakat bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Indonesia pada Sabtu (14/02) menyebut tanaman itu sebagai wedusan, nama yang merujuk pada bentuk bunganya yang menyerupai janggut kambing. Di tempat lain ia dikenal sebagai bandotan hias atau bandotan ungu. Namun di banyak wilayah Indonesia, ia lebih akrab dipanggil tanaman piji.
Tanaman piji bernama ilmiah Ageratum houstonianum Mill. Ia termasuk dalam famili Asteraceae, suku aster-asteran yang juga menaungi kenikir dan bunga matahari. Nama genus Ageratum berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata “a” (tanpa) dan “geras” (menua), menggambarkan bunga yang seolah tak lekang oleh waktu atau mekar lebih lama dibanding banyak tanaman semusim lainnya [
1New Zealand Plant Conservation Network. (n.d.). Ageratum houstonianum. New Zealand Plant Conservation Network. Retrieved February 25, 2026, from https://www.nzpcn.org.nz/flora/species/ageratum-houstonianum/
]. Epithet houstonianum diberikan untuk menghormati William Houston (1695-1733), dokter dan botanis Skotlandia yang pertama kali mengoleksi tanaman ini dan membawanya ke Eropa [2Mahr, Susan. (n.d.). Ageratum, Ageratum houstonianum. Wisconsin Horticulture. Retrieved February 25, 2026, from https://hort.extension.wisc.edu/articles/ageratum/
]. Nama ilmiah Ageratum houstonianum pertama kali dipublikasikan pada 1768 oleh botanis Inggris Philip Miller (1691-1771), yang menjadi pengawas Perhimpunan Apoteker di Chelsea (“Kebun Obat Chelsea”) 1722-1770; “hortulanorum princeps”, dalam karya monumentalnya, The Gardeners Dictionary [
3Miller, Philip, Miller, J., Miller, Philip, & John and Francis Rivington. (1768). The gardeners dictionary : containing the best and newest methods of cultivating and improving the kitchen, fruit, flower garden, and nursery, as also for performing the practical parts of agriculture, including the management of vineyards, with the methods of making and preserving wine, according to the present practice of the most skilful vignerons in the several wine countries in Europe, together with directions for propagating and improving, from real practice and experience, all sorts of timber trees (Vol. 2). Printed for the author and sold by John and Francis Rivington ... [and 23 others]. https://www.biodiversitylibrary.org/page/51493546
].Di dunia internasional, ia memiliki banyak nama: flossflower, blue-top goatweed, Mexican ageratum (Inggris); Leberbalsam (Jerman); agérate bleu (Prancis); hingga agerato celestino (Italia dan Spanyol). Keragaman nama itu menandakan luasnya persebaran dan kedekatan tanaman ini dengan berbagai budaya.
Tanaman piji berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Tak lama setelah dikenalkan ke Eropa sebagai tanaman hias, ia menyebar ke berbagai belahan dunia tropis dan subtropis. Produksi bijinya yang kecil (achenes) cokelat kehitaman dengan lima sisik putih menyerupai rambut halus, membuatnya mudah diterbangkan angin atau terbawa air.
Selain secara alami, penyebarannya juga terjadi melalui hewan, pakaian, kendaraan, tanah terkontaminasi, dan hasil pertanian. Dari kebun-kebun hias, ia “meloloskan diri” dan beradaptasi di lahan pertanian, tanah kosong, tepi jalan, jalur hutan, bantaran sungai, hingga lahan basah [
4Anyanele, W. C., Anyanele, S. I., & Ejidike, C. S. (2022). Comparative Study on the Phytochemical Analysis of the Leaves and Stem of Ageratum houstonianum. mill. Asian Plant Research Journal, 9(2), 49–55. https://doi.org/10.9734/aprj/2022/v9i230203
].Di Indonesia, keberadaannya tercatat di Sumatra dan Jawa. Di Sumatra, ia pernah ditemukan hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, sebelum akhirnya menyebar pula ke dataran yang lebih rendah [
5Tan, M. K., Kamaruddin, K. N., & Tan, H. T. W. (2016). An overlooked naturalised plant from the highlands of Peninsular Malaysia: Ageratum houstonianum Miller (Asteraceae). UTAR AGRICULTURE SCIENCE JOURNAL, 2(1), 57–58. http://eprints.utar.edu.my/2003/1/An_overlooked_naturalised_plant_from_the_highlands_of_Peninsular_Malaysia_-_Ageratum_houstonianum_Miller_-_Asteraceae.pdf
]. Sifat adaptif inilah yang membuatnya kerap dilabeli gulma invasif.Ciri Morfologi: Lembut Namun Tangguh
Tanaman piji merupakan herba tahunan atau dwitahunan dengan habitus tegak. Batangnya bulat, padat, berwarna hijau hingga kemerahan, dan tertutup bulu-bulu halus. Daunnya tunggal dan tersusun berhadapan, berwarna hijau cerah, lembut, sedikit aromatik, serta berbulu tipis.
Keindahannya terletak pada perbungaan majemuk di ujung cabang: kepala-kepala bunga kecil berbulu halus berwarna ungu muda, tersusun dalam kelompok padat. Tampilan inilah yang membuatnya populer sebagai tanaman hias, meski di sisi lain dicap sebagai gulma.
Di balik reputasinya sebagai tanaman liar, piji menyimpan potensi etnobotani yang kaya. Di kalangan masyarakat Sunda, yang menyebutnya babandotan liar, rebusan seluruh bagian tanaman diminum untuk mengatasi diare. Daunnya yang ditumbuk dioleskan pada luka untuk mempercepat penyembuhan [
6Handayani, A., Zuhud, E. A. M., & Junaedi, D. I. (2023). Naturalized Alien Plant as Traditional Medicine Resources: A Study from Cibodas Biosphere Reserve, West Java. Jurnal Sylva Lestari, 11(2), 298–319. https://doi.org/10.23960/jsl.v11i2.715
]. Praktik serupa juga dijumpai pada sub-etnis Batak Toba di Sipagabu untuk mengobati luka tersayat [7Simamora, L., Ratnasih, R., Dwiartama, A., & Irsam, A. S. (2023). Pengetahuan Lokal Sub-Etnis Batak Toba dalam Memanfaatkan Tumbuhan Obat. Wahana-Bio: Jurnal Biologi Dan Pembelajarannya, 15(1), 63. https://doi.org/10.20527/wb.v15i1.15853
].Di Ekuador, tanaman ini dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk meredakan sakit tenggorokan dan peradangan [
8Flora & Fauna Web. (n.d.). Ageratum houstonianum. NParks. Retrieved February 25, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/5/2/5213
]. Penelitian modern menunjukkan bahwa daunnya memiliki sifat antijamur, sementara minyak esensialnya mengandung kromena dengan aktivitas antimikroba [9Wiedenfeld, H., & Andrade-Cetto, A. (2001). Pyrrolizidine alkaloids from Ageratum houstonianum Mill. Phytochemistry, 57(8), 1269–1271. https://doi.org/10.1016/s0031-9422(01)00192-3
].Umoh dan kolega (2022) [
10Umoh, R. A., Johnny, I. I., Andy, N. A., Udoh, A. E., Ashibeshi, G. U., & Ekpo, T. E. (2022). Pharmacognostic and Taxonomic Studies of the Leaf of Ageratum houstonianum Mill. (Compositae). Asian Journal of Research in Crop Science, 22–29. https://doi.org/10.9734/ajrcs/2022/v7i230137
] melaporkan bahwa minyak atsiri dan ekstrak bagian atas tanaman menunjukkan aktivitas antijamur, antimikroba, bahkan efek pembunuh nyamuk. Senyawa utamanya, procene-1 dan procene-2, memperlihatkan potensi sebagai insektisida nabati. Ekstrak metanolnya pun tercatat memiliki kemampuan mempercepat penyembuhan luka.![]() |
| Tanaman piji (Ageratum houstonianum) di Dusun Maron RT 14 RW 08 Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang |
Catatan Kehati-hatian
Meski bermanfaat bagi manusia, tanaman ini tidak sepenuhnya aman bagi hewan ternak. Kandungan alkaloid pyrrolizidine di dalamnya dapat menyebabkan lesi hati jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Karena itu, julukan wedusan - yang juga berkonotasi sebagai pakan kambing - perlu disikapi dengan bijak.
Di tepi pagar sederhana di Pujon Kidul, tanaman piji tumbuh tanpa banyak perhatian. Ia hadir sebagai bunga liar yang setia mekar, seolah menolak menjadi tua - sesuai makna namanya.
Di antara stigma sebagai gulma dan potensi sebagai obat, Ageratum houstonianum mengajarkan bahwa setiap tumbuhan menyimpan kisah: tentang perjalanan lintas benua, adaptasi yang gigih, dan manfaat yang menunggu untuk dikenali. *** [260226]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar